Rusia Kecam Keras Penyitaan Tanker Marinera oleh AS di Laut Lepas

pranusa.id January 9, 2026

ILUSTRASI: Rusia.

MOSKOW – Hubungan antara Rusia dan Amerika Serikat (AS) kembali memanas setelah insiden penyitaan kapal tanker minyak berbendera Rusia, Marinera, di perairan Samudra Atlantik Utara.

Pemerintah Rusia mengecam keras tindakan sepihak yang dilakukan oleh pasukan AS tersebut, menyebutnya sebagai pelanggaran serius terhadap hukum maritim internasional dan prinsip kebebasan navigasi.

Kementerian Luar Negeri Rusia, dalam pernyataan resminya pada Kamis (8/1/2026), menegaskan bahwa Marinera berlayar secara sah dengan dokumen resmi dan sedang melakukan pelayaran damai menuju pelabuhan Rusia. Moskow menolak mentah-mentah tuduhan AS yang menyebut kapal tersebut melanggar sanksi terkait Venezuela.

“Mereka tidak ragu tentang hal ini, dan tidak ada dasar untuk berspekulasi bahwa kapal tanker tersebut berlayar ‘tanpa bendera’ atau ‘dengan bendera palsu’,” tulis pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri Rusia.

Rusia menuding Washington menggunakan hukum nasionalnya secara arogan melampaui yurisdiksi wilayah mereka (extraterritorial jurisdiction). Menurut Moskow, penggeledahan dan penangkapan awak kapal sipil di laut lepas oleh militer asing tidak memiliki dasar hukum yang dapat dibenarkan.

“Dalam keadaan seperti ini, penggeledahan dan penyitaan kapal damai oleh personel militer AS di laut lepas, serta penangkapan awak kapalnya, tidak dapat diartikan selain sebagai pelanggaran berat terhadap prinsip dan norma dasar hukum maritim internasional, serta kebebasan navigasi,” tegas pernyataan tersebut.

Di sisi lain, pihak Amerika Serikat melalui Juru Bicara Gedung Putih, Karoline Leavitt, bersikeras bahwa tindakan tersebut sah secara hukum. AS mengklaim Marinera merupakan bagian dari “armada bayangan” yang mengangkut minyak Venezuela yang terkena sanksi, serta berlayar tanpa status kewarganegaraan yang jelas (stateless).

“Itu berarti para kru sekarang dapat dituntut atas pelanggaran hukum federal yang berlaku, dan mereka akan dibawa ke Amerika Serikat untuk penuntutan tersebut jika perlu,” ujar Leavitt.

Menanggapi hal itu, Rusia menilai langkah AS sangat sinis dan bermuatan politis, terutama terkait ambisi Washington dalam mengendalikan sumber daya alam Venezuela.

“Saran dari pejabat AS tertentu bahwa penyitaan Marinera adalah bagian dari strategi yang lebih luas untuk membangun kendali tak terbatas Washington atas sumber daya alam Venezuela sangat sinis. Kami dengan tegas menolak pretensi neokolonialisme semacam itu,” bunyi kecaman lanjutan dari Moskow.

Rusia memperingatkan bahwa tindakan agresif ini berpotensi memicu krisis internasional yang lebih akut dan meningkatkan ketegangan militer di kawasan Euro-Atlantik. Mereka menuntut AS segera menghentikan praktik ilegal tersebut.

“Kami menyerukan kepada Washington untuk kembali mematuhi norma dan prinsip dasar navigasi maritim internasional dan segera menghentikan tindakan ilegalnya terhadap Marinera, serta kapal-kapal lain yang terlibat dalam kegiatan sah di laut lepas,” pungkas pernyataan tersebut.

Laporan: Hendri | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Ajak Masyarakat Bijak Gunakan Elpiji, Bahlil: Selesai Masak, Kompornya Jangan Boros
KARANGANYAR, PRANUSA.ID – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)…
Pertamina Pastikan Distribusi BBM di Pontianak dan Kubu Raya Berangsur Normal
PONTIANAK, PRANUSA.ID – Pertamina Patra Niaga Regional Kalimantan menyatakan bahwa…
Eks Penyidik KPK Praswad Nilai Tahanan Rumah Yaqut Ciptakan Preseden Buruk
JAKARTA, PRANUSA.ID – Mantan penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi bernama Praswad…
Konflik Timur Tengah Picu Kepanikan, Pemerintah India Jamin Stok BBM Domestik Aman
NEW DELHI, PRANUSA.ID – Otoritas India memberikan jaminan ketersediaan bahan…
Dilaporkan MAKI ke Dewas soal Status Penahanan Yaqut, KPK Sampaikan Terima Kasih
JAKARTA, PRANUSA.ID – Komisi Pemberantasan Korupsi memberikan tanggapan resmi terkait…
WhatsApp Image 2026-03-18 at 10.15.51
ChatGPT Image 26 Feb 2026, 23.16.02
ChatGPT Image 26 Feb 2026, 23.11.40