
GAZA – Serangan udara Israel yang menghantam wilayah Jalur Gaza dilaporkan telah menewaskan sedikitnya 31 orang sejak Sabtu (31/1/2026) pagi.
Insiden berdarah ini terjadi di tengah meningkatnya eskalasi kekerasan, tepat sehari sebelum rencana pembukaan kembali Penyeberangan Rafah yang menghubungkan Gaza dengan Mesir.
Laporan dari saluran televisi Al Jazeera yang mengutip sumber medis setempat menyebutkan bahwa serangan intensif tersebut menyasar berbagai titik di wilayah yang terkepung itu.
Pembukaan kembali Penyeberangan Rafah yang dijadwalkan pada hari Minggu ini sangat dinantikan karena merupakan akses vital bagi pergerakan manusia dan penyaluran bantuan kemanusiaan yang sempat terhenti total sejak Mei 2024.
Sementara itu, dinamika politik internasional terus bergulir dengan adanya inisiatif baru dari pemerintahan Amerika Serikat di bawah Presiden Donald Trump.
Pada pertengahan Januari lalu, Utusan Khusus Presiden AS, Steve Witkoff, mengumumkan dimulainya tahap kedua dari rencana 20 poin Trump untuk mengakhiri perang, yang mencakup demiliterisasi dan rekonstruksi Gaza.
Presiden Trump juga baru saja meluncurkan Dewan Perdamaian (Board of Peace) yang diklaim akan bekerja sama dengan PBB untuk menangani krisis global, termasuk memastikan Gaza dibangun kembali di bawah pemerintahan teknokratis.
“Kami berkomitmen untuk memastikan Gaza didemiliterisasi, dikelola dengan baik, dan dibangun kembali dengan indah,” ujar Trump saat peluncuran dewan tersebut di sela-sela Forum Ekonomi Dunia, Kamis (22/1/2026).
Laporan: Hendri | Editor: Kristoforus