
JAKARTA – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa mengakui bahwa laju pemulihan ekonomi nasional berjalan lebih lambat dari perkiraan awal pemerintah. Hal ini disampaikannya saat mengevaluasi kinerja ekonomi pasca-pelantikannya sebagai bendahara negara pada September 2025 lalu.
Purbaya mengungkapkan adanya kesenjangan antara ekspektasi kebijakan dengan realitas di lapangan. Awalnya, ia meyakini perubahan kebijakan yang ditempuh pemerintah akan memberikan dampak perbaikan yang cepat, mengingat ruang fiskal yang dinilai masih tersedia. Namun, implementasi di lapangan menghadapi sejumlah hambatan struktural.
“Kalau kita lihat Agustus-September (kondisi ekonomi) kan turun ke level rendah sekali. Kita tahu kalau tidak dibalik, stabilitas sosial politik akan terganggu,” ujar Purbaya saat ditemui di Jakarta Selatan, Rabu (14/1/2026).
Kendala Likuiditas dan Koordinasi
Salah satu sorotan utama Menkeu adalah efektivitas kebijakan injeksi likuiditas sebesar Rp200 triliun yang sempat tidak berjalan optimal. Menurut perhitungannya, dana tersebut seharusnya mampu mendorong pertumbuhan uang primer (base money) hingga 13 persen dan memacu pertumbuhan kredit hingga dua digit pada akhir tahun.
Namun, realisasinya terkendala oleh penyerapan yang tertunda dan isu komunikasi kebijakan. Purbaya menyebut adanya indikasi “miskomunikasi” atau sinyal kebijakan yang tidak langsung direspons oleh sektor terkait, sehingga penyerapan likuiditas baru terjadi secara bertahap.
“Hitungan saya Rp 200 triliun itu menimbulkan pertumbuhan uang M0 sekitar 13 persen. Harusnya kredit di akhir tahun tumbuh double digit juga. Tapi karena mungkin ada miskomunikasi, atau sinyal saya tidak diikuti, penyerapan baru mulai bertahap di minggu-minggu berikutnya,” jelasnya.
Meski demikian, Purbaya menegaskan bahwa koordinasi antara otoritas fiskal dan moneter (Bank Indonesia) terus diperkuat untuk mencari keseimbangan kebijakan yang efektif.
Ia menilai kondisi pasar saat ini mulai bergerak ke arah yang lebih stabil dan aman. Sinyal pemulihan tercepat terlihat di sektor keuangan, di mana pasar modal dan obligasi menunjukkan respons positif lebih awal dibandingkan sektor perbankan.
“Pasar modal dan obligasi biasanya merespons lebih awal dibandingkan sektor perbankan,” pungkasnya.
Laporan: Severinus | Editor: Arya