Arkora Hydro Berkomitmen Dukung Pengembangan Energi Bersih di Indonesia | Pranusa.ID

Arkora Hydro Berkomitmen Dukung Pengembangan Energi Bersih di Indonesia


Aldo Artoko, Presiden Direktur Arkora HydroPT Arkora Hydro menunjukkan komitmennya mendukung pengembangan energi bersih di Indonesia melalui berbagai proyek pembangkit tenaga air yang telah dan sedang disiapkan. Perusahaan yang baru berusia 12 tahun ini, menangkap peluang kebijakan pemerintah yang makin serius menggalakkan energi hijau sesuai tren global menuju visi karbon netral 2060 mendatang.

Saat ini, Arkora Hydro memiliki 2 pembangkit listrik tenaga air yang beroperasi dengan total kapasitas terpasang sebesar 17,4 MW dan 2 pembangkit tenaga air yang sedang dalam konstruksi dan persiapan konstruksi dengan kapasitas 10 MW dan 5.4 MW. Arkora Hydro juga memiliki proyek-proyek dalam daftar pengembangan yang sudah masuk DPT PLN sebesar lebih dari 50 MW.

Dipimpin oleh pengusaha muda yang memiliki kecintaan terhadap energi bersih dan berkelanjutan, serta memiliki pengalaman di bidang energi terbarukan, Arkora mencanangkan visinya besarnya. Memperluas portofolio proyek energi terbarukan dan menjadi salah satu pemimpin pasar pembangkit listrik energi terbarukan secara bertanggung jawab terhadap lingkungan dan sosial.

Presiden Direktur Arkora Hydro, Aldo Artoko dalam konferensi pers pada Rabu (31/3/2022) menyampaikan semangat Arkora yang tak hanya mendorong energi bersih namun juga memberikan stabilitas pasokan listrik untuk masyarakat di daerah.

“Ini merupakan suatu kebanggaan bisa membantu PLN menjaga kestabilan listrik di daerah,” ujar lulusan UNSW School of Mechanical and Manufacturing Engineering Sydney, Australia tersebut.

Aldo mengungkapkan, Indonesia memiliki potensi besar di bidang Energi Baru Terbarukan (EBT) atau renewable energy seperti tenaga air, surya, panas bumi dan angin. Namun, pemanfaatan potensi EBT tersebut masih sangat kecil. Sampai akhir 2021, berdasarkan data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), total kapasitas pembangkit EBT masih 11.152 MW, sementara itu total kapasitas pembangkit listrik di Indonesia mencapai 73.736 MW.

Data yang sama menunjukkan, tingkat bauran energi baru terbarukan (energy mix) sampai akhir 2021 mencapai 13,5 persen. Dalam rencana energi nasional, pemerintah ingin mencapai tingkat bauran energi sebesar 23 persen pada 2025. Berdasarkan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik Nasional (RUPTL) 2021-2030, untuk mencapai level tersebut, tambahan kapasitas pembangkit EBT yang dibutuhkan sebesar 10.640 MW.

Pembangkit listrik tenaga air merupakan penyokong terbesar pembangkit EBT. Pada 2021, gabungan pembangkit listrik tenaga air mencapai 6.601,9 MW. Berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional 2017, potensi PLTA mencapai 94.476 MW. Dengan kapasitas yang sekarang, potensi PLTA yang termanfaatkan baru 6,99 persen.

Meskipun masih kecil, sumbangan PLTA terhadap total kapasitas pembangkit EBT tergolong besar. Berdasarkan data Kementerian ESDM, per 2021, kontribusi PLTA dalam EBT mencapai 59 persen. Dalam RUPTL 2021-2030 juga disebutkan bahwa PLN menargetkan penambahan kapasitas PLTA sebesar 3.150 MW.

PLTA juga bisa diandalkan sebagai pembangkit beban dasar (base load power plant), yang bisa menggantikan peran PLTU Batu Bara di masa datang. Sebagai gambaran, pemerintah sudah mencanangkan target netral karbon (net zero emission) pada 2060. Sektor energi, termasuk kelistrikan, menjadi kontributor utama pengurangan emisi karbon tersebut.

