
JAKARTA – Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, secara resmi memberikan jaminan terkait ketersediaan pasokan avtur dan bahan bakar minyak (BBM) untuk operasional transportasi nasional.
Ia memastikan bahwa cadangan energi primer tersebut akan tetap aman selama berlangsungnya periode angkutan Lebaran 1447 Hijriah.
Kepastian ini diberikan oleh pihak pemerintah di tengah kekhawatiran publik mengenai dampak gejolak geopolitik yang sedang memanas di kawasan Timur Tengah.
Dudy menjelaskan bahwa cadangan avtur dan BBM nasional saat ini dinilai masih sangat mencukupi untuk memenuhi lonjakan permintaan.
Dengan ketahanan stok tersebut, seluruh layanan transportasi publik, baik di sektor udara, darat, maupun laut, dipastikan dapat beroperasi secara normal melayani pemudik.
“Alhamdulillah, sampai Lebaran masih aman, karena cadangan avtur kita atau BBM kita masih cukup,” kata Dudy dalam pertemuan bersama awak media di Jakarta, Jumat (6/3/2026).
Pernyataan penegasan tersebut juga disampaikan Menhub sebagai respons atas penjelasan Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, mengenai ketahanan stok BBM nasional yang sebelumnya disebut berada di kisaran 21 hari.
Dudy meluruskan pemahaman publik dengan memaparkan bahwa angka 21 hari tersebut merupakan representasi dari total kapasitas penyimpanan (storage) infrastruktur yang tersedia saat ini.
Artinya, angka tersebut tidak mengindikasikan bahwa cadangan bahan bakar negara akan benar-benar habis total dalam kurun waktu 21 hari.
“Jadi, 21 hari ini dimaknai bukan 21 hari habis, tapi kita harus maintenance bahwa 21 hari itu adalah batas minimum yang harus kita sediakan,” jelasnya.
Jika volume stok di tangki penyimpanan terpantau mulai berkurang, pasokan akan segera ditambah melalui skema koordinasi intensif antara pihak Pertamina dan Kementerian ESDM.
Menhub juga menambahkan bahwa pemerintah telah menyiapkan opsi mitigasi apabila sewaktu-waktu terjadi gangguan pasokan minyak dari pasar global.
Meskipun sekitar 20 persen jalur distribusi minyak dunia harus melewati Selat Hormuz, ia mengingatkan bahwa sumber pasokan energi global tidak hanya bergantung pada satu kawasan tersebut.
“Kalau ada gangguan, berarti kita masih ada tempat-tempat lain yang bisa mendapatkan BBM tersebut,” ujarnya.
Pemerintah pusat melalui kementerian terkait kini terus memantau dinamika kondisi pasokan energi global secara saksama.
Langkah pengawasan ini dilakukan secara ketat guna memastikan agar kelancaran distribusi bahan bakar bagi operasional transportasi mudik nasional tidak terganggu.
Sebagai konteks informasi, Menteri ESDM Bahlil Lahadalia sebelumnya juga telah memberikan klarifikasi serupa mengenai rumor menipisnya stok BBM nasional akibat konflik Timur Tengah.
Menurut keterangan Bahlil, rentang waktu 21 hingga 25 hari memang sudah lama menjadi standar kapasitas maksimal operasional penyimpanan BBM di Indonesia.
Dalam rapat terakhir bersama Dewan Energi Nasional (DEN), rata-rata ketahanan stok BBM nasional bahkan tercatat aman berada pada kisaran 22 hingga 23 hari.
Ia menegaskan bahwa keterbatasan durasi cadangan tersebut semata-mata diakibatkan oleh kapasitas infrastruktur fisik tangki penyimpanan yang masih sangat terbatas, bukan karena krisis pasokan.
“Kalau kita mau tambah, kita simpan di mana? Storage-nya memang belum cukup,” kata Bahlil.
Laporan: Severinus | Editor: Michael