
JAKARTA – Badan Pangan Nasional (Bapanas) memproyeksikan total ketersediaan beras nasional akan menembus angka sekitar 47,1 juta ton sepanjang tahun 2026. Jumlah masif tersebut dinilai lebih dari cukup untuk mengakomodasi kebutuhan konsumsi seluruh masyarakat Indonesia selama satu tahun penuh.
Direktur Distribusi dan Cadangan Pangan Bapanas, Rachmi Widiriani, menegaskan bahwa kondisi pasokan pangan nasional saat ini berada dalam tingkat yang sangat aman dan terkendali.
“Ketersediaan pangan nasional dipastikan dalam kondisi kuat dan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat sepanjang tahun,” terangnya di Jakarta, Rabu (11/3/2026).
Berdasarkan Proyeksi Neraca Pangan Beras per 5 Maret 2026, Rachmi meyakini angka 47,1 juta ton tersebut mampu menutupi kebutuhan konsumsi masyarakat yang trennya relatif stabil setiap bulan.
“Kebutuhan beras per bulan masyarakat Indonesia relatif stabil di angka 2,5 juta ton. Jadi untuk beras, Indonesia sudah surplus dan kita kuat,” ujarnya.
Secara rinci, proyeksi ketersediaan beras nasional sebesar 47,1 juta ton tersebut bersumber dari kalkulasi berikut:
Stok awal tahun: 12,4 juta ton
Proyeksi produksi 2026: 34,7 juta ton
Kebutuhan konsumsi nasional: 31,1 juta ton
Proyeksi stok akhir tahun: 16,0 juta ton
Dengan rincian hitungan tersebut, Indonesia diproyeksikan masih akan memiliki surplus stok akhir tahun sekitar 16 juta ton, yang secara langsung akan semakin mengokohkan ketahanan pangan nasional.
Selain beras, Bapanas juga mencatat kondisi surplus pada sejumlah komoditas pangan esensial lainnya, seperti telur dan daging ayam. Namun, untuk beberapa komoditas yang memang defisit, pemerintah tetap memberlakukan pengaturan pasokan melalui keran impor yang telah dikalkulasi matang sejak awal tahun.
“Kalau ada komoditas yang memang membutuhkan tambahan dari luar, misalnya bawang putih, maka itu sudah sejak awal diperkirakan,” paparnya.
Pemerintah secara detail menghitung kebutuhan dan mengatur jadwal kedatangan komoditas impor agar ketersediaan di pasar tetap terjaga dan gejolak harga di dalam negeri dapat dihindari.
Secara terpisah, Kepala Kantor Staf Kepresidenan, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa sektor pangan memang menjadi salah satu fokus utama dalam pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
“Bapak Presiden dari awal sudah sangat menekankan pentingnya soal swasembada pangan,” katanya.
Ia menambahkan bahwa berbagai inisiatif penguatan ketahanan pangan yang dieksekusi oleh pemerintah saat ini merupakan wujud strategi antisipatif dalam menghadapi potensi krisis global.
“Tanpa pangan, tidak ada negara,” tegasnya.
Pernyataan senada juga disuarakan oleh Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman. Ia menjamin bahwa kondisi lumbung pangan nasional berada dalam status yang sangat aman dari ancaman krisis.
“Kalau kita lihat data hari ini, ketersediaan pangan kita sangat aman. Total stok beras nasional cukup untuk 324 hari ke depan atau sekitar 10,8 bulan, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir,” pungkasnya.
Laporan: Severinus | Editor: Arya