FOTO: Romo Rektor Agustinus Sugiyo Pitoyo, SJ
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID- Pendidikan bukan sekadar urusan sekolah dalam menyampaikan pengetahuan, melainkan perjalanan bersama untuk mendampingi anak bertumbuh menjadi pribadi yang matang, bebas, dan bertanggung jawab.
Dalam perjalanan itu, keluarga dan sekolah perlu saling percaya, membuka ruang dialog, serta berjalan searah dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan.
Semangat inilah yang mendasari pertemuan orang tua siswa SMA Kolese De Britto Yogyakarta pada 7–9 Oktober 2026.
Pertemuan dilaksanakan secara bertahap, yakni kelas X pada Rabu (7/10), kelas XI pada Kamis (8/10), dan kelas XII pada Jumat (9/10).
Pembagian jadwal berdasarkan jenjang ini memberi ruang bagi sekolah dan orang tua untuk memahami kebutuhan pendampingan siswa sesuai tahap perkembangannya.
Kelas X menjalani masa adaptasi, kelas XI memasuki masa sosialisasi, sedangkan kelas XII berada dalam tahap internalisasi nilai-nilai yang telah dipelajari dan dialami selama menempuh pendidikan di De Britto.
Ketua Pengurus Yayasan De Britto, sekaligus Rektor Yayasan De Britto, Romo Agustinus Sugiyo Pitoyo SJ, dalam pertemuan kelas X menegaskan pentingnya keseimbangan antara ketegasan dan kelembutan dalam mendampingi anak.
Ketegasan diperlukan untuk membantu anak memahami batas, membangun disiplin, dan bertanggung jawab atas pilihan serta tindakannya.
Namun, ketegasan perlu berjalan bersama kelembutan yang menghadirkan kasih, penerimaan, dan kesediaan untuk mendengarkan.
Orang tua dan sekolah, menurutnya, perlu berani memberikan arahan serta koreksi tanpa mengabaikan penghargaan terhadap pribadi anak.
Pendidikan bukan semata-mata menuntut anak menjadi baik, melainkan menemani mereka menyadari kesalahan, belajar dari pengalaman, dan memperbaiki diri.
Dengan pendampingan yang tepat, anak diharapkan mampu mengembangkan kebebasan yang disertai tanggung jawab.

Kepala SMA Kolese De Britto Yogyakarta, R. Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., menjelaskan bahwa pendidikan di De Britto dirancang melalui tiga fase formasi yang berkesinambungan, yakni adaptasi, sosialisasi, dan internalisasi.
Ketiganya menjadi proses untuk membantu siswa tidak hanya memahami nilai-nilai yang diperjuangkan sekolah, tetapi juga menghidupinya dalam keseharian.
Pada kelas X, siswa didampingi untuk mengenal lingkungan, budaya, dan pola pembelajaran sekolah. Di kelas XI, mereka diajak memperluas pengalaman, membangun relasi, dan mengembangkan diri melalui berbagai kegiatan formasi.
Sementara itu, di kelas XII, siswa diharapkan mampu menginternalisasi nilai-nilai tersebut sehingga tercermin dalam cara berpikir, bersikap, mengambil keputusan, dan bertindak.
Proses formasi diwujudkan melalui pembelajaran di kelas, pendampingan wali kelas, kegiatan kesiswaan, pendalaman spiritual, pengembangan diri, serta pengalaman pelayanan.
Melalui proses tersebut, pendidikan diharapkan mampu membentuk pribadi yang bebas, bertanggung jawab, dan siap hadir bagi sesama.
Pertemuan juga diisi dengan penyampaian informasi kurikulum oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum, Ratna Dwi Astuti, M.Pd., serta informasi kesiswaan oleh Wakil Kepala Sekolah Bidang Kesiswaan, Romo Harry Setianto Sunaryo SJ.
Kedua materi tersebut membantu orang tua memahami proses pembelajaran, kebijakan sekolah, dan dinamika kehidupan siswa.
Setelah pemaparan materi, orang tua memperoleh kesempatan menyampaikan pertanyaan melalui sesi dialog. Sosialisasi Tim Pagar Doa turut menjadi bagian dari rangkaian pertemuan kelas X, XI, dan XII.
Kehadiran tim ini menegaskan bahwa pendampingan pendidikan juga mencakup dimensi spiritual, kepedulian, dan dukungan doa bagi pertumbuhan siswa.
Rangkaian kegiatan ditutup dengan pertemuan bersama wali kelas di ruang kelas masing-masing. Dialog ini menjadi kesempatan untuk membangun komunikasi yang lebih dekat antara orang tua dan guru, sekaligus memperkuat kepercayaan dalam mendampingi perkembangan anak.
Pertemuan tersebut menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak hanya diukur dari nilai akademik atau prestasi, tetapi juga dari kemampuan siswa mengenali diri, menghargai sesama, mengambil keputusan secara bertanggung jawab, dan menggunakan potensinya demi kebaikan bersama.
Sekolah dan keluarga memiliki peran berbeda, tetapi bertemu dalam tujuan yang sama: mendampingi anak menjadi pribadi yang utuh.
Sebab, mendidik bukan sekadar mengantarkan anak menuju keberhasilan hari ini, melainkan merawat kepercayaan dan menemani pertumbuhannya agar kelak mampu mengambil bagian secara bermakna dalam kehidupan masyarakat.
Laporan: Chr. Danang Wahyu Prasetio | Editor: Arya