
JAKARTA, PRANUSA.ID – Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dilaporkan meminta Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk meningkatkan operasi militer terhadap Iran.
Permintaan tersebut mengemuka di tengah eskalasi konflik bersenjata antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran di kawasan Timur Tengah.
Berdasarkan laporan Middle East Monitor pada 24 Maret 2026, Mohammed bin Salman melakukan komunikasi langsung dengan Donald Trump dalam beberapa hari terakhir.
Pada komunikasi tersebut, Putra Mahkota Arab Saudi dikabarkan meminta operasi militer diteruskan sampai kekuatan pemerintah di Teheran melemah atau runtuh.
Laporan The Times of Israel yang bersumber dari pejabat Amerika Serikat menyatakan bahwa Mohammed bin Salman menganggap konflik ini sebagai kesempatan strategis untuk mengubah keseimbangan kekuatan regional.
Ia juga dilaporkan menilai keberadaan Iran sebagai ancaman jangka panjang bagi stabilitas keamanan di kawasan tersebut.
Mohammed bin Salman turut dilaporkan menyarankan Washington untuk menyerang infrastruktur energi Iran guna memotong sumber kekuatan negara itu.
Laporan tersebut juga menyebutkan bahwa ia mendukung kemungkinan penggunaan pasukan darat Amerika Serikat untuk mengambil alih fasilitas energi strategis milik Iran.
Situasi ini berlangsung saat konflik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran berada pada tahap krusial.
Perang yang berlangsung sejak akhir Februari 2026 ini mencakup serangan udara, balasan dari Iran, dan ancaman keamanan pada jalur distribusi energi global di Selat Hormuz.
Dinamika di kawasan Timur Tengah juga memperlihatkan perubahan posisi keamanan dari sejumlah negara Teluk.
Arab Saudi dan Uni Emirat Arab dilaporkan mulai mengambil langkah untuk terlibat usai munculnya serangan Iran yang menyasar fasilitas militer serta energi mereka.
Meskipun terdapat laporan komunikasi tersebut, pemerintah Arab Saudi secara resmi tetap menyampaikan dukungan terhadap penyelesaian konflik melalui jalur diplomatik.
Perbedaan antara pernyataan resmi dan laporan komunikasi internal ini menunjukkan strategi Arab Saudi dalam menyikapi eskalasi dengan Iran.
Pengamat geopolitik memandang langkah Mohammed bin Salman sebagai bentuk perubahan pendekatan negara tersebut dalam merespons isu keamanan kawasan.
Konflik dengan Iran saat ini dinilai tidak sekadar bersifat defensif melainkan telah menjadi bagian dari persaingan perebutan pengaruh di Timur Tengah.
Peningkatan ketegangan dinilai berpotensi memperluas jangkauan konflik dan melibatkan lebih banyak negara secara langsung.
Laporan: Severinus | Editor: Michael