Selain itu, biaya pembangkitan dengan menggunakan EBT sudah semakin turun dan kompetitif, termasuk harga listrik yang berasal dari PLTA. Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo, dalam sejumlah kesempatan mengungkapkan, harga jual listrik PLTA saat ini sudah berada di kisaran Rp943-945 per kWh (di bawah Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan Nasional Tahun 2020 sebesar Rp 1.027 per kWh).

Dengan gambaran seperti di atas, Arkora fokus pada pengembangan dan pengoperasian PLTA. Didukung oleh tim insinyur yang ahli dan berpengalaman, Arkora siap mempercepat perkembangan energi terbarukan di Indonesia melalui pembangunan PLTA aliran sungai langsung (run-of-river).

Saat ini, menurut Aldo, Arkora mengoperasikan dua PLTA sebesar 17,4 megawatt (MW) di Jawa Barat dan Sulawesi Tengah. Arkora juga sedang melakukan pembangunan pembangkit listrik dengan kapasitas 10 MW di Sulawesi Tengah-2 dengan target commisioning operation date pada kuartal I-2023 dan pembangkit 5,4 MW di Lampung, Sumatera, dengan target commissioning operation date pada kuartal IV-2024.

Terkait proyeknya di Sulawesi Tengah yang bernilai sekitar USD 17,8 juta, Aldo menjelaskan bahwa sebagaimana umumnya kerja sama dengan PLN, durasi kontrak akan mencapai sekitar 25 tahun.

“Selama 25 tahun ke depan, seluruh listrik yang kita hasilkan akan diserap oleh PLN,” jelasnya.

Aldo berbangga, timnya berhasil menyelaraskan arah bisnis sesuai dengan salah satu isu prioritas Presidensi G20, yaitu agenda transisi energi. Dalam Forum Energy Transition Working Group yang menjadi rangkaian agenda Presidensi G20 baru-baru ini di Yogyakarta, anak usaha Arkora Hydro, PT Arkora Energi Baru (AEB) menjalin kerja sama strategis dengan PLN dalam upaya menuju Karbon Netral 2060. AEB menjadi salah satu perusahaan yang ikut dalam acara tersebut dengan menandatangani kesepakatan jual-beli listrik (Power Purchasing Agreement/PPA) untuk PLTM Kukusan 2 di Lampung.

“Penandatanganan PPA ini merupakan komitmen jangka panjang kami untuk terus membangun pembangkit listrik tenaga air yang merupakan bagian penting dari energi baru terbarukan,” sambung Aldo.

Selain total 32,8 MW dari kapasitas terpasang dan dalam tahap konstruksi, serta kerja sama yang dijalin bersama PLN, Arkora Hydro terus aktif mengembangkan potensi-potensi tenaga air baik secara organik maupun inorganik.

Arkora selama ini menjaga kualitas bisnisnya dengan dukungan pendanaan konsorsium keuangan ternama serta lembaga multilateral yang diakui secara global seperti Indonesia Infrastructure Finance (IIF). IIF merupakan anak Perusahaan PT Sarana Multi Infrastruktur (SMI), International Finance Corporation (IFC) dan Asian Development Bank (ADB), KfW Development Bank, dan Sumitomo Mitsui Banking Corporation (SMBC). Arkora pun berharap proyek PLTM Kukusan 2 Lampung nantinya juga bisa didukung oleh konsorsium pendanaan yang sama.

Melalui green financing dan dukungan stakeholders, Arkora Hydro yakin pembangunan PLTA di Indonesia dapat ditingkatkan guna mencapai target EBT 23% pada 2025.

Impian besar dan komitmen terhadap pengembangan energi bersih di Indonesia, begitu memotivasi manajemen Arkora. Aldo menyebut dalam jangka menengah 4 tahun mendatang, ia memiliki target kapasitas daya yang bisa dihasilkan perusahaannya mencapai sekitar 125 MW dan lebih jauh bisa berkembang lagi.

“Dalam jangka waktu 4 tahun ke depan, kita berencana sudah memiliki 100-125 MW yang sudah beroperasi hydro power,” tandasnya Aldo.

Berita Terkait

Leave a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *


Top