Dihantam Banjir dan Longsor, Lebih dari 100 Cagar Budaya di Sumatera Rusak

pranusa.id December 22, 2025

Bangunan Bersejarah hingga Rumah Adat Rusak Akibat Banjir di Sumatra

JAKARTA – Bencana banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Sumatera tak hanya menyisakan duka kemanusiaan, tetapi juga mengancam kelestarian warisan sejarah bangsa.

Kementerian Kebudayaan mencatat lonjakan data kerusakan situs cagar budaya di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat yang kini angkanya telah melampaui 100 situs.

Menteri Kebudayaan, Fadli Zon, mengungkapkan keprihatinannya atas kondisi tersebut. Saat ditemui di sela Festival Budaya Tempe di Jakarta, Minggu (21/12/2025), ia menjelaskan bahwa pendataan di lapangan masih terus berkembang.

Awalnya, laporan masuk mencatat 43 situs terdampak, namun angka tersebut terus merangkak naik seiring meluasnya area bencana.

“Tentu pendataan terus kami lakukan. Awalnya tercatat 43, kemudian naik menjadi 70, dan sekarang jumlahnya sudah lebih dari 100 cagar budaya yang terdampak di Sumatera,” ujar Fadli.

Kerusakan yang terjadi bervariasi, mulai dari rumah adat, bangunan peninggalan kolonial, hingga situs bersejarah lainnya yang kini tertutup lumpur atau mengalami kerusakan fisik akibat terjangan material longsor.

Siapkan Dana Darurat Rp12 Miliar

Merespons ancaman hilangnya identitas sejarah ini, pemerintah bergerak cepat dengan menyiapkan anggaran darurat.

Fadli Zon menyebut pihaknya telah mengalokasikan dana hasil efisiensi anggaran sebesar Rp11 hingga Rp12 miliar. Dana ini difokuskan untuk tahap awal, yakni pembersihan situs-situs yang tertimbun material bencana.

Rencananya, proses pemulihan fisik akan mulai dieksekusi minggu depan dengan melibatkan partisipasi aktif masyarakat setempat.

Pendekatan gotong royong dipilih agar rehabilitasi situs budaya dapat berjalan beriringan dengan pemulihan kehidupan sosial ekonomi warga terdampak.

Fadli menegaskan, meski penanganan cagar budaya mendesak, keselamatan dan pemulihan warga tetap menjadi prioritas utama.

Baginya, menyelamatkan cagar budaya adalah bagian integral dari memulihkan jiwa masyarakat pascabencana.

“Cagar budaya itu bukan sekadar bangunan fisik, ia menyimpan memori sejarah dan identitas masyarakat. Karena itu, pemulihannya menjadi bagian penting dari rehabilitasi pascabencana,” pungkasnya.

Laporan: Judirho | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Puluhan Siswa SMKN 4 Pati Dilarikan ke Rumah Sakit Usai Santap Menu Makan Bergizi Gratis
PATI – Sebanyak 22 siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri (SMKN)…
Kemensos Segera Reaktivasi PBI BPJS Kesehatan untuk Pasien Cuci Darah
JAKARTA – Kementerian Sosial (Kemensos) memastikan akan segera melakukan reaktivasi…
Terdakwa Kasus K3, Eks Wamenaker Noel Ungkap “Partai K” Terdiri dari Tiga Huruf
JAKARTA – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer atau…
Prabowo Terima Undangan Donald Trump untuk Hadiri Pertemuan Board of Peace di AS
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menerima undangan resmi dari Presiden…
JB Fest 2026 SMA Kolese De Britto: Ratusan Siswa Pamerkan Riset Geopark dan Inovasi Ekologis
YOGYAKARTA – SMA Kolese De Britto Yogyakarta sukses menyelenggarakan John…
WhatsApp Image 2026-02-09 at 10.45.26