Didakwa Pasal Berlapis, Ferdinand Bisa Dimaafkan Jika Benar Dia Mualaf

pranusa.id February 17, 2022

Foto Ferdinand Hutahaean: Ricardo/JPNN.

PRANUSA.ID — Proses hukum Ferdinand Hutahaean hingga saat ini masih terus berlanjut. Persidangan terbaru digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat pada Selasa lalu (15/2/2022).

Dalam sidang terbaru tersebut, Ferdinand didakwa pasal berlapis oleh Jaksa Penuntut Umum (JPU). Ia didakwa melakukan ujaran kebencian berdasarkan SARA serta dianggap melanggar tindak pidana Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE).

Cuitannya di media sosial Twitter-nya terkait ‘Allahmu Lemah’ dinilai jaksa berpotensi memicu keonaran dan keresahan di tengah masyarakat.

Mengomentari kasus hukum yang menjerat mantan politisi Partai Demokrat tersebut, Presiden Asosiasi Ahli Pidana Indonesia (AAPI), Muhammad Taufiq menilai Ferdinand hanya bisa mendapatkan keringanan hukuman apabila klaimnya yang mengaku dirinya seorang mualaf itu terbukti benar.

Sebaliknya, jika klaim Ferdinand ternyata tidak benar dan ia bukan seorang Muslim, maka pidana yang telah divonis tidak bisa lagi ditawar.

“Kalau dia tegas bahwa dia seorang non Muslim dan dia tahu itu akan berakibat, maka itu perbuatan pidana. Tapi kalau dia seorang Muslim apalagi mualaf, ya harus kita maafkan,” kata Muhammad Taufiq dalam sebuah video yang tayang di kanal YouTube Refly Harun, Kamis (17/2/2022).

Menurutnya, dakwaan terhadap Ferdinand tidak bisa dilakukan secara serta merta, sejumlah aspek termasuk keyakinan yang dianut Ferdinand mesti jadi pertimbangan.

“Kalau memang dia seorang non Muslim, dia mengatakan seperti itu, berarti dia kan sadar bahwa ucapan saya ini untuk siapa,” tutur dia.

“Kalau dia tidak Muslim, secara sadar berarti mengerti benar ke mana sasaran saya dan itu masuk penghinaan terhadap kelompok sebagaimana Pasal 28 ayat (2) UU ITE,” tambahnya.

Untuk diketahui, JPU mendakwa Ferdinand Hutahaean dengan Pasal 14 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1946 tentang Peraturan Hukum Pidana atau Pasal 45A ayat (2) jo Pasal 28 ayat (2) Undang-Undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) atau Pasal 156 atau Pasal 156a huruf a KUHP.

Penulis: Jessica C. Ivanny
Editor: Bagas R.

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Gelontorkan Rp25 Miliar untuk Rumah Dinas, Gubernur Kaltim: Biar Enggak Nginap di Hotel
JAKARTA, PRANUSA.ID – Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, membenarkan…
Banjir Bandang Susulan Terjang Aceh Tengah, Dua Jembatan Darurat Ambruk dan Lima Desa Terisolasi
TAKENGON, PRANUSA.ID – Bencana banjir bandang susulan yang menerjang wilayah…
Marak Digunakan untuk Teror ke Masyarakat, Komisi III DPR RI Minta Pemerintah Batasi Penjualan Air Keras
JAKARTA, PRANUSA.ID – Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, mendesak…
Gelombang Serangan ke-98, IRGC Iran Klaim Hantam Kapal Israel dan Pukul Mundur USS Tripoli
TEHERAN, PRANUSA.ID – Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolution…
Eks Wamenaker Noel Peringatkan PDIP Sedang Diburu ‘Anjing Liar’
JAKARTA, PRANUSA.ID – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer…
IMG-20260404-WA0015
IMG-20260402-WA0019
IMG-20260404-WA0019