AMAN Kalbar: Penanganan Karhutla Jangan Mengorbankan Hak Masyarakat Adat

pranusa.id August 23, 2026

FOTO: Tono. Ketua PHW AMAN KALBAR

PONTIANAK, PRANUSA.ID — Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Kalimantan Barat meminta penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalbar dilakukan secara objektif dan tidak mengorbankan hak masyarakat adat.

Ketua Pelaksana Harian Wilayah AMAN Kalbar, Tono, mengatakan penanganan karhutla dan kabut asap yang kini berdampak terhadap kesehatan masyarakat, pendidikan, aktivitas ekonomi, hingga penerbangan harus menjadi perhatian bersama.

Namun, menurut dia, upaya penanganan bencana tersebut perlu tetap mempertimbangkan hak masyarakat adat, termasuk praktik perladangan tradisional berbasis kearifan lokal.

Pernyataan itu disampaikan Tono menyusul adanya permintaan Presiden Prabowo Subianto kepada Gubernur Kalimantan Barat untuk mencabut Peraturan Daerah (Perda) Provinsi Kalimantan Barat Nomor 1 Tahun 2022 tentang Pembukaan Lahan Perladangan Berbasis Kearifan Lokal.

“Pemerintah perlu melihat persoalan karhutla secara objektif dan berdasarkan fakta di lapangan. Jangan sampai penanganan karhutla justru melahirkan persoalan baru bagi masyarakat adat,” kata Tono dalam keterangan tertulis, Minggu (23/8/2026).

Tono menilai Perda Nomor 1 Tahun 2022 memiliki arti penting bagi masyarakat adat, khususnya peladang tradisional, karena memberikan kepastian hukum terhadap praktik perladangan yang telah diwariskan secara turun-temurun.

Ia menyebut praktik perladangan tradisional berbasis kearifan lokal merupakan bagian dari hak tradisional masyarakat adat yang telah diakui dalam konstitusi dan peraturan perundang-undangan.

Karena itu, AMAN Kalbar meminta pemerintah membedakan praktik pembukaan lahan untuk perladangan tradisional yang dilakukan secara terkendali dengan pembakaran lahan yang dilakukan untuk kepentingan bisnis dan melanggar hukum.

“Pemerintah harus bisa membedakan antara praktik perladangan tradisional yang terkendali dan berbasis kearifan lokal dengan pembakaran lahan untuk kepentingan bisnis yang melanggar hukum,” ujarnya.

Menurut Tono, evaluasi terhadap penyebab karhutla semestinya dilakukan berdasarkan temuan dan fakta empiris di lapangan, termasuk lokasi titik api serta hasil penegakan hukum terhadap kasus-kasus karhutla.

Ia mengatakan AMAN Kalbar tidak ingin masyarakat adat menjadi pihak yang dikorbankan dalam kebijakan penanganan karhutla. Pencabutan perda, kata dia, berpotensi menimbulkan ketidakpastian hukum bagi masyarakat adat yang selama ini menjalankan tradisi berladang.

Selain itu, perubahan status praktik berladang dari aktivitas yang memiliki payung hukum menjadi aktivitas yang berpotensi dianggap melanggar aturan dinilai dapat meningkatkan risiko kriminalisasi terhadap masyarakat adat.

Karena itu, AMAN Kalbar mendorong pemerintah membuka ruang dialog dengan masyarakat adat dan seluruh pemangku kepentingan sebelum mengambil keputusan terkait Perda Nomor 1 Tahun 2022.

“Jangan sampai upaya penanganan bencana karhutla memicu persoalan baru. Dialog bersama semua pihak harus dikedepankan agar kebijakan yang diambil benar-benar menyelesaikan persoalan tanpa menghilangkan hak masyarakat adat,” kata Tono.

AMAN Kalbar menegaskan mendukung upaya pemerintah dalam mengatasi karhutla dan melindungi masyarakat dari dampak kabut asap. Namun, penanganannya dinilai perlu dilakukan secara adil, berbasis data, serta tetap menghormati hak dan kearifan lokal masyarakat adat.

Laporan: Ridhoino Kristo Sebastianus Melano | Jurnalis Masyarakat Adat Kalimantan Barat

Editor: Michael

a34a305b-0230-41ea-a533-3e9cf5b7fbca
Berita Lainnya
2 Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran, Mahasiswa Adakan Aksi Demonstrasi di DPRD Kota Yogyakarta
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di…
Memasuki Masa Pemulihan Gempa Flores, Julie Sutrisno Laiskodat Salurkan 100 Paket Sembako di Ende
ENDE, PRANUSA.ID — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem…
BPA Brokers Dorong Perusahaan Jadikan Dana Pensiun sebagai Strategi Jangka Panjang Sejahterakan Karyawan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Di tengah ketatnya persaingan merebut talenta terbaik,…
Aksi di Patung Selamat Datang, Greenpeace Indonesia Soroti Dampak Krisis Iklim Dua Tahun Prabowo-Gibran
JAKARTA, PRANUSA.ID — Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia menggelar aksi damai…
PT BCTC Buka Suara Soal Tuntutan Ganti Rugi, Sebut Tidak Mengabaikan Hak Pemilik Lahan
ENDE, PRANUSA.ID — Pihak kontraktor pelaksana PT Bina Citra Teknik…