Tembus Rp17.000 per Dolar AS, Rupiah Tertekan Imbas Konflik Timur Tengah

pranusa.id March 9, 2026

FOTO: Uang rupiah

JAKARTA – Nilai tukar rupiah kembali tertekan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada awal perdagangan pekan ini, Senin (9/3/2026). Nilai tukar tersebut melemah cukup dalam hingga menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS, yang memicu kekhawatiran di pasar keuangan domestik.

Pada perdagangan pagi di Jakarta, rupiah tercatat melemah 76 poin atau sekitar 0,45 persen menjadi Rp17.001 per dolar AS. Pelemahan ini menandai meningkatnya tekanan terhadap mata uang domestik di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

Level Rp17.000 selama ini dipandang sebagai batas psikologis yang penting bagi pergerakan rupiah. Ketika nilai tukar menembus angka tersebut, pasar umumnya menilai adanya tekanan yang signifikan terhadap stabilitas mata uang.

Tekanan terhadap rupiah terutama dipicu oleh meningkatnya sentimen penghindaran risiko (risk off) di pasar global. Dalam kondisi ini, investor cenderung mengalihkan dana dari aset berisiko di negara berkembang menuju instrumen yang dianggap lebih aman (safe haven), seperti dolar AS.

Perpindahan aliran dana tersebut membuat dolar AS semakin menguat, sementara mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, terus berada di bawah tekanan.

Selain itu, lonjakan tajam harga minyak dunia yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperburuk sentimen pasar. Konflik yang melibatkan Amerika Serikat dan Israel dengan Iran dilaporkan semakin meluas sehingga menimbulkan kekhawatiran atas potensi gangguan pasokan energi global.

Kondisi tersebut secara langsung mendorong harga minyak dunia naik tajam dan memicu kekhawatiran terhadap meningkatnya inflasi global serta potensi perlambatan ekonomi di berbagai negara.

Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan rupiah memang berkaitan erat dengan kekhawatiran pasar terhadap dampak kenaikan harga minyak mentah terhadap stabilitas ekonomi global.

“Sentimen risk off memburuk karena harga minyak mentah yang melewati 100 dolar AS per barel, yang dikhawatirkan akan membawa dampak besar pada ekonomi global dan inflasi,” ujarnya.

Di tengah volatilitas pasar yang masih tinggi ini, pergerakan rupiah diperkirakan akan tetap berada di dalam tekanan untuk jangka pendek. Lukman memperkirakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini akan bergerak di kisaran Rp16.900 hingga Rp17.050 per dolar AS.

Rentang tersebut mencerminkan tingginya ketidakpastian pasar akibat faktor eksternal yang masih mendominasi. Pergerakan rupiah dalam beberapa waktu ke depan diperkirakan akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan konflik geopolitik global, dinamika harga minyak, serta sentimen investor di pasar keuangan internasional.

Laporan: Nobertus | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Dua Prajurit TNI Penyiram Air Keras Batal Dipecat, Menteri Pigai Dorong Pengacara Andrie Yunus Ajukan Kasasi
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Hak Asasi Manusia (HAM) Natalius Pigai…
Perkuat Operasi Terpadu Karhutla Kalbar, Kemenhut Gelontorkan DAK Rp5,5 Miliar
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Pemerintah menyiapkan dukungan Dana Alokasi Khusus (DAK)…
Jaga Stabilitas Harga, Bulog Pasok 110 Ribu Ton Beras ke Pasar dan Ritel Modern
JAKARTA, PRANUSA.ID — Perum Bulog menyiapakan pasokan sebanyak 110.000 ton…
AJMAN Kalbar Sebut Penanganan Kabut Asap Harus Berfokus pada Keselamatan dan Aktivitas Warga
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Ketua Pengurus Daerah (PD) Asosiasi Jurnalis Masyarakat…
Kabut Asap Meluas dan Lumpuhkan Aktivitas, AMAN Kalbar Desak Pemerintah Tetapkan Status Bencana Nasional
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Dampak bencana kabut asap akibat kebakaran hutan…