Bahaya Ideologi Ekstrem Neo-Nazi dan White Supremacy Mengintai Anak Muda Indonesia

pranusa.id January 1, 2026

Para anggota kelompok neo-Nazi, Gerakan Sosialis Nasional Amerika, melakukan protes selama unjuk rasa di depan Balai Kota Los Angeles, pada 17 April 2010. (Dok. AFP/Images).

JAKARTA — Sebuah fakta mengejutkan terungkap di penghujung tahun 2025, yakni mengenai ancaman radikalisme baru yang menyasar generasi muda Indonesia.

Data dari aparat penegak hukum dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan sedikitnya 68 anak dari berbagai provinsi telah terpapar ideologi ekstrem Neo-Nazi dan white supremacy (supremasi kulit putih).

Paham kebencian yang selama ini identik dengan konteks Barat tersebut ditemukan merambah ruang pola pikir anak-anak Indonesia melalui masifnya arus informasi digital.

Paparan ini menyusup melalui media sosial, forum daring, hingga grup percakapan tertutup yang minim pengawasan orang tua maupun institusi pendidikan.

Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komjen Syahardiantono, memberikan penekanan serius bahwa karakter paparan ini telah melampaui rasa ingin tahu remaja pada umumnya.

Ia menyebut anak-anak tersebut telah masuk ke dalam pusaran paham ekstrem yang memengaruhi cara berpikir mereka secara mendasar.

“Mereka tidak hanya melihat konten, tetapi aktif berpartisipasi dalam kelompok daring yang memproduksi narasi kekerasan. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu, ini sudah masuk ke ranah paham ekstrem,” tegas Syahardiantono saat menyampaikan Rilis Akhir Tahun 2025 di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025).

Keterlibatan anak-anak ini bukan sekadar menjadi penonton pasif. Beberapa kasus menunjukkan mereka mulai mengadopsi simbol-simbol supremasi kulit putih, melakukan glorifikasi terhadap pelaku kejahatan brutal, hingga merancang wacana kekerasan terhadap kelompok tertentu.

Bahkan, ditemukan indikasi ketertarikan pada senjata dan skenario kekerasan yang menyasar lingkungan sekolah, seperti yang sempat terdeteksi di SMAN 72 Jakarta Utara.

Menanggapi fenomena ini, Kepala BNPT Eddy Hartono menegaskan bahwa radikalisme di Indonesia kini tengah mengalami perubahan wajah yang sangat signifikan.

Menurutnya, negara kini menghadapi tantangan global di mana ideologi kebencian tidak lagi hanya berbasis agama, tetapi merambah ke masalah ras melalui jalur digital.

“Ancaman ekstremisme hari ini tidak selalu berbasis ideologi keagamaan. Kita melihat ideologi kebencian global berbasis ras masuk melalui ruang digital dan menyasar anak-anak. Ini tantangan serius bagi negara,” ujar Eddy Hartono.

Para ahli menilai ideologi ini mudah diterima karena dikemas secara sederhana dan emosional bagi remaja yang sedang mencari jati diri.

Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi rendahnya literasi digital dan lemahnya pengawasan di tingkat keluarga serta sekolah, yang kerap kali gagal mendeteksi dini perubahan perilaku anak yang mengarah pada paham intoleransi dan kekerasan.

Laporan: Judirho | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Ruben Onsu Ditetapkan Sebagai Tersangka Kasus Dugaan Penipuan dan Penggelapan Dana Investasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Kepolisian Resor Metro Jakarta Selatan menetapkan artis…
Wapres Gibran Tinjau Pengungsian Gempa Sikka di Stadion Samador, Minta Bantuan Jangkau Wilayah Terisolasi
MAUMERE, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Republik Indonesia Gibran Rakabuming meninjau…
Atasi Bencana Gempa Flores, Pemprov NTT Kelola Dana Bantuan Rp4,35 Miliar dan Kucurkan Logistik
ENDE, PRANUSA.ID — Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur melalui Badan…
Bank NTT Cabang Ende Salurkan 100 Paket Sembako dan Terpal untuk Korban Gempa Flores
ENDE, PRANUSA.ID — Gelombang kepedulian bagi masyarakat terdampak bencana gempa…
Peringati HUT ke-78 dan Menuju Dasawindu 2028, SMA Kolese De Britto Resmi Buka PSB TA 2027/2028
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Bertepatan dengan peringatan HUT ke-78 SMA Kolese…