
LAMANDAU, PRANUSA.ID— Tradisi berkisah lisan dari masyarakat lokal, khususnya masyarakat Dayak, mesti terus dilestarikan dan dikembangkan sebagai sarana pembangunan kualitas sumber daya manusia. Hal ini termasuk pada tradisi Sangan, sebagai tradisi bertutur dan kearifan lokal masyarakat Delang di Kabupaten Lamandau, Kalimantan Tengah (Kalteng).
Pesan ini disampaikan Anggota DPD RI Dapil Kalteng, Teras Narang, dalam Webinar Budaya bertajuk “Mengenal Budaya Sangan: Warisan Dongeng Kearifan Lokal Delang untuk Membentuk Karakter Anak, Mengasuh Imajinasi, dan Menguatkan Literasi Budaya,”. Acara ini digelar oleh komunitas Borneo Bajenta pada Jumat, (20/3/2026) dan diapresiasi sebagai sebuah gerakan budaya yang patut diapresiasi dan diteruskan.
“Saya gembira bisa bertemu secara daring dengan Abu Daud atau Patih Damar Molayap yang merupakan pegiat budaya Delang yang memaparkan bagaimana Sangan dipraktikkan dalam kehidupan masyarakat. Juga ada akademisi dari Universitas Palangka Raya (UPR) Yuli Ana yang memberikan pandangan sosiologis tentang peran Sangan dalam membentuk nilai hidup masyarakat Dayak serta tantangannya di era teknologi,” ujar Gubernur Kalteng dua periode ini.
Teras pun secara khusus, saya menyampaikan bagaimana Sangan dapat dipakai sebagai sarana budaya penanaman nilai yang bermanfaat untuk meningkatkan sumber daya manusia. Lebih dari itu ia menilai peran Sangan sebagai dongeng lokal untuk meningkatkan moral dan akhlak, hingga pembentukan karakter sumber daya manusia masih sangat relevan. Ia menyebut bagaimana pun, pembangunan karakter sangat penting untuk diperhatikan. Termasuk pembangunan karakter unggul yang dilandasi nilai kesabaran, kejujuran, dan keberanian.
“Sangan sebagai tradisi berkisah lisan yang diwariskan turun temurun pada kelompok masyarakat Delang, juga memiliki makna yang mendalam dan berfungsi sebagai sarana penyampai nilai-nilai, norma, atau kepercayaan masyarakat. Termasuk seperti menyampaikan nilai-nilai luhur kebersamaan dan kolaborasi yang juga menjadi falsafah masyarakat kita yakni Huma Betang,” urainya.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat di luar Kalteng pun juga memiliki bentuk dongeng tersendiri yang dipakai sebagai instrumen pengajaran. Ia memberi contoh seperti di Sumatera Barat, ada kisah Malin Kundang, yang mengajarkan pentingnya menghormati orang tua. Sementara di Jawa, juga ada kisah Ratu Kidul sebagai ekspresi pengajaran akan kekuatan alam.
Dongeng termasuk Sangan menurutnya, juga dapat menjadi sarana pembangunan kesadaran masyarakat atas beragam isu seperti kepentingan menjaga lingkungan, memelihara identitas kebudayaan, hingga pembangunan karakter sumber daya manusia yang unggul.
“Saya berharap juga mendorong agar Dinas Kebudayaan terkait di tingkat kabupaten dan kota, di bawah koordinasi Dinas Kebudayaan Provinsi Kalimantan Tengah, untuk melakukan terobosan kebudayaan. Melakukan kompilasi terhadap tradisi bertutur lisan lokal yang ada, termasuk seperti Sangan ini. Selanjutnya bersama para akademisi bisa melakukan revitalisasi atas kearifan lokal ini, sebagai sarana penanaman nilai-nilai unggul bagi generasi muda Kalteng. Ini akan menjadi sangat strategis dalam upaya penanaman nilai, pembangunan karakter, dan akhirnya pembangunan sumber daya manusia unggul di daerah kita,” dorong Presiden Masyarakat Adat Nasional Pertama ini.
Ia menyebut upaya ini akan selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto khususnya poin keempat yang menempatkan penguatan kualitas sumber daya manusia sebagai agenda penting menuju visi Indonesia Emas 2045.
Secara bersama, menurutnya setiap keluarga yang ada di Kalteng, juga perlu mendukung pelestarian dan pengembangan tradisi bertutur lisan atau dongeng model Sangan yang berasal dari Lamandau. Termasuk memakainya untuk menanamkan nilai-nilai utama di tengah keluarga bagi kepentingan anak-anak dan komunitas masyarakat kita.
“Hal ini juga penting sebagai langkah untuk menanamkan kearifan bagi generasi muda yang kini mulai akrab dengan modernisasi dan perkembangan teknologi yang juga punya tantangannya sendiri. Agar generasi muda juga bisa menjadi pelaku budaya dan pelaku perubahan yang menjembatani kearifan lokal di masa lalu untuk di bawa ke masa depan,” tandasnya.
Dalam webinar ini, Abu Daud yang juga disebut Patih Damar Molayap menguraikan bagaimana Sangan sebagai tradisi lisan banyak dibawakan dalam beragam acara kehidupan masyarakat Dayak di Kecamatan Delang.
“Sangan sangat identik dengan kehidupan warga kecamatan Delang sampai saat ini,” ujarnya.
Daud menjelaskan meski dalam perkembanganya kini ada perbedaan agama di tengah masyarakat, namun tradisi ini telah menjadi bagian budaya bagi semua dan terus dipelihara.
Ia menyebut Sangan juga dipakai dalam upaya penanaman nilai pada anak. Melalui kisah-kisah yang biasanya melibatkan hewan dan alam sebagai tokohnya.
Sementara itu Yuli Ana, sosiolog dari FISIP Universitas Palangka Raya menjelaskan pentingnya Sangan dan tradisi mendongen lain dalam pembentukan nilai. Ia juga menyoroti efek perkembangan teknologi yang kini banyak berpengaruh pada anak-anak. Kebiasaan interaksi melalui dongeng menurutnya kini berubah dengan adanya praktik screentime sebagai imbas perkembangan teknologi.
Ia menguraikan bila dilihat dari perspektif sosiologi, realitas sosial sendiri dibentuk secara sosial. Ia mengutip pandangan Berger dan Luckman lewat sosiologi pengetahuan, yang menunjukkan peran dongen seperti Sangan dalam membangun realitas. Termasuk bagaimana Sangan mendorong internalisasi nilai-nilai yang dipegang masyarakat.
“Dongeng adalah bentuk kreasi peradaban yang mempengaruhi kehidupan kita. Melembaga karena dia berperan menanamkan nilai,” ujarnya.
Yuli pun turut memberi contoh bagaimana dongeng membentuk pula kearifan lokal termasuk dalam praktik berladang dengan cara membakar. Praktik yang mesti berisiko pada kebakaran namun dengan nilai-nilai yang dihidupi, bisa dikelola dengan baik. Dengan demikian ada dampak sosial Sangan yang baik untuk dihidupi.
“Dalam konteks keluarga sendiri, dengan adanya penuturan Sangan akan membentuk individu dalam keluarga. Sangan menjadi control sosial. Lewat Sangan, anak-anak bisa memahami aturan yang tidak tertulis,” urainya.
Pada pesannya, Yuli mengajak anak muda untuk tidak malu menjadi masyarakat adat dan memelihara kearifan lokal mereka. Sebab pada kearifan lokal itu, ada tradisi penanaman nilai yang sejatinya berperan membentuk karakter serta cara pandang masyarakat Dayak pada kelestarian alam.
Laporan: Thomas | Editor: Thomas