Trump Gunakan Ancaman Tarif Dagang untuk Tekan Dukungan Pengambilalihan Greenland

pranusa.id January 17, 2026

Donald Trump. (AP Foto/Jose Luis Magana)

WASHINGTON – Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali melontarkan pernyataan kontroversial terkait ambisinya untuk menguasai wilayah otonom Denmark, Greenland.

Demi memuluskan rencana tersebut, Trump dilaporkan mengancam akan menerapkan tarif impor tinggi terhadap negara-negara yang tidak mendukung langkah strategis AS di kawasan Arktik itu.

Ancaman ini disampaikan Trump sebagai upaya untuk menekan Denmark dan sekutu Eropa lainnya agar bersedia merundingkan pengalihan kendali atas Greenland.

Trump menilai penguasaan wilayah tersebut sangat krusial bagi kepentingan keamanan nasional Amerika Serikat, terutama untuk membendung pengaruh Rusia dan Tiongkok di Kutub Utara.

Dalam pernyataannya, Trump mengindikasikan bahwa kebijakan tarif dagang akan dijadikan instrumen negosiasi. Ia memperingatkan bahwa barang-barang impor dari negara yang menghalangi ambisi AS tersebut dapat dikenakan bea masuk yang memberatkan.

“Kami akan melakukan apa yang harus kami lakukan untuk melindungi keamanan kami. Greenland sangat strategis, dan jika kami harus menggunakan instrumen ekonomi seperti tarif untuk memastikan keamanan itu, kami akan melakukannya,” demikian intisari sikap yang ditunjukkan oleh pemerintahan Trump.

Reaksi Keras Internasional

Langkah agresif Trump ini menuai respons negatif dari berbagai pihak. Pemerintah Greenland dan Denmark secara tegas menolak gagasan tersebut, menyatakan bahwa wilayah mereka tidak untuk dijual dan kedaulatan mereka tidak dapat ditukar dengan ancaman ekonomi.

Menteri Luar Negeri Greenland menegaskan bahwa meski terbuka untuk kerja sama, pihaknya menolak segala bentuk pengalihan kedaulatan.

Sementara itu, sejumlah pengamat hubungan internasional menilai ancaman tarif ini berpotensi memicu ketegangan diplomatik baru antara AS dengan sekutu-sekutunya di Eropa, serta dapat mengganggu stabilitas perdagangan global.

Manuver ini menambah daftar panjang kebijakan luar negeri Trump yang dinilai transaksional, setelah sebelumnya juga menjadi sorotan terkait kebijakan agresifnya di wilayah lain seperti Venezuela dan konflik perbatasan di Asia Tenggara.

Laporan: Severinus | Editor: Kristoforus

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Atasi Bencana Karhutla Nasional, TNI Kerahkan 14.167 Prajurit Bantu Pemadaman di Lapangan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Tentara Nasional Indonesia (TNI) menyiagakan dan mengerahkan…
Kapolri Listyo Sigit Amankan Sejumlah Nama Terduga Pelaku Karhutla di Kalimantan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri) Jenderal…
Dampak Karhutla di Kalbar: Lima Penerbangan dari Pontianak Delay, Satu Pesawat Dialihkan ke Batam
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Sebaran kabut asap akibat kebakaran hutan dan…
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…