Tolak Gencatan Senjata, Iran Konfirmasi Adanya Upaya Mediasi dari Rusia dan Turki

pranusa.id March 12, 2026

FOTO: Iran

TEHERAN – Upaya mediasi konflik antara Iran dengan Amerika Serikat (AS) dan Israel mulai digagas oleh sejumlah negara, termasuk Rusia dan Turki. Meski komunikasi diplomatik antaranegara terus berjalan, pihak Iran dilaporkan masih menolak tawaran gencatan senjata di tengah eskalasi yang kian memanas di kawasan Timur Tengah.

Informasi mengenai manuver diplomatik tersebut diungkapkan oleh seorang sumber anonim yang memiliki kedekatan dengan pemerintah Iran. Ia membenarkan bahwa berbagai pihak internasional dan regional telah berupaya membuka jalur diplomasi untuk meredakan ketegangan pascaserangan militer pada akhir Februari lalu.

“Saat ini, komunikasi masih berlangsung dan upaya negosiasi telah ditempuh oleh sejumlah pihak internasional dan kawasan, khususnya Rusia dan Turki,” ungkapnya kepada kantor berita RIA Novosti, Kamis (12/3/2026).

Sumber tersebut menambahkan bahwa Teheran pada prinsipnya menyambut baik iktikad mediasi tersebut, namun belum bersedia menghentikan perlawanan militernya saat ini.

“Iran pada dasarnya tidak menolak prinsip mediasi itu sendiri, tetapi pada saat ini, mereka tidak setuju akan adanya gencatan senjata,” tegasnya.

Sebelumnya, Juru Bicara Kremlin, Dmitry Peskov, telah menyatakan kesiapan Moskow untuk mengambil peran dalam membantu meredakan konflik Iran dengan AS dan Israel. Kendati demikian, ia menekankan bahwa proses deeskalasi tersebut membutuhkan tingkat koordinasi yang matang dengan berbagai aktor internasional.

Sebagai informasi, ketegangan di Timur Tengah memuncak usai AS dan Israel melancarkan serangan militer gabungan ke wilayah Iran, termasuk ibu kota Teheran, pada 28 Februari 2026. Serangan masif tersebut mengakibatkan kerusakan parah pada infrastruktur negara dan menelan korban jiwa.

Merespons agresi tersebut, Iran langsung melancarkan serangan balasan yang menyasar wilayah Israel serta sejumlah pangkalan militer AS di kawasan Timur Tengah.

Pada awalnya, pihak AS dan Israel mengklaim bahwa operasi militer tersebut bertujuan murni untuk melumpuhkan ancaman dari program nuklir Iran. Namun, belakangan muncul penilaian luas bahwa target sebenarnya dari agresi tersebut adalah memicu pergantian rezim kekuasaan di Teheran.

Situasi konflik menjadi semakin tak terkendali setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dilaporkan gugur pada hari pertama rentetan serangan gabungan tersebut. Sebagai bentuk penghormatan, pemerintah Iran telah menetapkan masa berkabung nasional selama 40 hari.

Terkait insiden tersebut, Presiden Rusia Vladimir Putin mengecam keras pembunuhan terhadap Khamenei dan menilainya sebagai bentuk pelanggaran yang sinis terhadap hukum internasional. Kecaman senada juga dilontarkan secara resmi oleh Kementerian Luar Negeri Rusia.

Hingga kini, pemerintah Rusia terus mendorong deeskalasi konflik dan penghentian permusuhan secepat mungkin guna mencegah meluasnya skala perang di Timur Tengah, seiring dengan berjalannya berbagai upaya mediasi internasional.

Laporan: Severinus | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Stop Impor, Prabowo Subianto Sebut Indonesia Akan Swasembada BBM
GORONTALO, PRANUSA.ID – Presiden Prabowo Subianto menyatakan dengan tegas Indonesia…
Soal Calon Ketum PBNU, Gus Ipul Sebut Nasaruddin Umar hingga Said Aqil Punya Peluang Sama
JAKARTA, PRANUSA.ID – Sekretaris Jenderal Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Saifullah…
Kemenpar Catat Kenaikan Signifikan Kunjungan Wisatawan pada Triwulan I 2026
JAKARTA, PRANUSA.ID – Kementerian Pariwisata mencatat sektor pariwisata Indonesia menunjukkan…
Eks Kabais TNI Sebut Penyiraman Air Keras ke Aktivis KontraS Hanya Kenakalan
JAKARTA, PRANUSA.ID – Mantan Kepala Badan Intelijen Strategis Tentara Nasional…
Rumah Terbakar Saat Renovasi, Anggota IV BPK RI Haerul Saleh Tutup Usia di Jagakarsa
JAKARTA, PRANUSA.ID – Anggota IV Badan Pemeriksa Keuangan Republik Indonesia…