
TANGERANG, PRANUSA.ID – Jemaat Persekutuan Oikoumene Umat Kristen (POUK) Tesalonika di kawasan Teluknaga, Kabupaten Tangerang, dikejutkan oleh aksi penggerudukan massa pascalangsungnya ibadah Jumat Agung pada Jumat (3/4/2026).
“Saya sangat kecewa dan miris melihat kejadian ini, apalagi dilakukan oleh orang-orang yang mengaku beragama dan menjunjung moral tapi caranya justru intimidatif dengan membawa massa menggeruduk rumah ibadah di hari besar keagamaan,” kata Wakil Ketua Komisi III DPR RI, Ahmad Sahroni, pada Senin (6/4/2026).
Insiden penolakan keberadaan rumah ibadah tersebut pada akhirnya berujung pada penyegelan lokasi oleh jajaran Satpol PP Kabupaten Tangerang dengan dalih ketiadaan dokumen Perizinan Bangun Gedung (PBG).
“Ini jelas mencederai nilai toleransi di negara yang berlandaskan Pancasila, kalau persoalannya perizinan, tempuh saja jalur administratif yang sudah disediakan negara,” imbuhnya.
Politikus Partai NasDem itu menegaskan bahwa permasalahan perizinan administratif sama sekali tidak boleh dijadikan justifikasi untuk membenarkan tindakan main hakim sendiri oleh sekelompok warga.
“Jangan main geruduk berbasis massa seperti ini karena sangat timpang dan intimidatif,” ucapnya.
Sebagai instrumen penegak hukum, aparat kepolisian dan pemerintah daerah didesak untuk berani mengambil sikap objektif serta menindak tegas setiap pelaku aksi intoleransi tanpa harus takut pada tekanan massa.
“Dan aparat harus tegas terhadap pelaku intoleran, jangan terbawa arus massa, ambilah sikap objektif dan humanis,” kata Sahroni.
Ia turut mengingatkan agar seluruh elemen masyarakat selalu mengedepankan kebijaksanaan serta menempuh jalur hukum yang sah dalam menyelesaikan setiap sengketa ruang publik.
“Ke depan jangan biarkan aksi-aksi seperti ini terulang, apalagi menyangkut kegiatan beragama yang sama sekali bukan tindakan kriminal,” pungkasnya.
Laporan: Severinus | Editor: Arya