
BELU, PRANUSA.ID – Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) Emanuel Melkiades Laka Lena mendorong transformasi pola produksi masyarakat desa dari sekadar menjual bahan mentah menjadi penghasil produk olahan bernilai tambah.
Dorongan tersebut disampaikannya saat melakukan kunjungan kerja di Desa Teun, Kecamatan Raimanuk, Kabupaten Belu, pada Minggu (29/3/2026) malam.
Kunjungan lanjutan setelah dari Kabupaten Malaka ini menitikberatkan pada program “SMK Membangun Desa”, yakni sebuah intervensi Pemerintah Provinsi NTT untuk mengintegrasikan Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) dengan desa guna memperkuat perekonomian berbasis potensi lokal.
Dalam pemaparannya, Gubernur Melki menyoroti bahwa rendahnya pendapatan masyarakat selama ini lebih disebabkan oleh pola ekonomi yang berfokus pada penjualan bahan mentah, bukan karena minimnya sumber daya.
“Selama ini kita tanam, panen, lalu langsung jual sehingga nilai tambahnya kecil, maka sekarang harus diubah dengan cara diolah dan dikemas dengan baik baru dijual supaya harganya naik,” urainya.
Ia mengambil contoh komoditas lokal seperti jagung, umbi-umbian, kacang-kacangan, minuman tradisional, hingga tenun ikat yang sebenarnya memiliki potensi besar apabila diolah serta dikemas secara profesional.
Produk sederhana seperti jagung pun dinilai mampu memiliki nilai jual yang jauh lebih tinggi ketika diubah menjadi makanan siap konsumsi semacam popcorn.
“Produk yang sama, kalau dikemas bagus dan lolos standar seperti BPOM, harganya bisa berkali lipat sehingga hal itu yang harus kita kejar,” jelasnya.
Gubernur turut menekankan posisi strategis Kabupaten Belu sebagai kawasan perbatasan dengan Timor Leste yang memiliki perputaran arus perdagangan tinggi.
Kondisi geografis tersebut semestinya dimanfaatkan sebagai peluang besar agar produk lokal bisa menembus pasar lintas batas, bukan malah didominasi oleh barang dari luar daerah.
“Perbatasan ini transaksi hariannya besar sekali, jadi jangan sampai kita hanya jadi penonton sementara barang dari luar yang menguasai pasar,” tegasnya.
Lebih lanjut, Melki mengungkap adanya masalah serius terkait defisit perdagangan daerah yang menyebabkan sekitar Rp51 triliun uang masyarakat NTT mengalir ke luar setiap tahunnya akibat ketergantungan pada produk eksternal.
“Pinang saja kita beli dari luar sampai ratusan miliar rupiah, padahal kita bisa tanam sendiri dan ini yang harus kita ubah,” terangnya.
Ia juga memaparkan bahwa dari total APBD provinsi dan kabupaten/kota di NTT yang berkisar di angka Rp30 triliun, sebagian besarnya terserap habis untuk belanja pegawai sehingga perputaran ekonomi riil di tengah masyarakat menjadi sangat terbatas.
Oleh sebab itu, perputaran uang di dalam daerah perlu dijaga melalui peningkatan produksi dan konsumsi produk lokal, salah satunya lewat instrumen penguatan jaringan pemasaran seperti NTT Mart.
“Kita harus bangga beli produk NTT, karena kalau kita terus beli dari luar uang kita keluar terus, tapi kalau kita produksi sendiri uang berputar di sini,” paparnya.
Program “SMK Membangun Desa” sendiri sengaja dirancang untuk memperkokoh penerapan konsep One Village One Product, One School One Product, dan One Community One Product yang menuntut setiap entitas memiliki produk unggulannya masing-masing.
SMK diharapkan mampu mengambil peran sebagai pusat produksi sekaligus inovasi, tidak sekadar menjadi institusi pendidikan yang berfokus pada teori semata.
“Kita butuh sekolah yang tidak hanya teori, tapi langsung produksi, bahkan kalau bisa SMK di Belu harus berani jadi sekolah internasional karena kita di perbatasan,” cetusnya.
Melki menambahkan bahwa transformasi ekonomi tidak akan pernah terwujud tanpa adanya tekad kuat dari masyarakat itu sendiri untuk berubah.
“Tidak ada orang datang ubah nasib kita, kalau cara lama tidak membuat kita sejahtera berarti harus kita ubah dan kuncinya ada di kita sendiri,” tuturnya.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT, Ambrosius Kodo, menerangkan bahwa pelaksanaan kegiatan ini merupakan wujud kolaborasi antara pemerintah desa dengan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS) SMK Kabupaten Belu.
Kegiatan yang diselenggarakan sejak 29 Maret hingga 1 April 2026 ini memusatkan pelatihannya pada keterampilan menenun ikat, menjahit, serta pengolahan pangan lokal dengan menyasar masyarakat desa, khususnya anak-anak putus sekolah.
“Program ini bertujuan meningkatkan kompetensi masyarakat, mengembangkan ekonomi kreatif berbasis kearifan lokal, serta mendorong kemandirian ekonomi desa,” rincinya.
Seluruh pembiayaan bersumber dari APBD Provinsi NTT melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, sementara tenaga pendampingnya melibatkan guru dari SMK yang tergabung dalam MKKS serta mendapat dukungan langsung dari SMK Negeri 3 Kupang.
Dalam kesempatan yang sama, Penjabat Sekretaris Daerah Kabupaten Belu, Elly Ch. Rambitan, menyatakan dukungan penuh jajarannya terhadap program ini sebagai langkah riil dalam menekan angka kemiskinan perdesaan.
“Kami berharap masyarakat, terutama anak-anak putus sekolah, benar-benar memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan keterampilan dan pendapatan keluarga,” harap Elly.
Antusiasme warga Desa Teun tampak sangat tinggi dalam mengikuti rangkaian pelatihan hingga malam hari meski di tengah berbagai keterbatasan sarana.
Pada akhir sambutannya, Gubernur kembali mengingatkan bahwa kunci utama menyukseskan program ini terletak pada konsistensi masyarakat untuk mengubah pola produksi secara perlahan dari hal-hal kecil.
“Mulai dari yang kita bisa dan jangan menyerah, karena kalau kita konsisten, ekonomi desa pasti bergerak dan masyarakat akan lebih sejahtera,” pungkasnya.
Acara tersebut kemudian dilanjutkan dengan sesi penyerahan bantuan sarana peralatan sekaligus pelatihan dari Pemerintah Provinsi NTT kepada Kepala Desa Teun yang diberikan langsung oleh Gubernur Melki Laka Lena.
Turut hadir mendampingi Gubernur dalam agenda tersebut antara lain Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan NTT Ambrosius Kodo, Kepala Dinas Pemuda dan Olahraga NTT Alfonsius Theodorus, Staf Ahli Gubernur Bidang Perekonomian dan Pembangunan Lery Rupidara, Sekretaris BPBD Johanes Takadosi, serta Plt. Kepala Bapenda NTT Johny Ericson Ataupah.
Laporan: Marsianus | Editor: Arya