
JAKARTA – Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf menegaskan bahwa rencana perluasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi kelompok masyarakat lanjut usia (lansia) masih berada pada tahap pematangan konsep.
Pria yang akrab disapa Gus Ipul itu memastikan bahwa pemerintah belum memasuki fase eksekusi lapangan karena sejumlah aspek teknis krusial masih terus dibahas secara mendalam.
“Ya, itu baru mematangkan konsep,” ujar Gus Ipul usai menghadiri sebuah pertemuan di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta.
Pernyataan tersebut disampaikan oleh Mensos untuk menanggapi perkembangan rencana MBG bagi lansia pasca-pertemuannya dengan Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana.
Gus Ipul menjelaskan, salah satu fokus utama yang tengah digodok oleh pemerintah saat ini adalah skema distribusi makanan melalui Satuan Pemenuhan Pelayanan Gizi (SPPG).
Berdasarkan draf awal, dapur SPPG akan menyiapkan makanan yang kemudian disalurkan langsung kepada lansia melalui petugas Kemensos, kelompok masyarakat, serta tenaga pendamping (caregiver).
“Direncanakan seperti itu, tetapi kami masih mematangkan dulu supaya nanti dapurnya bisa lebih banyak dan menjangkau lebih luas,” jelasnya merinci skema operasional tersebut.
Kemensos menargetkan cakupan penerima manfaat MBG untuk kalangan lansia dan penyandang disabilitas ini dapat diperluas secara signifikan dibandingkan program-program reguler sebelumnya.
Sebagai gambaran, saat ini program bantuan makanan dari kementerian baru menjangkau sekitar 100 ribu lansia dan 36 ribu penyandang disabilitas di seluruh Indonesia.
Ke depannya, lewat sinergi strategis bersama BGN, jumlah penerima manfaat dari kelompok rentan tersebut diharapkan dapat melonjak drastis hingga menyentuh angka setengah juta jiwa.
“Harapan kami bisa menjangkau antara 300 ribu sampai 500 ribu penerima manfaat. Tapi sekali lagi, semua ini masih dalam tahap perencanaan,” ujarnya memberikan penekanan.
Terkait kriteria dan pendataan, Gus Ipul memastikan penetapan penerima manfaat MBG akan dilakukan secara ketat melalui mekanisme asesmen berbasis data milik Kemensos dan pemerintah daerah setempat.
Data calon penerima tersebut nantinya harus divalidasi dan disahkan terlebih dahulu oleh kepala daerah sebelum diserahkan kepada pihak BGN sebagai acuan pelayanan di dapur SPPG.
Adapun sasaran prioritas dari program kolaborasi ini adalah lansia berusia di atas 75 tahun yang tinggal sebatang kara, serta kelompok penyandang disabilitas yang kesulitan memenuhi kebutuhan gizi hariannya secara mandiri.
Laporan: Severinus | Editor: Arya