Lahan Sawah Milik Warga Hilang Akibat Proyek, Kepala Desa Dile Desak PT BCTC BertanggungJawab

pranusa.id October 19, 2026

FOTO: Kepala Desa Dile, Fabianus Mbana

ENDE, PRANUSA.ID — Sebanyak 17 petak sawah milik Amatus Setu (72), warga Desa Dile, Kecamatan Detusoko, Kabupaten Ende, berubah bentuk menjadi terasering akibat pengerjaan proyek preservasi jalan Ende–Wolowaru oleh kontraktor pelaksana PT Bina Citra Teknik Cahaya.

Kurang lebih satu tahun berlalu sejak pengerjaan proyek tersebut, pihak kontraktor dilaporkan belum memberikan kompensasi maupun ganti rugi kepada pemilik lahan.

Kondisi ini memicu protes dari berbagai pihak. Pasalnya, lahan sawah tersebut kini rusak total dan tidak dapat difungsikan kembali untuk berproduksi. Dampaknya, ekonomi keluarga korban terganggu hingga harus membeli beras untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

Kepala Desa Dile, Fabianus Mbana, menegaskan bahwa berdasarkan berita acara saat sosialisasi awal, pihak kontraktor sebelumnya berjanji akan membentuk kembali petak-petak sawah milik warga yang terdampak. Namun hingga kini, janji tersebut belum direalisasikan.

“Apa yang sudah termuat di dalam berita acara, pihak kontraktor harus merealisasikannya,” tegas Fabianus saat ditemui di kediamannya, Jumat (16/10/2026).

Terkait besaran nominal tuntutan ganti rugi, Fabianus menjelaskan bahwa hal itu merupakan ranah negosiasi langsung antara pemilik lahan dan pihak kontraktor. Pihak pemerintah desa berpatokan pada kesepakatan tertulis yang tertuang dalam berita acara.

“Saya tidak mau masuk ke angka nominal uang, itu negosiasi secara empat mata. Namun secara berita acara, pihak kontraktor harus bertanggung jawab,” jelasnya.

Lebih lanjut, Fabianus menegaskan komitmennya selaku pimpinan wilayah untuk mendampingi dan melindungi warga dalam memperjuangkan hak serta keadilan atas dampak pengerjaan proyek tersebut.

“Harapan saya, pihak kontraktor harus bertanggung jawab atas kerusakan yang ditimbulkan. Ini dampak yang sangat merugikan masyarakat,” tuturnya.

Selain merusak lahan pertanian warga, lalu lalang alat berat selama pengerjaan proyek juga merusak akses jalan setapak menuju kampung. Janji kontraktor untuk menyalurkan material perbaikan berupa semen, pasir, dan kerikil pun belum dipenuhi hingga saat ini.

“Jalan setapak juga rusak. Janjinya mau diantar semen, pasir, dan kerikil sampai hari ini belum ada. Yang baru terealisasi hanya bantuan pipa air,” pungkas Fabianus.

Laporan: Marsianus | Editor: Arya

a34a305b-0230-41ea-a533-3e9cf5b7fbca
Berita Lainnya
Kemhut Sanksi 32 Perusahaan Imbas Karhutla 12 Ribu Hektare, Sembilan Ada di Kalbar
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kementerian Kehutanan menjatuhkan sanksi administratif terhadap 32…
Dua Tahun Prabowo-Gibran, Survei Poltracking Catat Kepuasan Publik 55,3 Persen
JAKARTA, PRANUSA.ID — Lembaga survei Poltracking Indonesia merilis hasil evaluasi…
Ungguli Gibran dalam Survei PPI, Dedi Mulyadi Puncaki Simulasi Elektabilitas Cawapres 2029
JAKARTA, PRANUSA.ID — Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi memuncaki simulasi…
Aksi Protes Biaya Hidup Berujung Rusuh di Prancis, Presiden Macron Minta Warga Jaga Ketertiban
PARIS, PRANUSA.ID — Presiden Prancis Emmanuel Macron mendesak seluruh masyarakat…
SMP Budya Wacana Gelar Bulan Bahasa 2026, Usung Tema ‘Terampil Berbahasa, Lestarikan Budaya’
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — SMP Budya Wacana Yogyakarta menggelar rangkaian kegiatan…