Apa yang Terjadi saat Resesi Terjadi? Begini Risiko dan Penyebabnya | Pranusa.ID

Apa yang Terjadi saat Resesi Terjadi? Begini Risiko dan Penyebabnya


Ilustrasi.

Resesi ekonomi menjadi hantu menyeramkan bagi seluruh negara di dunia, termasuk Indonesia. Ekonomi dunia saat ini memang sedang baik-baik saja, terutama selepas pandemi Covid-19 mereda.

Melihat laporan perkembangan ekonomi global yang mengkhawatirkan, semakin sadar bahwa jurang krisis dan resesi ada di depan mata.

Komoditas energi yang melesat membuat inflasi melambung tinggi. Panasnya inflasi bikin bank sentral dunia memutuskan mengetatkan kebijakan moneter dengan menaikkan suku bunga. Pada akhirnya, ini dianggap sebagai pemantik resesi.

Lantas, apa itu resesi ekonomi? Berikut pengertian, penyebab, dan dampak resesi ekonomi.

Pengertian Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi diartikan sebagai penurunan aktivitas ekonomi yang signifikan dalam waktu stagnan dan lama, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun. Resesi ekonomi bisa memicu penurunan keuntungan perusahaan, meningkatnya pengangguran, hingga kebangkrutan ekonomi.

Secara umum, resesi terjadi ketika ekonomi tumbuh negatif dua kuartal beruntun. Pada 2020 lalu dunia mengalami resesi akibat pandemi Covid-19, menyebabkan berkurangnya lapangan kerja dan banyak pegawai dirumahkan. Tanpa aktivitas dan mobilitas manusia, roda ekonomi pun macet.

Penyebab Resesi Ekonomi

Resesi ekonomi ditandai dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB) dalam dua kuartal beruntun. Penyebab terjadinya resesi adalah hal-hal terkait ekonomi dan teknologi yang saling berkaitan. Berikut penjelasan lengkap penyebab resesi ekonomi:

– Guncangan Ekonomi
Guncangan ekonomi yang mendadak, seperti pandemi Covid-19 merupakan salah satu penyebab resesi ekonomi. Ini ditandai dengan lemahnya daya beli akibat kesulitan finansial.

Selain resesi, guncangan ekonomi juga bisa menyebabkan berbagai masalah ekonomi serius, seperti tumpukan utang. Utang yang banyak membuat biaya pelunasannya meninggi, bahkan hingga sampai ke titik tidak mampu melunasinya lagi.

– Inflasi
Penyebab resesi ekonomi selanjutnya adalah inflasi. Pada 2020 lalu dunia mengalami resesi akibat pandemi Covid-19, sekarang resesi terjadi karena tingginya inflasi akibat harga komoditas energi yang melesat.

Inflasi merupakan kondisi naiknya harga barang dan jasa selama periode tertentu. Inflasi yang berlebihan membuat daya beli masyarakat melemah. Di lain sisi, produksi barang dan jasa bakal menurun. Ini masuk dalam kategori berbahaya karena akan memicu pengangguran, kemiskinan, dan berujung pada resesi.

– Tingginya Suku Bunga
Inflasi yang melambung membuat bank sentral menaikkan suku bunganya. Masalahnya, dua hal tersebut diperparah dengan daya beli yang mulai lesu dan bakal menjadi pemantik resesi.

– Suku bunga yang tinggi berfungsi untuk melindungi nilai mata uang, tapi ini akan membebani debitur dan menyebabkan kredit macet. Jika terjadi secara besar-besaran, perbankan bisa kolaps.

– Deflasi
Tak hanya inflasi, deflasi juga bisa menyebabkan resesi ekonomi. Deflasi ditandai dengan turunnya harga barang atau jasa. Sekilas deflasi bisa meningkatkan daya beli masyarakat, tapi jika terjadi berlebihan akan merugikan penyedia barang dan jasa.

Penurunan harga terus-menerus bisa membuat konsumen menunda pembelian dan menunggu hingga nominal terendah. Jika ini terjadi, daya beli justru melemah dan aktivitas produksi berkurang. Ketika individu dan unit bisnis berhenti mengeluarkan uang, ekonomi bakal rusak.

– Gelembung Aset Pecah
Gelembung aset juga menjadi salah satu penyebab resesi ekonomi. Fenomena gelembung aset biasanya terjadi di pasar saham dan properti. Investor mengambil keputusan gegabah yang akhirnya merusak pasar.

