Refleksi Masa Peralihan Pendudukan Jepang, Warung Sastra Kupas Karya Sastrawan Idrus di Yogyakarta

pranusa.id September 24, 2026

YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Warung Sastra bekerja sama dengan Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia menggelar diskusi Malam Buku bertajuk Membaca Kembali Idrus Sebagai Sastra di Masa Peralihan Pendudukan Jepang di Yogyakarta pada Rabu (23/9/2026).

Agenda diskusi yang menjadi bagian dari rangkaian semarak Pekan Kata 2026 tersebut menghadirkan akademisi Sastra Inggris Universitas Sanata Dharma Novita Dewi serta sastrawan dan dosen Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) Eko Triono.

Membedah rekam jejak pengarang buku Dari Ave Maria Ke Jalan Lain Ke Roma tersebut, para pemantik menilai karya Idrus berhasil memotret penderitaan jelata yang kerap luput dari historiografi resmi.

“Karya Idrus ini menurut saya tulisan-tulisan Idrus ini menambah alur sejarah, tetapi disini yang di potret Idrus adalah orang-orang kecil yang tidak menikmati keemasan sejarah tersebut,” kata Novita Dewi mengulas narasi realisme Idrus.

Novita mencontohkan bagaimana detail peristiwa penindasan era pendudukan Jepang seperti monopoli pangan, perampasan beras oleh oknum tentara, hingga kemiskinan terekam secara gamblang dalam prosa karya Idrus.

Senada dengan hal itu, Eko Triono menekankan bahwa keberpihakan Idrus terhadap nasib rakyat kecil setara dengan kedalaman karya sastrawan legendaris Mochtar Lubis.

Eko menilai karya Idrus menyempurnakan data statistik sejarah mengenai krisis pangan pada zaman pendudukan Jepang melalui penggambaran naratif yang humanis.

Menjawab pertanyaan mengenai redupnya popularitas Idrus dibandingkan dengan Chairil Anwar di kalangan pemuda hari ini, Eko menyoroti persoalan kanonisasi dan kurikulum pendidikan.

“Pertama bagaimana sastrawan itu dikenalkan pada buku pelajaran, sehingga para siswa dapat mengenalnya, puisi Chairil mungkin pernah dikutip sepenuhnya dalam setiap buku pelajaran bahasa Indonesia, namun Idrus hampir tidak pernah dikutip sepenuhnya,” terang Eko.

Melalui momentum Pekan Kata 2026 tersebut, para pembicara berharap generasi muda kembali menggalih serta meneladani gaya penulisan satir dan keberpihakan sosial yang diwariskan oleh Idrus dalam khazanah sastra Indonesia.

Laporan: Angga R. N | Editor: Michael

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Rangkul Akademisi di Istana, Presiden Prabowo Putuskan Bentuk Badan Pengelola Gambut dan Mangrove Nasional
JAKARTA, PRANUSA.ID — Presiden Prabowo Subianto menggelar diskusi bersama jajaran…
Respons Ancaman Militer Donald Trump di PBB, Presiden Pezeshkian Kian Memanas Tegaskan Iran Tak Takut Perang
NEW YORK, PRANUSA.ID — Ketegangan geopolitik antara Iran dan Amerika…
Vonis Banding Kasus Chromebook, Nadiem Makarim Dihukum 9 Tahun Penjara dan Uang Pengganti Rp548 Miliar
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pengadilan Tinggi Daerah Khusus Jakarta menjatuhkan vonis…
Kabut Asap Masih Melanda, BNPB Lapor ke Prabowo Aktivitas Warga di Kalbar dan Kalteng Tetap Berjalan Normal
JAKARTA, PRANUSA.ID — Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kondisi…
Refleksi 22 Tahun Pembunuhan Munir, Aksi Kamisan Jogja dan BEM FH UMY Gelar Nobar serta Diskusi
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Aksi Kamisan Jogja bekerja sama dengan BEM…