
JAKARTA, PRANUSA.ID – Komisioner Energi Uni Eropa, Dan Jorgensen, mengungkapkan adanya lonjakan tajam pada harga komoditas energi di Benua Biru tersebut semenjak pecahnya konflik bersenjata di kawasan Timur Tengah.
Menurut pemaparan Jorgensen, harga gas di kawasan Uni Eropa saat ini telah mengalami peningkatan hingga 70 persen, sementara harga minyak bumi ikut meroket sekitar 60 persen.
“Sejak awal konflik di Timur Tengah terjadi, harga-harga di Uni Eropa mengalami lonjakan 70 persen untuk gas dan 60 persen untuk minyak,” ujar Jorgensen dalam sebuah konferensi pers pada Selasa (31/3/2026).
Pejabat tinggi Eropa tersebut menyebutkan bahwa persentase kenaikan itu setara dengan tambahan beban biaya sekitar Rp273 triliun khusus untuk impor energi dalam kurun waktu satu bulan terakhir.
“Dalam hal finansial, selama 30 hari konflik telah terjadi penambahan 14 miliar euro pada tagihan impor bahan bakar fosil Uni Eropa,” urainya lebih lanjut.
Lonjakan harga komoditas energi ini dipicu oleh eskalasi konflik yang melibatkan negara Amerika Serikat dan Israel terhadap Iran sejak 28 Februari lalu.
Serangan beruntun tersebut pada akhirnya memantik rentetan serangan balasan dari pihak Iran yang menargetkan wilayah Israel beserta sejumlah fasilitas militer milik Amerika Serikat di Timur Tengah.
Dampak destruktif dari konflik regional ini juga mulai terasa secara nyata pada kelancaran jalur distribusi energi global, terutama di wilayah perairan Selat Hormuz.
Kawasan maritim yang sangat strategis tersebut dilaporkan tengah mengalami blokade de facto yang sangat mengganggu pengiriman minyak maupun gas alam cair dari negara-negara Teluk Persia.
Kondisi darurat maritim ini turut memengaruhi stabilitas produksi serta ekspor minyak di kawasan tersebut sehingga terus memperburuk tekanan terhadap pasar energi global, termasuk pasokan di Eropa.
Laporan: Severinus | Editor: Arya