
TEHERAN, PRANUSA.ID – Otoritas keamanan di Iran menangkap sekitar 500 orang yang dituduh terlibat aktivitas spionase atau mata-mata sejak konflik bersenjata antara Amerika Serikat dan Israel dengan Iran pecah. Penangkapan tersebut dilakukan di tengah meningkatnya ketegangan keamanan dan operasi militer di kawasan.
Seperti dikutip dari Anadolu pada Senin (16/3/2026), Kepala Kepolisian Iran Brigadir Jenderal Ahmadreza Radan pada Minggu (15/3/2026) menyatakan para tersangka diduga memata-matai untuk pihak yang dianggap musuh. Pernyataan tersebut disampaikan melalui kantor berita semi-resmi Tasnim.
Menurut Radan, sekitar 250 orang dari total yang ditangkap diduga memberikan informasi intelijen kepada stasiun televisi yang berbasis di London, yakni Iran International. Informasi yang diberikan antara lain disebut berkaitan dengan lokasi yang menjadi sasaran serangan.
Ia menambahkan bahwa sebagian tersangka juga dikaitkan dengan kelompok bersenjata serta diduga berupaya mengganggu ketertiban umum. Para tahanan tersebut membocorkan informasi sensitif kepada pihak luar yang dianggap musuh oleh pemerintah Iran, paparnya.
Pemerintah Iran sebelumnya telah menetapkan Iran International TV sebagai organisasi teroris pada tahun 2022. Pemerintah menuduh media tersebut menyebarkan informasi menyesatkan mengenai gelombang protes antipemerintah di negara itu serta mendorong demonstran melakukan tindakan kekerasan.
Selain itu, otoritas Iran juga mengumumkan penyitaan aset milik staf media tersebut yang berada di Iran. Hal ini dilakukan sebagai bagian dari langkah hukum yang diambil oleh pemerintah.
Penangkapan ratusan orang ini terjadi ketika serangan gabungan Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran terus berlanjut sejak 28 Februari. Konflik tersebut dilaporkan menewaskan sekitar 1.300 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ayatollah Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran meluncurkan serangan pesawat nirawak dan rudal yang menargetkan wilayah Israel serta sejumlah kawasan di Yordania, Irak, dan negara-negara Teluk. Iran menyebut serangan itu diarahkan pada aset militer Amerika Serikat di kawasan.
Serangan balasan tersebut dilaporkan menimbulkan korban jiwa dan kerusakan pada beberapa infrastruktur sipil. Ketegangan yang meningkat di kawasan Timur Tengah ini juga mulai memengaruhi pasar global serta aktivitas penerbangan internasional.
Laporan: Severinus | Editor: Arya