
PONTIANAK, PRANUSA.ID – Antrean panjang di sejumlah stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) Pontianak belakangan ini bukan sekadar persoalan bensin.
Fenomena ini menjadi potret gamblang tentang bagaimana negara mengelola informasi dan bagaimana publik menanggung akibat dari komunikasi yang tidak utuh.
Dalam beberapa hari terakhir, pemandangan serupa terus berulang di mana warga rela mengantre berjam-jam di bawah hujan hanya untuk mendapatkan setangki BBM.
Barisan kendaraan yang mengular dari halaman SPBU hingga ke badan jalan telah memicu kemacetan dan keresahan publik.
Situasi ini bukan semata-mata disebabkan oleh distribusi yang terhenti total.
Antrean tersebut sejatinya dipicu oleh satu fenomena yang jauh lebih cepat menyebar, yakni pembelian panik (panic buying).
Gelombang ketakutan itu berawal dari pernyataan Menteri ESDM Bahlil Lahadalia yang menyebut stok BBM nasional tersisa sekitar 20 hari.
Pernyataan tersebut disampaikannya saat memberikan keterangan di Istana Negara pada Senin (2/3/2026).
“Masih cukup untuk 20 hari dan kalau sampai dengan sekarang belum terganggu,” ucapnya.
Pernyataan singkat tanpa penjelasan memadai sejak awal itu segera menyebar luas di tengah masyarakat.
Publik pun menangkapnya secara harfiah bahwa persediaan BBM akan segera habis.
Padahal, konteks pernyataan tersebut berkaitan dengan dinamika global, terutama meningkatnya ketegangan di kawasan Timur Tengah.
Isu tersebut mencakup potensi penutupan Selat Hormuz yang merupakan sebuah jalur vital distribusi minyak dunia.
Kekhawatiran kian meningkat ketika muncul laporan mengenai sejumlah kapal tanker yang tertahan di kawasan tersebut.
Salah satunya termasuk armada kapal milik PT Pertamina International Shipping.
Kondisi ini diperparah oleh ancaman dari Jenderal Sardar Jabbari asal Iran terkait lalu lintas perkapalan.
“Teheran tidak akan membiarkan setetes minyak pun meninggalkan wilayah tersebut,” tegasnya.
Namun, pernyataan berbeda datang dari Duta Besar Iran untuk Indonesia Mohammad Boroujerdi.
Ia menegaskan bahwa jalur tersebut tidak ditutup oleh pihak Iran.
“Yang khawatir terkait penutupan Selat Hormuz, harus menanyakan kepada Amerika Serikat yang datang dari jauh sekali ke kawasan Timur Tengah, kemudian mengganggu keamanan di Selat Hormuz,” ujarnya.
Di tengah tarik-menarik narasi global itu, langkah publik bergerak jauh lebih cepat daripada klarifikasi pemerintah.
Ketakutan pun menjadi respons yang paling spontan.
Salah satu warga Pontianak bernama Silvi mengaku ikut mengantre di SPBU demi mendapatkan pasokan.
Ia merasa khawatir tidak kebagian pasokan BBM untuk kendaraannya.
“Saya dengar dari orang-orang juga kalau BBM mau langka, jadi takut tidak kebagian dan pokoknya kalau bensin motor sudah hampir habis, jadi tetap harus antre panjang lagi,” keluhnya.
Belakangan, Bahlil Lahadalia akhirnya memberikan klarifikasi kepada publik.
Hal itu disampaikannya saat ditemui oleh awak media untuk meluruskan kesalahpahaman.
“Stok BBM kita itu sekitar 20 hari, tapi ini tidak berarti akan habis karena sistemnya seperti toren yang terus terisi,” ungkapnya.
Ia juga menambahkan bahwa kondisi cadangan energi nasional masih berada di atas ambang batas aman.
“Standar minimal ketersediaan kita itu harus di atas 20 hari dan sekarang minyak kita 23 hari, jadi itu artinya kondisi kita aman sehingga tidak perlu panik membeli,” tambah Bahlil.
Namun, dalam pusaran informasi politik, kesan pertama terbukti jauh lebih kuat daripada penjelasan lanjutan.
Klarifikasi yang datang belakangan nyatanya tidak sepenuhnya mampu meredakan ketakutan yang sudah telanjur menyebar luas.
Pemerintah daerah pun turun tangan dan mencoba untuk menenangkan situasi.
Wali Kota Pontianak Edi Rusdi Kamtono menegaskan bahwa ketersediaan stok BBM di wilayahnya berstatus aman.
“Kami ingin memastikan stok BBM di Kota Pontianak ini aman dan tersedia, di mana antrean panjang ini bukan karena kelangkaan melainkan gangguan distribusi dan pembelian panik,” ujarnya.
Meski demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan dinamika yang jauh lebih kompleks.
Lonjakan permintaan secara tiba-tiba membuat sejumlah SPBU kewalahan menghadapi konsumen.
Stok yang ada menjadi cepat habis, sementara pasokan berikutnya tidak selalu datang tepat waktu.
Kondisi inilah yang kemudian memperkuat persepsi kelangkaan di tengah masyarakat.
Dampaknya bahkan terasa lebih parah di wilayah penyangga seperti Kabupaten Kubu Raya.
Di wilayah tersebut, jumlah SPBU masih terbatas dan letaknya saling berjauhan.
Pada daerah-daerah ini, pembelian panik tidak hanya memicu kemacetan antrean.
Fenomena tersebut juga membuka ruang bagi praktik curang penimbunan bensin.
Bensin timbunan itu kemudian disalurkan kepada pelaku usaha eceran.
Harganya bahkan bisa dijual jauh lebih mahal jika isu kelangkaan minyak itu benar-benar terjadi.
Anggota DPRD Kalbar Yandi turut mengingatkan pentingnya pengawasan distribusi hingga ke tingkat daerah.
Langkah ini krusial supaya tidak ada oknum siluman yang menimbun bensin hingga menyebabkan kelangkaan pasokan.
“Permintaan meningkat karena warga berbondong-bondong membeli, sehingga distribusi harus dicek sampai ke daerah untuk memastikan di lapangan tidak terjadi kelangkaan,” tutur Yandi.
Krisis yang terlihat hari ini sejatinya bukan semata-mata krisis pasokan minyak.
Fenomena ini adalah krisis komunikasi dan lebih jauh lagi, sebuah krisis kepercayaan.
Ketika informasi disampaikan tanpa konteks yang utuh, ruang publik akan segera dipenuhi oleh spekulasi dan kekhawatiran.
Dalam situasi seperti ini, yang bergerak paling cepat bukanlah pendistribusian BBM, melainkan ketakutan itu sendiri.
Kondisi ini sekaligus menjadi tanda peringatan bahwa publik sudah tidak lagi percaya sepenuhnya pada jaminan negara.
Fakta ini tetap terjadi meskipun sudah banyak pejabat yang turun gunung memastikan semua kondisi aman dan terkendali.
Laporan: Judirho | Editor: Arya