
ENDE, PRANUSA.ID — Dinas Pertanian Kabupaten Ende menaruh perhatian serius terhadap ancaman krisis pangan akibat dampak kemarau panjang ekstrem yang diproyeksikan berlangsung hingga November 2026.
Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Ende H. Ibrahim Dean menyampaikan bahwa pihaknya telah menyusun langkah antisipasi guna menekan dampak kekeringan terhadap sektor pertanian dan perkebunan warga.
“Ini dampak kemarau panjang, kemarau ekstrem yang diprediksi sampai bulan November kita belum datang hujan, maka dari awal selaku dinas teknis telah melakukan antisipasi,” kata Ibrahim saat ditemui di ruang kerjanya, Selasa (20/10/2026).
Ibrahim menjelaskan bahwa pasokan air pada Musim Tanam (MT) satu dan dua di wilayah hamparan irigasi masih relatif terjaga berkat bantuan mesin perpipaan serta irigasi perpompaan.
Namun, tantangan terbesar kini berfokus pada Musim Tanam ketiga, khususnya di kawasan sawah tadah hujan seperti wilayah Mautenda dan Maurole yang mulai mengalami ancaman kekeringan.
“Sekarang yang kita hadapi MT tiganya, kalau sawah-sawah tadah hujan yang jelas tidak bisa berbuat apa-apa dengan kemarau panjang ini,” ujar Ibrahim.
Selain tanaman pangan, komoditas perkebunan bernilai ekonomi di daerah sentra produksi seperti Nangapanda dan Maukaro juga diproyeksikan mengalami penurunan produktivitas yang signifikan.
“Daerah sentra produksi contohnya Nangapanda, Maukaro, kami telah melakukan analisa teknis bahwa produktivitas akan turun hingga 60 hingga 70 persen, ini akan berdampak pada ketahanan pangan di Kabupaten Ende,” kata Ibrahim.
Ia membeberkan bahwa cuaca panas ekstrem menyebabkan rontoknya bunga pada tanaman kemiri, kakao, hingga jambu mete.
Guna menjaga ketahanan pangan masyarakat di tengah penurunan hasil panen, Dinas Pertanian Ende kini menggenjot diversifikasi dan pemanfaatan komoditas pangan lokal seperti ubi-ubian.
Laporan: Marsianus | Editor: Arya