
NEW YORK, PRANUSA.ID — Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres menggelar pertemuan bilateral dengan Presiden Iran Masoud Pezeshkian guna membahas eskalasi konflik militer yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.
Dalam pertemuan yang berlangsung pada Jumat (25/9/2026) tersebut, Guterres menekankan krusialnya jalur diplomasi serta jaminan keselamatan jalur pelayaran vital di Selat Hormuz.
“Sekjen PBB menekankan kebutuhan mendesak untuk menyelesaikan konflik di Timur Tengah melalui dialog dan perundingan, dengan menghormati sepenuhnya hukum internasional, termasuk hak dan kebebasan navigasi internasional di dalam dan sekitar Selat Hormuz,” rilis PBB dalam keterangan resminya.
Guterres juga menegaskan komitmen penuh PBB untuk memfasilitasi seluruh inisiatif perdamaian demi menghentikan konfrontasi bersenjata antara Iran dengan pihak Amerika Serikat dan Israel.
Pertemuan tingkat tinggi tersebut berlangsung bertepatan dengan langkah diplomasi Teheran yang mengajukan proposal gencatan senjata kepada pemerintah Amerika Serikat melalui perantara Qatar.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mengonfirmasi bahwa proposal tersebut memuat opsi pembukaan kembali akses navigasi Selat Hormuz dalam waktu satu pekan.
“Jika kondisi yang diperlukan terpenuhi, maka Selat Hormuz akan dibuka dalam waktu tujuh hari,” ujar Abbas Araghchi kepada awak media.
Konflik terbuka yang meletus sejak akhir Februari 2026 tersebut telah melumpuhkan rantai pasok energi global akibat penutupan jalur Selat Hormuz serta memicu krisis kemanusiaan di kawasan.
Meski pihak Washington belum memberikan tanggapan resmi atas proposal tersebut, PBB terus mendesak para pihak yang bertikai untuk memprioritaskan dialog guna mencegah eskalasi perang terbuka yang lebih luas.
Laporan: Severinus | Editor: Michael