
TOKYO – Sanae Takaichi kembali mengukuhkan posisinya di panggung politik Jepang setelah resmi terpilih lagi sebagai Perdana Menteri dalam sidang parlemen yang digelar pada Rabu (18/2/2026).
Kemenangan telak Partai Demokrat Liberal (LDP) pada pemilihan umum Majelis Rendah yang berlangsung 8 Februari lalu menjadi faktor kunci yang memuluskan jalan Takaichi untuk melanjutkan kepemimpinannya.
Dalam pemungutan suara di Majelis Rendah, Takaichi berhasil mengamankan dukungan mayoritas mutlak dengan perolehan 354 suara dari koalisi penguasa, yang mencatatkan rekor super majority pertama sejak Perang Dunia II.
Di ranah kebijakan strategis, Takaichi menegaskan kembali ambisinya untuk mendorong amendemen konstitusi agar Jepang tidak lagi sepenuhnya terikat pada prinsip pasifis.
Ia menyoroti urgensi revisi Pasal 9 konstitusi, yang selama ini melarang negara menggunakan kekuatan militer untuk menyerang, guna memperkuat kapasitas pertahanan nasional di tengah dinamika geopolitik kawasan yang semakin memanas.
Meski demikian, proses amendemen ini diprediksi tidak mudah karena mensyaratkan dukungan dua pertiga anggota di kedua majelis parlemen sebelum dapat dibawa ke tahap referendum nasional.
Selain isu pertahanan, Takaichi juga akan memaparkan kebijakan fiskal yang disebutnya “agresif tapi terukur” sebagai strategi pemulihan ekonomi domestik.
Rencana tersebut mencakup usulan penghapusan sementara pajak konsumsi makanan selama dua tahun ke depan serta pembentukan dewan nasional lintas partai untuk membahas pembekuan pajak pangan.
Terkait komposisi pemerintahan, Takaichi memilih mempertahankan stabilitas dengan tidak melakukan perombakan signifikan pada pos-pos kunci kabinetnya.
Nama-nama seperti Menteri Luar Negeri Toshimitsu Motegi, Menteri Keuangan Satsuki Katayama, dan Menteri Pertahanan Shinjiro Koizumi dipastikan tetap menjabat di posisi mereka masing-masing.
Laporan: Nobertus | Editor: Michael