Gereja yang Bergerak Menuju Pertobatan Ekologis Integral

pranusa.id March 8, 2026

JAKARTA — Masa praspaskah menjadi momen penting dalam melakukan refleksi, pengembangan spiritualitas, dan perubahan perilaku hidup yang lebih baik.

Paroki St. Gabriel Pulo Gebang melalui rekoleksi bertajuk Keutuhan Alam Ciptaan: Penghormatan Terhadap Martabat Manusia, mengajak umat untuk menggali spiritualitas kekatolikan yang mengarah pada pertobatan ekologis.

Acara yang digelar pada Sabtu, (7/3/2026), menghadirkan Hasto Kristiyanto yang merupakan tokoh awam Katolik yang berkarya di bidang politik serta Rm. Yos Bintoro, Pr yang berkarya dalam pelayanan di Ordinariat Militer Indonesia.

Hasto dalam refleksinya, membagikan pengalaman rohani dan buah kontemplasi yang diperolehnya dalam fase-fase perjuangan politiknya.

Terutama menyangkut keutuhan alam ciptaan yang secara mendalam direnungkannya dari ensiklik Laudato Si’ (Terpujilah Engkau), buah pikir mendiang Paus Fransiskus yang terinspirasi dari kidung Santo Fransiskus Asisi dan kini menjadi satu rujukan gereja dalam memaknai pertobatan ekologis.

Hasto memandang dalam kontemplasinya, bahwa masa prapaskah mestinya mematangkan iman dan mendorong gereja yang bergerak untuk merawat keutuhan alam ciptaan.

“Betapa setiap masa prapaskah ini, kita mematangkan keimanan kita. Tapi spiritualitas Katolik adalah Spiritualitas pembebasan dan dalam situasi apapun kita harus siap menempuh jalan pengorbanan seperti itu, apalagi ketika alam menangis, ketika bumi menderita. Maka kerasulan kita sekarang adalah kerasulan di dalam luka. Ini yang harus kita pahami sehingga kami sangat mengapresiasi ketika gereja Katolik dalam masa prapaskah ini mengungkapkan suatu tema tentang pertobatan ekologis,” ungkapnya di hadapan ratusan peserta rekoleksi.

Secara pribadi, Hasto mengisahkan bagaimana ia turut mendalami ragam spiritualitas dalam gereja Katolik, termasuk spiritualitas Fransiskan yang membantunya lebih dekat dengan alam dan bahkan menyapa ciptaan Tuhan yang lain sebagai saudara.

“Melalui Paus Fransiskus, saya belajar tentang Laudato Si’. Itu menurut saya sangat menggetarkan. Bagaimana kita menyatu dengan seluruh ciptaan dan bagaimana ketika bumi dieksploitasi dengan suara kemanusiaan bisa merasakan penderitaan bumi,” ujarnya.

Ini menggambarkan upaya penyatuan dengan seluruh ciptaan ini sebagai spiritualitas kemanusiaan.

Dalam kapasitas sebagai seorang Sekretaris Jenderal PDI-P, ia juga turut mengungkapkan bagaimana perspektif Presiden Kelima Republik Indonesia, Megawati Sukarnoputri, yang selaras dengan ajaran mendiang Paus Fransiskus tentang lingkungan.

Ia mengungkapkan sisi lain seorang Megawati Sukarnoputri yang juga meneruskan prinsip Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno, dalam memandang setiap pohon sebagai sumber hidup.

“Bagaimana bu Mega juga berdialog dengan Pohon dan mengatakan kepada saya bahwa pohon itu punya jiwa, kalau kita merawat pohon maka dia akan memberikan juga suatu kehidupan berupa oksigen bagi seluruh alam raya,” ujar pemilik gelar Doktor dari Universitas Indonesia dan Universitas Pertahanan tersebut.

Hasto juga mengingatkan bahwa kesadaran akan lingkungan tersebut juga mewujud dalam posisi partai yang mendorong kebijakan pro lingkungan. Kebijakan yang tercermin, baik lewat gerakan menanam pohon oleh partai, hingga penataan dan menghadirkan taman kota oleh kader-kadernya yang menjadi kepala daerah di seluruh Indonesia.

Begitu pun dalam jejak rekam kepemimpinan Presiden Pertama Republik Indonesia Sukarno maupun Presiden Kelima Megawati Sukarnoputri, ia mengingatkan tidak ada eksploitasi sumber daya alam yang masif sebagai bukti kebijakan yang sadar ekologis.

