
JAKARTA, PRANUSA.ID — Presiden FIFA, Gianni Infantino, kini menghadapi tekanan politik yang sangat besar dari UEFA yang mengultimatumnya untuk segera mengundurkan diri atau menghadapi mosi tidak percaya yang mengancam akhir kepemimpinannya.
Berdasarkan laporan The Telegraph, seluruh 55 asosiasi anggota UEFA menyatakan siap memberikan suara untuk mencopot Infantino jika ia menolak mundur, sementara mekanisme pengajuan mosi sebenarnya hanya membutuhkan dukungan 43 anggota.
Sikap tegas dari konfederasi sepak bola Eropa tersebut muncul sebagai reaksi keras setelah FIFA membatalkan rencana kontroversial senilai 15 miliar poundsterling (Rp364 triliun) yang bertujuan menjual sebagian kepemilikan hak komersial Piala Dunia kepada investor swasta.
Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) turut memberikan dukungan penuh dengan menilai bahwa tata kelola kepemimpinan FIFA saat ini memerlukan peninjauan menyeluruh agar kembali berjalan secara transparan demi kepentingan seluruh 211 asosiasi anggota.
“Kami tidak bisa terus berjalan dengan skema rahasia yang dipercepat, disusun oleh individu-individu tanpa wajah yang jelas, dan memiliki manfaat yang meragukan bagi sepak bola,” tegas pihak FA.
UEFA menilai Infantino telah mengingkari janji transparansi dan pengelolaan dana organisasi yang pernah disampaikannya saat pertama kali mencalonkan diri sebagai Presiden FIFA pada tahun 2016 silam.
Kontroversi ini sendiri bermula ketika rencana penjualan 30 persen hak komersial turnamen utama putra dan putri milik FIFA kepada investor swasta terungkap ke publik, yang dinilai berpotensi menyerahkan kendali komersial kepada pihak luar.
Gelombang penolakan yang semakin meluas dari aliansi UEFA, Concacaf, hingga Konfederasi Sepak Bola Asia (AFC) akhirnya memaksa pembatalan rencana tersebut karena Infantino gagal meraup dukungan mayoritas dari total anggota FIFA.
Laporan: Severinus | Editor: Michael