Hina DPR Terancam 2 Tahun Penjara, Said Didu: Kalau Rakyat Bersatu Tak Pilih DPR?

pranusa.id June 8, 2021

 

Ilustrasi DPR. (Tribun)

PRANUSA.ID — Draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) belakangan menjadi sorotan sejak disosialisasikan pemerintah melalui Kemenkumham ke berbagai daerah.

Salah satu delik yang menjadi perbincangan diatur dalam Bab IX draf RUU KUHP tentang Tindak Pidana Terhadap kekuasaan Umum dan Lembaga Negara.

Pasalnya, delik tersebut mengatur soal seseorang yang menghina lembaga Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) bisa terancam hukuman pidana dua tahun penjara.

Mantan Sekretaris Kementerian BUMN, Muhammad Said Didu lantas menyindir peran lembaga DPR sebagai wakil rakyat.

“Wakil rakyat menghukum rakyat?” kata Said Didu melalui akun Twitter pribadinya seperti dikutip Pranusa.ID, Selasa (8/6/2021).

“Bagaimana kalau rakyat bersatu tidak memilih anggota DPR?” sindir dia.

Diketahui, Pasal 353 dan 354 RUU KUHP mengatur setiap orang yang melakukan penghinaan terhadap lembaga negara akan terancam hukuman pidana penjara.

Hanya saja, Pasal 353 tidak mengatur soal penghinaan yang dilakukan melalui sarana teknologi atau media sosial sehingga mendapat hukuman yang lebih ringan.

Berikut bunyi Pasal 353 yang dimaksud:

(1) Setiap orang yang di muka umum dengan lisan atau tulisan menghina kekuasaan umum atau lembaga negara dipidana dengan pidana penjara paling lama 1 (satu) tahun 6 (enam) bulan atau pidana denda paling banyak kategori II.

(2) Dalam hal perbuatan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) mengakibatkan kerusuhan dalam masyarakat dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun atau pidana denda paling banyak kategori III.

(3) Tindak pidana sebagaimana dimaksud pada ayat (1) hanya dapat dituntut berdasarkan aduan pihak yang dihina.

Sementara itu, Pasal 354 mengatur soal penghinaan yang dilakukan terhadap lembaga negara melalui sarana teknologi atau media sosial dengan maksud diketahui umum diancam hukuman dua tahun penjara.

Setiap orang yang menyiarkan, mempertunjukkan, atau menempelkan tulisan atau gambar atau memperdengarkan rekaman, atau menyebarluaskan melalui sarana teknologi informasi yang berisi penghinaan terhadap kekuasaan umum atau lembaga negara, dengan maksud agar isi penghinaan tersebut diketahui atau lebih diketahui oleh umum dipidana dengan pidana penjara paling lama 2 (dua) tahun atau pidana denda paling banyak kategori III,” bunyi pasal tersebut.

Penulis: Jessica C. Ivanny

Editor: Bagas R. 

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Usut Dugaan Mahasiswa Titipan Jalur Mandiri Unsoed, KPK Periksa Tiga Wakil Rektor
JAKARTA, PRANUSA.ID — Praktik pungutan liar dan penipuan dalam penerimaan…
Bedah Buku di Bekasi Ungkap Akar Sejarah Panjang Solidaritas Indonesia untuk Palestina
BEKASI, PRANUSA.ID — Kepedulian bangsa Indonesia terhadap perjuangan kemerdekaan Palestina…
Sentil Praktik Perjalanan Dinas Fiktif, Gubernur Ria Norsan Peringatkan ASN Kalbar Soal Ancaman Pidana
PONTIANAK, PRANUSA.ID — Kebiasaan memotong durasi perjalanan dinas tanpa penyesuaian…
Mendagri Tito Karnavian Ungkap Kekhawatiran Penerapan E-Voting pada Pemilu di Indonesia
JAKARTA, PRANUSA.ID — Pemerintah menegaskan bahwa rencana penggunaan sistem pemungutan…
Candaan Purbaya Usai Dicopot dari Menkeu: Mau Mancing di Belakang Rumah Sambil Ngelamun, “Kenapa Dipecat?”
JAKARTA, PRANUSA.ID — Mantan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bergurau…