
JAKARTA – Rusia menyatakan kesiapan penuh untuk berpartisipasi dalam pembangunan Bandar Antariksa Biak di Papua, yang merupakan proyek strategis nasional untuk memperkuat kemandirian akses antariksa Indonesia.
Dukungan kerja sama ini membuka peluang besar bagi Indonesia untuk mendapatkan kolaborasi teknologi dan transfer pengalaman peluncuran roket dari Negeri Beruang Merah.
Duta Besar Rusia untuk Indonesia, Sergei Tolchenov, menegaskan bahwa Rusia siap terlibat dan membantu secara teknis apabila Indonesia membutuhkan pendampingan dalam mengimplementasikan proyek antariksa tersebut.
“Jika mitra tertarik untuk memanfaatkan pengalaman dan teknologi Rusia dalam pelaksanaan proyek semacam itu, kami bersedia berpartisipasi dalam implementasinya atas dasar saling menguntungkan,” kata Tolchenov.
Sementara itu, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) saat ini juga tengah menggenjot percepatan realisasi infrastruktur darat peluncuran antariksa tersebut melalui penyelarasan regulasi lintas sektor.
“BRIN sedang memformulasikan regulasi turunan agar setelah pengesahan Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP), penetapan lokasi dan implementasi pembangunan dapat segera dilakukan, termasuk pembukaan lahan BRIN di Biak yang direncanakan mulai tahun 2026,” ujar Kepala BRIN, Arif Satria.
Pelaksana Tugas Deputi Bidang Kebijakan Pembangunan BRIN, Anugerah Widiyanto, memastikan bahwa landasan hukum pembangunan pelabuhan antariksa ini sudah sangat kuat dan siap dieksekusi secara operasional.
“RPP tentang Penyelenggaraan Bandar Antariksa telah menyelesaikan proses harmonisasi dan siap menjadi dasar operasional pembangunan. Selain itu, rencana induk keantariksaan perlu diperbarui hingga 2045 agar sejalan dengan visi pembangunan nasional,” kata Anugerah.
Secara teknis, pemilihan Pulau Biak di Papua didasarkan pada keunggulan geografisnya yang berada sangat dekat dengan garis khatulistiwa. Posisi ekuatorial tersebut memberikan gaya dorong alami dari rotasi bumi, sehingga mampu menciptakan efisiensi energi dan menekan biaya peluncuran roket secara signifikan, khususnya untuk misi menuju orbit rendah Bumi (Low Earth Orbit/LEO).
Pengembangan proyek berskala internasional ini diharapkan tidak hanya memperkuat diplomasi teknologi, tetapi juga mampu mendongkrak perekonomian di kawasan timur Indonesia.
“Ekonomi antariksa global diperkirakan mencapai sekitar lima persen dari Produk Domestik Bruto (PDB) dunia. Pembangunan Bandar Antariksa Biak akan memberikan multiplier effect bagi daerah, mulai dari penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, hingga penguatan diplomasi antariksa,” jelas Anugerah memungkasi.
Laporan: Marsianus | Editor: Michael