
JAKARTA – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat adanya potensi peningkatan signifikan pada produksi beras nasional di awal tahun 2026, yang diprediksi tumbuh sebesar 15,79 persen pada periode Januari hingga Maret dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menjelaskan bahwa lonjakan ini didorong oleh kondisi pertanaman padi yang relatif kondusif serta proyeksi panen yang kuat di berbagai sentra produksi utama.
“Potensi produksi beras khusus untuk potensi pada bulan Januari sampai dengan Maret 2026 diperkirakan ya mencapai 10,16 juta ton atau mengalami peningkatan sebesar 1,39 juta ton atau 15,79% jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya,” ujar Ateng dalam rilis resminya.
Selain beras, BPS juga memproyeksikan kenaikan produksi padi dalam bentuk Gabah Kering Giling (GKG) yang diperkirakan mencapai 17,65 juta ton pada kuartal pertama 2026, atau naik 15,80 persen secara tahunan.
Peningkatan produksi ini sejalan dengan potensi luas panen padi yang diperkirakan mencapai 3,28 juta hektare pada periode Januari-Maret 2026, meningkat 15,32 persen dibandingkan tahun lalu.
Berdasarkan hasil Survei Kerangka Sampel Area (KSA) pada Desember 2025, mayoritas lahan pertanian saat ini berada pada fase standing crop (tanaman tegakan) sebesar 47,33 persen, yang siap dipanen dalam satu hingga tiga bulan ke depan.
Secara spasial, potensi panen terbesar terkonsentrasi di provinsi-provinsi lumbung padi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, Sulawesi Selatan, hingga Sumatera Selatan, dengan sentra produksi utama di tingkat kabupaten meliputi Indramayu, Karawang, Grobogan, hingga Banyuasin.
Laporan: Marsianus | Editor: Michael