Presiden Kelima Republik Indonesia Kelima Megawati Sukarnoputri sendiri menurutnya menjadi pemimpin negara yang dikenal tidak pernah mengeluarkan izin serkebunan sawit, juga karena kesadaran yang tinggi akan pentingnya merawat ekologis.

Alumnus Universitas Gajah Mada itu pun menekankan bencana yang kini kerap melanda tanah air, perlu menjadi pengingat akan penderitaan bumi yang mengajak umat untuk makin peduli dan terlibat dalam semangat gereja yang bergerak bagi keutuhan ciptaan.

“Kita melihat seperti terjadi di Aceh Sumatera Utara dan Sumatera Barat, dan juga beberapa di Jawa tengah, Jawa Barat, bagaimana bumi telah menderita, bagaimana teriakan dari Paus Fransiskus menyadarkan gereja pentingnya kesatuan alam raya, bumi dan seisinya dengan umat manusia,” ujarnya semangat

Sementara itu, Romo Yos Bintoro, Pr menyampaikan perlunya memahami panggilan Tuhan serta refleksi sosial gereja dalam memahami keutuhan ciptaan.

Ia mengutip pandangan teolog gereja Katolik asal Jerman, Johann Baptist Metz yang dinilai turut menginpirasi mendiang Paus Fransiskus dalam merilis ensiklik Laudato Si’ pada masa kepausannya.

Teolog dan imam projo Johan Baptist Metz dikenal dengan pandangannya tentang memori pasionis atau mengenang sengsara. Sebuah pandangan spiritual yang memandang bahwa memori dan peringatan yang tepat terhadap penderitaan, dapat membantu untuk menghadapi kembali krisis sosial dan spiritual.

Momori pasionis dinilai tidak hanya berfungsi mengingat peristiwa luka yang menyakitkan, tapi juga membangun kehidupan yang lebih baik, termasuk dalam isu ekologis yang dihadapi banyak pihak termasuk masyarakat adat yang menggantungkan hidup pada lingkungan hidup.

“Kalau boleh dikatakan, siapa yang paling menaruh pengaruh besar pada refleksi teologi sosial gereja, kita harus mengatakan dialah Johann Baptist Metz yang memberi pengaruh besar pada refleksi Paus Fransiskus untuk menulis ensiklik Laudato Si’,” pungkasnya.

Romo Yohanes Radityo Wisnu Wicaksono, Pr selaku Romo Kepala Paroki Pulo Gebang dalam pesannya, turut mengingatkan umat tentang pertobatan ekologis yang erat hubungannya dengan manusia

“Bahwa kepedulian terhadap lingkungan alam sekitar, itu tidak pernah boleh dipisahkan dari kepedulian terhadap manusianya yang amat sangat penting. Maka pertobatan ekologis yang integral, adalah pertobatan yang mengarah juga pada pertobatan martabat manusia itu sendiri,” ujarnya.

Ia pun mengingatkan umat tentang pentingnya pertobatan yang berdimensi solidaritas dan kepedulian sosial yang berkelanjutan.

“Maka dalam masa prapaskah ini, kita mau memaknai puasa, pantang, dan amal kasih kita, tidak hanya sekadar ritual. Tapi harus menghasilkan perubahan hidup yang nyata dan membawa kebaikan bagi sesama dan alam ciptaan,” tandasnya sembari berharap momen refleksi bersama para narasumber, dapat mendorong umat menjadi saksi Kristus yang tetap menjawab dalam iman dan moral untuk merawat alam ciptaan.

Laporan: Thomas R. Sembiring

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Rupiah Tertekan Imbas Konflik Timur Tengah
JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika…
Tragedi Longsor Sampah Bantargebang, Anggota DPR Desak Pemerintah Reformasi Total Tata Kelola Sampah
JAKARTA – Anggota Komisi XII DPR RI dari Fraksi Partai…
Tega Setubuhi Anak Kandung, Buruh Harian Lepas di Ende Diringkus Polisi
ENDE – Jajaran Kepolisian Resor (Polres) Ende menangkap seorang buruh…
Satreskrim Polres Ende Ringkus Komplotan Remaja Pembobol Belasan Laptop SD Inpres Roja 2
ENDE – Satuan Reserse Kriminal (Satreskrim) Kepolisian Resor (Polres) Ende…
Harga Minyak Dunia Meroket, Menkeu Buka Opsi Pangkas Anggaran Operasional Makan Gratis
JAKARTA – Menteri Keuangan Republik Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan…
ChatGPT Image 26 Feb 2026, 23.16.02
ChatGPT Image 26 Feb 2026, 23.11.40