Membentuk Karakter Kuat, Melahirkan Generasi Hebat

pranusa.id February 20, 2026

Penulis adalah Chr. Danang Wahyu P, S.Or., M.M | Guru SMA Kolese De Britto Yogakarta

KOLOM— Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, Generasi Z dan Alpha tumbuh dalam dunia yang serba cepat, kompetitif, sekaligus penuh distraksi. Dalam konteks ini, terdapat tiga aspek fundamental yang harus dimiliki agar mereka berkembang optimal: menjadi diri sendiri, mampu menyelesaikan masalah, dan mampu bekerja sama. Ketiganya bukan sekadar keterampilan tambahan, melainkan fondasi eksistensial bagi mereka untuk bertahan dan berkembang secara bermakna. Hal ini berkelindan erat dengan peran pendidikan sebagai sarana memanusiakan manusia seutuhnya.

Pertama, menjadi diri sendiri. Ini bukan berarti individualisme sempit, melainkan memiliki prinsip, identitas, dan arah hidup yang jelas. Generasi Z dan Alpha hidup di tengah budaya perbandingan sosial yang tinggi akibat media digital. Tanpa prinsip yang kuat, mereka mudah kehilangan jati diri dan terombang-ambing oleh tren. Oleh karena itu, pendidikan harus berfungsi sebagai ruang pembebasan, bukan sekadar transfer pengetahuan. Pendidikan yang memerdekakan akan membantu peserta didik mengenal potensi, nilai, dan panggilan hidupnya. Inilah esensi pendidikan humanistik: bukan mencetak manusia seragam, melainkan membentuk pribadi autentik yang berintegritas.

Kedua, kemampuan menyelesaikan masalah. Ini adalah kompetensi krusial di era kompleksitas. Tantangan zaman tidak lagi sederhana; mulai dari krisis moral, perubahan sosial, hingga ketidakpastian global. Mereka yang hanya menghindari masalah akan tertinggal oleh dinamika zaman. Sebaliknya, generasi yang berani menghadapi persoalan dengan nalar kritis, reflektif, dan solutif akan menjadi agen perubahan. Di sinilah pendidikan bermakna menemukan relevansinya. Pembelajaran tidak boleh hanya berorientasi pada hafalan, tetapi harus melatih daya pikir, empati, dan ketangguhan mental untuk membentuk karakter resilien.

Ketiga, kemampuan kolaborasi. Dunia modern tidak lagi menuntut kompetisi individual semata, tetapi sinergi lintas budaya dan perspektif. Generasi Z dan Alpha harus mampu membaca perkembangan zaman secara bijak: memilah informasi, melihat peluang, dan mengembangkan bakat secara optimal. Kolaborasi bukan sekadar kerja kelompok, melainkan kesadaran bahwa kemajuan bangsa hanya dapat dicapai melalui sinergi sosial. Dalam konteks ini, pendidikan bertanggung jawab menanamkan nilai gotong royong sebagai karakter kebangsaan yang tetap relevan dengan tantangan global.

Gagasan mengenai pentingnya pendidikan sebagai fondasi kemajuan bangsa menegaskan bahwa pendidikan adalah instrumen pembangunan peradaban. Pendidikan yang memerdekakan bertujuan mengembangkan kecerdasan intelektual, moral, spiritual, dan sosial secara utuh. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga berakhlak mulia.

Dalam kerangka pembentukan karakter tersebut, penguatan kembali nilai-nilai Pancasila—melalui semangat Pedoman, Penghayatan, dan Pengamalan Pancasila (P4)—menjadi sangat relevan. P4 bukan sekadar dokumen historis, melainkan pedoman karakter kebangsaan yang mampu membentuk kesadaran ideologis. Di tengah krisis nilai dan polarisasi sosial, pendidikan karakter berbasis Pancasila dapat dicanangkan kembali sebagai motor perubahan bagi pendidik dan peserta didik dalam proses pembelajaran di sekolah.

Lebih jauh, implementasi pendidikan karakter harus dilakukan secara berjenjang dan kontekstual. Indonesia membutuhkan warga negara yang kritis, beretika, dan sadar politik secara substantif. Oleh karena itu, nilai-nilai dalam P4 perlu dihidupkan kembali agar murid memahami bahwa kebijakan publik lahir dari proses politik yang berdampak langsung pada kehidupan. Pendidikan tidak boleh hanya mencetak lulusan cerdas, tetapi juga warga negara yang bertanggung jawab.

Kunci utama sumber daya manusia (SDM) unggul bukan terletak pada kesempurnaan metode pembelajaran, melainkan kesesuaian metode dengan konteks zaman. Kurikulum harus adaptif terhadap era digital tanpa kehilangan akar kebangsaan. Pendidikan karakter berbasis Pancasila adalah jangkar untuk membentuk perilaku yang selaras dengan cita-cita luhur: persatuan, keadilan, dan kedaulatan.

Pada akhirnya, kualitas karakter Generasi Z dan Alpha—yang kelak menjadi elite politik dan penentu kebijakan—sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan karakter di sekolah saat ini. Proses pendidikan yang baik akan melahirkan hasil yang baik pula, karena proses tidak pernah mengkhianati hasil. Pembentukan karakter berbasis Pancasila adalah investasi jangka panjang yang tak ternilai.

Ketika semangat P4 diinternalisasikan kembali, kita akan melihat lahirnya generasi yang berprinsip, tangguh hadapi masalah, dan mahir berkolaborasi. Inilah fondasi menuju Indonesia Maju; bangsa yang kuat secara moral, sosial, dan intelektual, dengan Pancasila sebagai kompas peradaban yang nyata dan kontekstual.

Editor: Michael Silvester

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Negosiasi Sukses: Ekspor Sawit, Tekstil, hingga Semikonduktor RI ke AS Kini Kena Tarif Nol Persen
WASHINGTON D.C. – Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat (AS)…
Laku Rp6,5 Miliar, Lukisan “Kuda Api” SBY Dibeli Orang Terkaya Kedua di Indonesia
JAKARTA – Sebuah lukisan karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang…
Menlu Sugiono Tegaskan DK PBB dan Board of Peace Harus Bersinergi Wujudkan Perdamaian Gaza
NEW YORK – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara…
Hadir di Rapat DK PBB, Menlu Sugiono Kecam Keras Pendudukan Israel di Tepi Barat
NEW YORK – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara…
Pertemuan Board of Peace Washington: Indonesia Dipercaya Emban Jabatan Wakil Komandan ISF
WASHINGTON D.C. – Indonesia secara resmi ditunjuk untuk mengemban posisi…
WhatsApp Image 2026-02-09 at 10.45.26