
JAKARTA, PRANUSA.ID — Di tengah tingginya ketidakpastian perekonomian global akibat konflik di Timur Tengah serta kenaikan suku bunga Bank Indonesia, industri otomotif nasional tetap mencatatkan kinerja penjualan yang positif sepanjang semester I 2026.
Penjualan ritel sepeda motor baru tercatat tumbuh sebesar 10% menjadi 3,3 juta unit, sementara penjualan ritel mobil baru meningkat 11% menjadi 434 ribu unit.
Sejalan dengan tren positif tersebut, PT Adira Dinamika Multi Finance Tbk (Adira Finance) membukukan pertumbuhan pembiayaan baru yang solid sebesar 18% secara tahunan (yoy) menjadi Rp23,1 triliun pada paruh pertama tahun 2026.
Pertumbuhan pembiayaan tersebut terjadi secara merata di seluruh segmen, baik pada sektor otomotif maupun non-otomotif.
Peningkatan penyaluran pembiayaan turut mendongkrak piutang pembiayaan yang dikelola perusahaan sebesar 7% (yoy) menjadi Rp64,9 triliun.
Untuk mengoptimalkan layanan, Adira Finance saat ini mengandalkan jaringan operasional yang luas mencakup 844 kantor cabang dan satelit guna melayani 2,6 juta konsumen di seluruh Indonesia.
Direktur Utama Adira Finance, Dewa Made Susila, menyatakan bahwa perusahaan berkomitmen menjaga momentum pertumbuhan melalui penyaluran pembiayaan yang selektif.
“Perusahaan akan tetap mengutamakan kualitas pembiayaan, menerapkan pengelolaan risiko yang prudent, serta mencermati perkembangan kondisi ekonomi dan daya beli masyarakat,” ungkap Dewa Made Susila.
Dari sisi kinerja keuangan, total pendapatan perusahaan meningkat 9% secara tahunan (yoy) menjadi Rp6,5 triliun yang ditopang oleh kenaikan rata-rata aset yang dikelola.
Efisiensi biaya juga tercermin dari penurunan beban pendanaan sebesar 6% serta penurunan beban penyisihan kerugian penurunan nilai sebesar 13% menjadi Rp1,16 triliun.
Secara keseluruhan, laba bersih Adira Finance melesat signifikan sebesar 37% secara tahunan (yoy) hingga mencapai Rp1,1 triliun pada semester I 2026.
Direktur Keuangan Adira Finance, Sylvanus Gani Mendrofa, menjelaskan bahwa pencapaian laba bersih tersebut didorong oleh kinerja bisnis yang solid serta disiplin dalam pengelolaan biaya operasional.
“Ke depan, perusahaan akan terus menjaga kualitas aset dan mengoptimalkan komposisi sumber pendanaan di tengah tren kenaikan suku bunga, dengan tetap memperhatikan kecukupan likuiditas dan efisiensi biaya guna mempertahankan profitabilitas,” pungkas Gani.
Laporan: Severinus | Editor: Michael