Sri Mulyani Ungkap Realisasi Defisit APBN 2021 Turun Jadi 4,65 Persen

pranusa.id January 5, 2022

FOTO: Menteri Keuangan Republik Indonesia, Sri Mulyani. (Dok. Pikiran Rakyat).

PRANUSA.ID — Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan realisasi sementara defisit APBN tahun 2021 mencapai 4,65 persen dari produk domestik bruto (PDB) atau sebesar Rp783,7 triliun. Capaian ini turun dari tahun sebelumnya yang mencapai 6,14 persen dari PDB.

“Poin kita adalah defisit sekarang sudah di bawah 5 persen, di 4,65 persen dari PDB. Jauh lebih kecil dari yang di APBN. Kalau dibandingkan defisit tahun lalu yang 6,14 persen dari PDB, ini konsolidasi fiskalnya sudah luar biasa sangat dalam, sudah cukup solid. Ini menggambarkan bahwa kita cukup bisa menjaga,” ujar Sri Mulyani dalam Konferensi Pers Realisasi APBN 2021, Senin (03/01).

Realisasi defisit tersebut lebih kecil Rp222,7 triliun dari target APBN 2021 yang sebesar 5,7 persen dari PDB atau Rp1.006,4 triliun. Menkeu mengungkapkan realisasi ini juga jauh lebih dari estimasi yang disampaikan pada bulan November lalu yang diperkirakan mencapai 5,1 persen hingga 5,4 persen.

“Jadi bulan Desember saja ini operasi APBN luar biasa sangat besar. Penerimaan negara kita melonjak sangat tinggi dan ini luar biasa,” katanya.

Dengan kondisi defisit yang menurun tersebut, dia menuturkan bahwa pemerintah tidak lagi menerbitkan surat utang negara domestik sejak November lalu karena realisasi pembiayaan jauh lebih kecil dari target yang sebesar Rp1.006,4 triliun, yakni Rp868,6 triliun. Pembiayaan anggaran yang lebih efisien di tahun 2021 dapat menjadi modal positif untuk transisi menuju konsolidasi fiskal tahun 2023.

Dampak dari defisit yang lebih rendah dan pembiayaan anggaran yang lebih efisien, sisa lebih pembiayaan anggaran (SiLPA) tahun 2021 sebesar Rp84,9 triliun, turun sangat signifikan dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp245,6 triliun.

“Realisasi sementara APBN 2021 menggambarkan positif luar biasa dibandingkan (target) APBN-nya maupun dibandingkan tahun 2020. Tahun yang luar biasa sangat sulit karena pandemi masih berlangsung, namun kita sudah mulai menunjukkan recovery. Kalau dibandingkan sebelum pandemi yaitu 2019, kita mencoba untuk membuat APBN yang bekerja extremely keras, namun kita mulai bisa menjaga stabilitas, sustainabilitas, dan kesehatan APBN,” tuturnya.

Sejak awal pandemi, APBN menjadi instrumen countercyclical yang bekerja keras mengendalikan penyebaran Covid-19, melindungi masyarakat rentan, dan mendorong kelangsungan dunia usaha.

Defisit dan pembiayaan yang lebih rendah dari target APBN 2021 menandakan APBN semakin membaik, namun tetap fokus untuk membantu rakyat, menangani Covid-19, dan memulihkan ekonomi. *(dep/nug/hpy)

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…