
ENDE, PRANUSA.ID — Sebanyak 17 petak sawah milik Amatus Setu (72), warga Desa Dile, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berubah bentuk menjadi terasering akibat pengerjaan proyek preservasi jalan Ende–Wolowaru oleh kontraktor pelaksana PT Bina Citra Teknik Cahaya.
Kurang lebih satu tahun berlalu sejak pengerjaan proyek tersebut, pihak kontraktor dilaporkan belum memberikan kompensasi maupun ganti rugi kepada pemilik lahan.
Kondisi ini memicu protes dari berbagai pihak. Pasalnya, lahan sawah tersebut kini rusak total dan tidak dapat difungsikan kembali untuk berproduksi. Dampaknya, ekonomi keluarga korban terganggu hingga harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.
Kepala Desa Dile, Fabianus Mbana, menegaskan bahwa berdasarkan berita acara saat sosialisasi awal, pihak kontraktor sebelumnya berjanji akan membentuk kembali petak-petak sawah milik warga yang terdampak. Namun hingga kini, janji tersebut belum direalisasikan.
“Apa yang sudah termuat di dalam berita acara, pihak kontraktor harus merealisasikannya,” tegas Fabianus saat ditemui di kediamannya, Jumat (16/10/2026).
Terkait besaran nominal tuntutan ganti rugi, Fabianus menjelaskan bahwa hal itu merupakan ranah negosiasi langsung antara pemilik lahan dan pihak kontraktor. Pihak pemerintah desa berpatokan pada kesepakatan tertulis yang tertuang dalam berita acara.
“Saya tidak mau masuk ke angka nominal uang, itu negosiasi secara empat mata. Namun secara berita acara, pihak kontraktor harus bertanggung jawab,” jelasnya.
Lebih lanjut, Fabianus menegaskan komitmennya selaku pimpinan wilayah untuk mendampingi dan melindungi warga dalam memperjuangkan hak serta keadilan atas dampak pengerjaan proyek tersebut.
“Harapan saya, pihak kontraktor harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan. Ini dampak yang sangat merugikan masyarakat,” tuturnya.
Selain merusak lahan pertanian warga, lalu lalang alat berat selama pengerjaan proyek juga merusak akses jalan setapak menuju kampung. Janji kontraktor untuk menyalurkan material perbaikan berupa semen, pasir, dan kerikil pun belum dipenuhi hingga saat ini.
“Jalan setapak juga rusak. Janjinya mau diantar semen, pasir, dan kerikil sampai hari ini belum ada. Yang baru terealisasi hanya bantuan pipa air,” pungkas Fabianus.
Laporan: Marsianus | Editor: Arya