
JAKARTA — Sebuah fakta mengejutkan terungkap di penghujung tahun 2025, yakni mengenai ancaman radikalisme baru yang menyasar generasi muda Indonesia.
Data dari aparat penegak hukum dan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) menunjukkan sedikitnya 68 anak dari berbagai provinsi telah terpapar ideologi ekstrem Neo-Nazi dan white supremacy (supremasi kulit putih).
Paham kebencian yang selama ini identik dengan konteks Barat tersebut ditemukan merambah ruang pola pikir anak-anak Indonesia melalui masifnya arus informasi digital.
Paparan ini menyusup melalui media sosial, forum daring, hingga grup percakapan tertutup yang minim pengawasan orang tua maupun institusi pendidikan.
Kepala Badan Reserse Kriminal (Kabareskrim) Polri, Komjen Syahardiantono, memberikan penekanan serius bahwa karakter paparan ini telah melampaui rasa ingin tahu remaja pada umumnya.
Ia menyebut anak-anak tersebut telah masuk ke dalam pusaran paham ekstrem yang memengaruhi cara berpikir mereka secara mendasar.
“Mereka tidak hanya melihat konten, tetapi aktif berpartisipasi dalam kelompok daring yang memproduksi narasi kekerasan. Ini bukan sekadar rasa ingin tahu, ini sudah masuk ke ranah paham ekstrem,” tegas Syahardiantono saat menyampaikan Rilis Akhir Tahun 2025 di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Selasa (30/12/2025).
Keterlibatan anak-anak ini bukan sekadar menjadi penonton pasif. Beberapa kasus menunjukkan mereka mulai mengadopsi simbol-simbol supremasi kulit putih, melakukan glorifikasi terhadap pelaku kejahatan brutal, hingga merancang wacana kekerasan terhadap kelompok tertentu.
Bahkan, ditemukan indikasi ketertarikan pada senjata dan skenario kekerasan yang menyasar lingkungan sekolah, seperti yang sempat terdeteksi di SMAN 72 Jakarta Utara.
Menanggapi fenomena ini, Kepala BNPT Eddy Hartono menegaskan bahwa radikalisme di Indonesia kini tengah mengalami perubahan wajah yang sangat signifikan.
Menurutnya, negara kini menghadapi tantangan global di mana ideologi kebencian tidak lagi hanya berbasis agama, tetapi merambah ke masalah ras melalui jalur digital.
“Ancaman ekstremisme hari ini tidak selalu berbasis ideologi keagamaan. Kita melihat ideologi kebencian global berbasis ras masuk melalui ruang digital dan menyasar anak-anak. Ini tantangan serius bagi negara,” ujar Eddy Hartono.
Para ahli menilai ideologi ini mudah diterima karena dikemas secara sederhana dan emosional bagi remaja yang sedang mencari jati diri.
Fenomena ini sekaligus menjadi tamparan keras bagi rendahnya literasi digital dan lemahnya pengawasan di tingkat keluarga serta sekolah, yang kerap kali gagal mendeteksi dini perubahan perilaku anak yang mengarah pada paham intoleransi dan kekerasan.
Laporan: Judirho | Editor: Arya