Hadirkan Dandhy Laksono di Perayaan HUT ke-42, GKJ Condong Catur Gelar Diskusi Publik “Reset Indonesia”

pranusa.id July 31, 2026

YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Gereja Kristen Jawa (GKJ) Condong Catur menyelenggarakan diskusi publik bertajuk “Udarasa Kawula Alit: Indonesia Baru Mimpi Kali Ye?” dengan menghadirkan jurnalis sekaligus penulis buku Reset Indonesia, Dandhy Laksono, Kamis (30/7/2026).

Kegiatan intelektual yang merupakan bagian dari rangkaian perayaan HUT ke-42 GKJ Condong Catur tersebut bertempat di ruang utama ibadah gereja dan dihadiri oleh ratusan jemaat serta masyarakat umum.

Acara yang dimulai pukul 18.00 WIB tersebut dibuka secara resmi oleh panitia pelaksana, dilanjutkan dengan penampilan musik dari pemuda gereja yang membawakan lagu nasional Rayuan Pulau Kelapa dan Ibu Pertiwi.

Sesi diskusi dipandu oleh Sovia, mahasiswi Fakultas Filsafat UGM, yang bertindak sebagai moderator untuk mengarahkan jalannya dialog interaktif bersama narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dandhy Laksono mengupas konsep “Indonesia Baru” yang dirumuskan oleh para jurnalis lintas generasi melalui penjelajahan keliling nusantara untuk merekam realitas penurunan kualitas lingkungan hidup.

Ia mencontohkan paradoks kekayaan alam Indonesia, di mana air mineral yang seharusnya dapat dinikmati rakyat secara gratis justru dikuasai oleh korporasi.

“Sederhananya Indonesia adalah negara yang kaya, dari kekayaan itu bumi Indonesia menghasilkan air mineral yang seharusnya dapat diminum langsung oleh rakyat Indonesia, kenyataannya korporasi mengambil alih sektor ini dengan menciptakan perusahaan air minum raksasa sehingga rakyat Indonesia pada umumnya untuk minum harus membayar kepada pihak korporasi,” jelas Dandhy.

Melalui penayangan tiga trailer film dokumenter perjalanannya, Dandhy membedah persoalan industri ekstraktivisme, krisis kesejahteraan petani, hingga komersialisasi sektor pariwisata di berbagai daerah.

Terkait isu transisi energi, ia menyoroti bahwa masifnya produksi kendaraan listrik dan penambangan nikel di berbagai wilayah justru menimbulkan pencemaran lingkungan yang parah dari Sulawesi hingga Raja Ampat.

Sementara itu, sektor pertanian nasional dihadapkan pada tekanan alih fungsi lahan serta keluhan langsung dari para petani mengenai masa depan regenerasi pertanian yang semakin terjepit.

“Sesuk ojo koyo bapak yo le,” ujar Dandhy menceritakan seorang petani untuk menggambarkan nasib lahannya yang sudah tidak menjanjikan lagi bagi masa depan anak-anaknya.

Dandhy juga memaparkan fenomena enam “Bonanza” atau sumber keuntungan besar di Indonesia yang sayangnya lebih banyak dinikmati oleh kelompok oligarki alih-alih menyejahterakan rakyat secara merata.

Menutup rangkaian diskusi yang berakhir pukul 20.30 WIB tersebut, Dandhy menitipkan harapan besar agar institusi keagamaan, khususnya gereja, mampu mengambil peran aktif dalam menciptakan ruang publik yang kritis terhadap kebijakan negara dan ketidakadilan sosial.

Laporan: Angga R. N | Editor: Arya

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Menkeu Purbaya Siapkan Tambahan Anggaran Daerah, Pengumuman Resmi Menunggu Restu Kepala Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah pusat telah selesai menghitung kebutuhan tambahan…
Pemerintah Integrasikan Program MBG dan Koperasi Desa untuk Bangun Ekosistem Pangan dari Tingkat Akar Rumput
BLORA, PRANUSA.ID — Pemerintah terus mematangkan langkah integrasi antara Program…
Mensesneg Prasetyo Hadi Tegaskan Kenaikan Tukin Juga Sasar Guru, Dosen, dan Nakes di Wilayah 3T
JAKARTA, PRANUSA.ID — Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan…
Tegaskan Komitmen Politik Nonblok, Prabowo: Indonesia Ingin Jadi Tetangga yang Baik bagi Semua Negara
JAKARTA, PRANUSA.ID — Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, kembali menegaskan…
Pemutaran Perdana Film MAJU di Yogyakarta: Kisah Perjuangan Guru dan Murid Bongkar Sindikat Gelap Lewat Pramuka
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Pemutaran perdana (gala premiere) film anak bertajuk…