Respons Ancaman Militer Donald Trump di PBB, Presiden Pezeshkian Kian Memanas Tegaskan Iran Tak Takut Perang

pranusa.id September 24, 2026

USA vs Iran (Copyright: ©rolffimages )

NEW YORK, PRANUSA.ID — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat kembali memuncak usai Presiden Iran Masoud Pezeshkian melayangkan respons keras terhadap gertakan Presiden AS Donald Trump dalam Sidang Majelis Umum PBB di New York.

Dalam pidatonya pada Rabu (23/9/2026), Pezeshkian menegaskan bahwa Iran siap membalas setiap bentuk agresi atau ancaman serangan militer AS dengan kekuatan yang jauh lebih besar.

“Iran tidak pernah menjadi agresor, tidak pernah menginisiasi perang, dan selalu berkomitmen untuk negosiasi. Kami sudah membuktikan bahwa kami tidak takut berperang dan kami akan terus bertahan untuk Iran, tanah air kami,” tegas Pezeshkian melansir France 24.

Sikap tegas tersebut diutarakan Pezeshkian guna membalas pidato Donald Trump sehari sebelumnya yang mengancam bakal menghancurkan Republik Islam Iran secara singkat jika eskalasi di Timur Tengah tak kunjung reda.

Di samping itu, Pezeshkian secara khusus menyoroti eskalasi di Selat Hormuz dengan menegaskan tak akan membiarkan jalur pelayaran strategis tersebut dimanfaatkan AS untuk melancarkan penekanan terhadap negaranya.

“Kami tidak boleh mengizinkan mereka untuk mengakses dan mendapatkan kepentingan mereka dari Selat Hormuz, di saat mereka menggunakan jalur pelayaran untuk mengerahkan agresi, ancaman, dan melarang akses kami,” tambah Pezeshkian.

Guna mengantisipasi potensi agresi udara ke kota-kota pemukiman, Pezeshkian mengklaim bahwa Teheran telah merampungkan pembangunan sistem serta infrastruktur pertahanan nasional yang mandiri.

“Sistem pertahanan sudah dibangun agar tidak ada pihak yang mengira pengeboman terhadap kota-kota Iran akan dibiarkan. Kami tidak mencari izin atau persetujuan pihak manapun untuk menjaga negara dan masyarakat kami,” klaim Pezeshkian.

Pezeshkian turut mengecam standar ganda AS yang menjatuhkan sanksi ekonomi bagi warga Iran, sementara di saat bersamaan membiarkan aksi kejahatan genosida Israel terhadap bangsa Palestina terus berlangsung.

“Israel membunuh, tetapi Iran yang menjadi subjek sanksi. Kami disanksi – mereka yang sakit, tidak bersalah, miskin, dan tidak memiliki privilese di negara kami menjadi target sanksi dan ini yang ingin dilakukan oleh AS terhadap semua negara,” sebut Pezeshkian.

Suhu diplomasi di dalam ruang sidang Majelis Umum PBB bahkan kian memanas setelah delegasi resmi Amerika Serikat memilih langsung membelakangi podium dan walkout saat Pezeshkian menyampaikan orasinya.

Aksi pengunduran diri tersebut merespons tuduhan balik Iran atas ultimatum Trump yang menyatakan AS kini berada di persimpangan antara jalur diplomasi atau pengerahan kekuatan militer penuh.

“Atau apakah saya harus menghancurkan Republik Iran secara cepat dan tidak memberikan mereka peluang untuk membunuh dan menghancurkan masyarakat maupun negara,” kata Trump mengulangi ancaman terbukanya melansir Euronews.

Laporan: Severinus | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…