Kisah Pilu Mahasiswi UNY Berjuang Bayar Uang Kuliah Hingga Wafat

pranusa.id January 14, 2023

FOTO: Universitas Negeri Yogyakarta (Kompas.com).

PRANUSA.ID– Dunia maya tengah dihebohkan dengan kisah seorang mahasiswi Pendidikan Sejarah Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2020, Nur Riska, yang berjuang meminta keringanan Uang Kuliah Tunggal (UKT) sampai akhir hayatnya. Hingga Sabtu (14/1) petang, utas yang ditulis akun @rgantas telah dilihat 3,8 juta kali, dicuit ulang 18 ribu kali, dan disukai ulang 60 ribu kali.

Pemilik akun @rgantas, Ganta Semendawai, yang juga rekan Riska dalam cuitannya menjelaskan kisah pilu yang dialami Riska. Riska berasal dari keluarga yang bukan dari kalangan berada di Purbalingga, Jawa Tengah. Orang tuanya hanya berdagang sayur gerobak di pinggir jalan. Sang Ibu harus berjuang menghidupi Riska dan keempat adiknya yang belum lulus kuliah.

Dalam cuitannya tersebut, Ganta menuliskan bahwa Riska memiliki persoalan dalam membiayai perkuliahannya. Meskipun bukan hal yang baru di UNY, namun dalam kasus Riska dinilai berbeda.

Riska awalnya sudah mengisi nominal pendapatan yang sesuai dengan kemampuannya, namun karena dirinya tidak memiliki laptop, dirinya tidak mengunggah berkas-berkas yang diperlukan. Lantaran handphone tetangganya tidak secanggih android pada umumnya, akhirnya berkas-berkas tersebut tidak bisa dikirim. Hal itu lah yang menyebabkan nominal UKT-nya melonjak. Sehingga Riska harus membayar UKT sebesar Rp 3,14 juta.

Dirinya beruntung sempat dibantu oleh guru-guru di sekolahnya ketika itu untuk membayar biaya UKT tersebut. Riska akhirnya bisa membayar UKT pertamanya dan resmi menyandang sebagai mahasiswa UNY.

Ganta menyebut Riska dikenal sebagai orang yang ceria. Namun Keceriaan Riska hilang tiap kali mendekati pembayaran UKT.

“Tidak kurang-kurang usaha yang ia lakukan agar bisa melanjutkan studi. Segala cara diacoba, dari mencari beasiswa hingga mengambil part time. Menurut saya praktis semua usaha sudah ia coba. Namun hasilnya lebih sulit dari yang diduga,” tulis Ganta dalam utasnya tersebut.

Di awal perkuliahannya, Riska juga diketahui sempat bolak-balik ke Rektorat UNY untuk mengajukan keberatan terhadap nominal UKT-nya. Namun usahanya tersebut tak kunjung menemui kejelasan. Menurutnya dirinya seolah seperti bola yang dipermainkan.

Ganta juga baru mengetahui bahwa untuk ke Rektorat dia harus berjalan kaki dari kosannya di Pogung ke Jalan Colombo. Dirinya terbiasa berjalan kaki sebab dirinya tak memiliki cukup uang untuk memesan ojek online.

“Dia selalu berhati-hati untuk menggunakan uang. Salah satu temannya pernah memberinya Abon. Dia sangat senang. Selama di kos dia terlihat hanya makan nasi dengan abon yang diberi temannya tadi. Bahkan odol, sabun, shampo dan mie instan dia dapatkan dari pemberian temannya,” tulisnya.

Ganta teringat ucapan Riska bahwa jika dirinya tidak bisa melanjutkan kuliahnya, dirinya ingin kuliah agar dapat menguliahkan adiknya. Dirinya bertekad untuk mewujudkan mimpi adiknya. Kata-kata itu ia sampaikan saat pembayaran UKT mendekati deadline. Riska nyaris kehilangan asa lantaran tak bisa membayar UKT.

Ganta juga mengaku sempat menghubungkan Riska dengan pihak kampus. Setelah diupayakan pihak kampus hanya menurunkan biaya UKT Rp 600 ribu. Saat hampir menyerah, ia akhirnya mendapat bantuan dari DPA, dan kajur yang patungan membantu Riska.

“Sayangnya meski demikian, nominal tersebut masih belum cukup. Orang tua Riska & Riska masih harus mencari sisanya/ Maklum, periode itu pandemi sedang mengamuk. Akhirnya ia mencoba meminjam uang. Dan di babak akhir Riska bisa mengisi KRS & perkuliahan semester itu masih aman,” tulis Ganta.

Perjuangan Riska tidak berhenti sampai disitu. Pada semester berikutnya ia kembali kesulitan membayar UKT. Berbagai informasi tersiar soal kabarnya. Ada yang menyebut bahwa Riska akhirnya menyerah, namun ada juga kabar yang menyebut bahwa dirinya cuti dan mencari kerja untuk membayar UKT semester selanjutnya. Namun Ganta mengaku tidak mengetahui pasti terkait kabar itu. Tepat pada 9 Maret Riska telah dinyatakan meninggal dunia.

Laporan: Febrianto Adi Saputro (Republika).

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dua Prajurit TNI Penyiram Air Keras Batal Dipecat, Menteri Pigai Dorong Pengacara Andrie Yunus Ajukan Kasasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Perkuat Operasi Terpadu Karhutla Kalbar, Kemenhut Gelontorkan DAK Rp5,5 Miliar
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pemerintah menyiapkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK)…
Jaga Stabilitas Harga, Bulog Pasok 110 Ribu Ton Beras ke Pasar dan Ritel Modern
JAKARTA, PRANUSA.ID — Perum Bulog menyiapakan pasokan sebanyak 110.000 ton…
AJMAN Kalbar Sebut Penanganan Kabut Asap Harus Berfokus pada Keselamatan dan Aktivitas Warga
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Pengurus Daerah (PD) Asosiasi Jurnalis Masyarakat…
Kabut Asap Meluas dan Lumpuhkan Aktivitas, AMAN Kalbar Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan…