Cek Langsung ke Arab Saudi, KPK Bantah Alasan Yaqut Bagi Kuota Haji demi Keselamatan

pranusa.id February 25, 2026

Mantan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas berjalan keluar usai memenuhi panggilan di Gedung Merah Putih KPK (Foto: Jamal Ramadhan)

JAKARTA – Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan tegas menepis alasan yang dilontarkan oleh mantan Menteri Agama, Yaqut Cholil Qoumas, terkait polemik pembagian kuota haji tambahan tahun 2024.

KPK menilai kebijakan Yaqut yang membagi rata tambahan 20.000 kuota haji menjadi 50 persen untuk reguler dan 50 persen untuk haji khusus merupakan sebuah penyimpangan.

Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan investigasi langsung ke Arab Saudi bersama tim auditor dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK).

Berdasarkan hasil pengecekan di lapangan, fasilitas dan ruang ibadah di Arab Saudi dipastikan sangat memadai jika pemerintah tetap menggunakan proporsi awal, yakni 92 persen untuk reguler dan 8 persen untuk khusus.

“Kami ke Arab Saudi bersama tim auditor BPK untuk mengecek ketersediaan fasilitas ibadah haji. Di sana sangat proper untuk penyelenggaraan haji sehingga kami pikir alasan itu tidak pas,” ujar Budi di Gedung Merah Putih KPK, Jakarta Selatan, Selasa (24/2/2026).

Menurut KPK, kebijakan pembagian 50:50 tersebut telah melenceng jauh dari filosofi awal pemberian kuota tambahan dari pemerintah Arab Saudi, yang sejatinya bertujuan untuk memangkas antrean panjang jemaah haji reguler.

Kebijakan tersebut secara drastis telah melonjakkan jatah kuota haji khusus dari yang seharusnya hanya 8 persen menjadi 50 persen, sehingga menggeser 42 persen porsi reguler ke Penyelenggara Ibadah Haji Khusus (PIHK).

Saat ini, lembaga antirasuah tersebut tengah mendalami secara serius adanya dugaan aliran dana pelicin dari pihak PIHK kepada oknum di Kementerian Agama pada era kepemimpinan Yaqut.

“Tidak bisa kita lihat perkara ini secara parsial. Ada dugaan aliran uang dari PIHK kepada oknum Kemenag terkait distribusi kuota ini,” tegas Budi.

Di sisi lain, Yaqut tetap kukuh membela kebijakannya saat memberikan keterangan dalam sidang praperadilan yang digelar di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Mantan menteri tersebut mengklaim bahwa pembagian kuota 50:50 murni dilakukan dengan pertimbangan menjaga keselamatan jiwa jemaah (hifzun nafs) akibat terbatasnya fasilitas dari pemerintah Arab Saudi.

“Satu-satunya pertimbangan adalah menjaga keselamatan jiwa jemaah karena keterbatasan tempat di Saudi,” kata Yaqut membela diri.

Yaqut juga berdalih bahwa penyelenggaraan ibadah haji sepenuhnya berada di bawah yurisdiksi Arab Saudi, sehingga Indonesia otomatis terikat dan harus tunduk pada aturan serta nota kesepahaman (MoU) yang berlaku di sana.

Laporan: Severinus | Editor: Rivaldy

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rasmidi: Berita Kalbar Jangan Hanya Muncul di Nasional Saat Ada Kejadian Luar Biasa
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Komisi I DPRD Kalimantan Barat (Kalbar),…
Kawal RUU Penyiaran, KPID Kalbar Dorong Aspirasi Media Masuk Pembahasan
PONTIANAK, PRANUSA.ID– Rancangan Undang-Undang (RUU) Penyiaran menjadi sorotan dalam Focus…
Jenguk Korban Keracunan MBG di Batang, Wapres Gibran Minta Investigasi Dibuka Transparan
BATANG, PRANUSA.ID — Wakil Presiden Gibran Rakabuming meminta proses investigasi…
PP PMKRI Desak Kepolisian Buka Penyelidikan Pidana Kasus Fasilitas Mewah Lapas Cibinong
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengurus Pusat Perhimpunan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia…
Kejanggalan 13 Rumah di Lapas Cibinong: Pembangunan Tak Tercatat sebagai Aset Milik Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pembangunan 13 unit rumah di kawasan Lapas…