Mereka membeli banyak saham atau menumpuk properti dengan spekulasi bahwa harganya akan terus naik di masa depan. Namun, gelembung aset itu bakal ramai-ramai dijual ketika kondisi ekonomi sedang berantakan atau disebut panic selling. Jika ini terjadi, resesi ekonomi bakal makin dekat.

– Perkembangan Teknologi
Penyebab resesi ekonomi tak hanya dari sektor ekonomi secara langsung, tapi juga berkaitan dengan teknologi. Adanya revolusi industri dikhawatirkan membuat Artificial Intelligence (AI) dan robot akan menggantikan banyak pekerjaan manusia. Jika ini terjadi, banyak pekerja yang berpotensi menjadi pengangguran dan resesi tak terhindarkan.

Ciri-ciri Resesi Ekonomi
Setelah paham pengertian dan penyebab, mari mengenal ciri-ciri resesi ekonomi. Ini penting agar Anda tahu harus berbuat apa ketika terjadi resesi ekonomi. Berikut ciri-ciri resesi ekonomi:

• Pertumbuhan Ekonomi Negatif
Seperti yang sudah dijelaskan pada pengertian resesi ekonomi, kondisi ini terjadi ketika pertumbuhan ekonomi suatu negara negatif hingga dua kuartal berturut-turut. Kondisi ini biasanya dipengaruhi oleh ketidakstabilan investasi, konsumsi, pendapatan nasional, pengeluaran, dan ekspor-impor. Jika ini terjadi, resesi sulit untuk dihindari.

• Impor Lebih Besar Dibanding Ekspor
Kondisi ekspor-impor berpengaruh terhadap pertumbuhan ekonomi suatu negara. Jika impor lebih besar dibanding ekspor, itu bisa jadi ciri-ciri resesi ekonomi. Ketika suatu negara lebih banyak mendatangkan berbagai kebutuhan dari luar negeri, ada risiko defisit anggaran. Jika ini terjadi, pendapatan nasional menurun dan bisa menyebabkan resesi.

• Turunnya Lapangan Kerja
Turunnya lapangan kerja membuat semakin banyak pengangguran dan menunjukkan lemahnya ekonomi suatu negara. Jika ini terjadi, tingkat kriminalitas berpotensi meroket. Semakin banyak tindak kriminal, investor bisa kehilangan kepercayaan untuk menanamkan modal dan pada akhirnya negara berpeluang jatuh ke jurang resesi.

• Produksi dan Konsumsi Tidak Seimbang
Produksi dan konsumsi yang tidak seimbang juga menjadi ciri-ciri resesi ekonomi. Jika produksi berlebih, stok barang bakal menumpuk. Sementara, konsumsi yang lebih banyak dibanding produksi berpotensi mendorong impor besar-besaran.

Jadi, kondisi produksi dan konsumsi yang tidak seimbang bisa membuat pengeluaran membengkak dan laba perusahaan dalam negeri menipis. Kondisi ini tentu memicu resesi.

Dampak Resesi Ekonomi
Resesi ekonomi jelas bukan sesuatu yang diharapkan dalam perekonomian. Resesi ekonomi tidak hanya berdampak kepada pemerintah, tetapi juga perusahaan hingga kehidupan individu. Berikut penjelasan dampak resesi ekonomi:

• Dampak Resesi Ekonomi untuk Pemerintah
Resesi ekonomi membuat pendapatan negara dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah. Ini karena penghasilan masyarakat menurun hingga harga properti yang anjlok dan akhirnya memicu rendahnya jumlah PPN ke kas negara.

Ketika pendapatan negara sedang merosot, pemerintah tetap dituntut membuka lapangan kerja sebanyak mungkin karena jumlah pengangguran yang meningkat. Akibatnya, pinjaman ke bank asing bakal meroket.

Selain itu, pembangunan tetap dituntut untuk terus berjalan di berbagai sektor pemerintahan, termasuk menjamin kesejahteraan rakyat. Pada akhirnya, penurunan pendapatan pajak dan meningkatnya pembayaran kesejahteraan mengakibatkan defisit anggaran serta tingginya utang pemerintah.

• Dampak Resesi Ekonomi untuk Perusahaan
Bisnis berpotensi bangkrut saat terjadi resesi ekonomi. Ketika terjadi resesi ekonomi, daya beli masyarakat menurun dan pendapatan perusahaan bakal semakin kecil. Kondisi ini yang bakal mengancam kelancaran arus kas.

