
RIYADH – Pemerintah Arab Saudi kembali menegaskan pendirian teguhnya bahwa kesepakatan gencatan senjata di Jalur Gaza harus berujung pada pembentukan negara Palestina yang merdeka dan berdaulat.
Tuntutan strategis tersebut merupakan bagian dari upaya diplomatik Arab Saudi untuk memastikan bahwa penghentian konflik bersenjata tidak hanya bersifat sementara, melainkan menjadi pijakan utama menuju perdamaian permanen.
Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan, menyatakan bahwa momentum gencatan senjata ini harus dimanfaatkan secara optimal oleh komunitas internasional.
“Gencatan senjata harus dimanfaatkan untuk memulihkan stabilitas, melakukan rekonstruksi, dan mengambil langkah nyata menuju kenegaraan Palestina,” ujar Pangeran Faisal.
Menurutnya, realisasi solusi dua negara (two-state solution) merupakan satu-satunya jalan keluar yang paling masuk akal untuk menciptakan keamanan dan stabilitas yang berkelanjutan di kawasan Timur Tengah.
Tanpa adanya pengakuan serta pemenuhan hak-hak politik rakyat Palestina, Arab Saudi memandang bahwa perdamaian yang komprehensif tidak akan pernah terwujud.
“Kami menyerukan gencatan senjata segera, permanen, dan berkelanjutan di Jalur Gaza sebagai pendahuluan untuk pembentukan negara Palestina,” tegasnya.
Lebih lanjut, otoritas Arab Saudi berulang kali menegaskan komitmennya untuk menahan segala bentuk normalisasi hubungan diplomatik dengan pihak Israel hingga berdirinya negara Palestina benar-benar direalisasikan.
Sikap konsisten dari Riyadh ini diharapkan dapat menekan berbagai pihak terkait agar kembali ke meja perundingan dengan fokus utama pada pembebasan wilayah Palestina sesuai parameter internasional.
Di samping dorongan politik, Pemerintah Arab Saudi juga memastikan akan terus melanjutkan penyaluran bantuan kemanusiaan berskala besar dan mendukung penuh proses rekonstruksi infrastruktur di Jalur Gaza pascaperang.
Laporan: Severinus | Editor: Michael