Perang harga lantas menjadi opsi perusahaan agar terhindar dari kebangkrutan. Namun, langkah ini membuat keuntungan bakal menurun dan harus ditambal dengan melakukan efisiensi. Biasanya, perusahaan bakal menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memotong biaya operasional.

• Dampak ke Pekerja
Sebenarnya, efisiensi yang dilakukan perusahaan ketika terjadi resesi juga berdampak ke pekerja. Menutup area bisnis yang kurang menguntungkan dan memotong biaya operasional berarti melakukan PHK kepada banyak pekerja.

Jika banyak terjadi PHK, berarti pengangguran semakin meningkat. Padahal, mereka dituntut untuk terus memenuhi kebutuhan hidup di tengah resesi ekonomi. Di lain sisi, bagi pekerja yang tidak terkena PHK juga terancam terkena pemotongan upah dan hak kerja lainnya saat resesi ekonomi terjadi.

Cara Mencegah Resesi Ekonomi
Setelah paham dampaknya, Anda perlu tahu bagaimana cara mencegah resesi ekonomi. Pasalnya, resesi ekonomi adalah kondisi yang menakutkan bagi banyak sektor. Ini dia cara mencegah resesi ekonomi:

• Belanja Besar-besaran
Cara mencegah resesi ekonomi adalah dengan memperkuat daya beli melalui belanja besar-besaran. Pemerintah berencana melakukan belanja besar-besaran untuk menghadapi ancaman resesi sehingga permintaan dalam negeri meningkat dan dunia usaha tergerak untuk berinvestasi.

• Bantuan UMKM
UMKM adalah salah satu sektor yang terdampak resesi. Namun, usaha jenis ini memiliki daya tahan lebih baik dibanding perusahaan besar ketika terjadi krisis karena lingkupnya kecil. Jadi, perlu adanya bantuan finansial agar kegiatan produksi tetap berjalan.

• Mengembalikan Kepercayaan Investor
Selain memperkuat daya beli, resesi ekonomi bisa diatasi dengan membuat kebijakan dan proyek-proyek strategis untuk membangun iklim investasi agar investor tertarik menanamkan modalnya kembali.

Daftar Negara Terancam Resesi Ekonomi, Ada Indonesia?

Perusahaan keuangan Amerika Serikat, Bloomberg, merilis 15 negara yang berpotensi mengalami resesi. Apakah Indonesia termasuk? Berikut daftar negara terancam resesi ekonomi:

Sri Lanka
New Zealand
Korea Selatan
Jepang
China
Hongkong
Australia
Taiwan
Pakistan
Malaysia
Vietnam
Thailand
Filipina
Indonesia
India

Benarkah Indonesia Terancam Resesi Ekonomi?

Indonesia seringkali dikaitkan dengan banyak negara yang dianggap terjerat krisis dan resesi. Bahkan, ada juga beberapa analisis yang mengkhawatirkan Indonesia akan terjerat krisis seperti Sri Lanka.

Menteri Keuangan, Sri Mulyani, menegaskan sejumlah indikator ekonomi menunjukkan perekonomian Indonesia masih sangat bagus. Namun, Indonesia harus tetap waspada dan akan terus memonitor potensi resesi.

Merujuk pada data Badan Pusat Statistik (BPS) dan Bank Indonesia, indikator ekonomi Indonesia seperti inflasi, pertumbuhan ekonomi, transaksi berjalan, neraca pembayaran Indonesia (NPI), hingga ekspor impor masih sangat baik. Namun, nilai tukar terus melemah dan menunjukkan kinerja yang buruk.

Andai Indonesia (Amit-amit) Resesi, Apa yang Harus Dilakukan?

Indonesia memang masuk dalam daftar 15 negara yang terancam resesi ekonomi. Namun, berdasarkan survei yang dilakukan oleh Bloomberg, risiko resesi yang akan dihadapi Indonesia terbilang rendah, yakni hanya 3%.

Lantas bagaimana pengelolaan keuangan pribadi agar tahan guncangan resesi? Berikut hal-hal yang bisa Anda lakukan:

• Jangan Boros
• Atur Ulang Pos Pengeluaran
• Mengurangi atau Melunasi Utang
• Mulai Siapkan Dana Darurat
• Siapkan Asuransi
• Cari Pendapatan Lainnya
• Investasi dan Menabung

Sumber: CNBC Indonesia *(cha/cha)

Berita Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Top