
JAMBI – Dugaan pengeroyokan terhadap seorang guru Bahasa Inggris bernama Agus Saputra oleh sejumlah siswa terjadi di SMK Negeri 3 Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi.
Insiden ini mengakibatkan korban mengalami luka memar di bagian tubuh dan wajah. Hingga Minggu (18/1/2026), belum ada laporan resmi kepolisian, namun peristiwa ini memunculkan dua versi kronologi yang berbeda dari pihak siswa dan guru.
Versi Siswa: Mengaku Dipukul Lebih Dulu
Salah seorang siswa berinisial MLF, yang terlibat dalam insiden tersebut, memberikan keterangan pada Sabtu (17/1/2026). Ia menyebut ketegangan bermula saat kondisi kelas gaduh jelang akhir pelajaran. Saat itu, Agus Saputra disebut masuk ke kelas tanpa permisi untuk mencari siswa yang berteriak.
MLF mengaku maju ke depan kelas untuk mengakui bahwa ia yang berteriak meminta teman-temannya diam. Namun, ia mengklaim langsung menerima tamparan dari sang guru. Ketegangan berlanjut hingga ke ruang kantor, di mana MLF mengaku kembali dipukul di bagian hidung.
“Pas dia tinju itu, kawan-kawan saya lihat semua. Kalau tidak ada tinju itu, tidak ada pengeroyokan,” ujar MLF. Ia menegaskan aksi pengeroyokan yang dilakukan teman-temannya merupakan reaksi spontan atas tindakan fisik yang dilakukan guru tersebut.
Versi Guru: Berawal dari Tindakan Tidak Sopan
Di sisi lain, Agus Saputra melalui pernyataannya pada Kamis (15/1/2026), menjelaskan bahwa kejadian dipicu oleh perilaku siswa yang meneriakkan kata-kata tidak pantas saat jam pelajaran. Ia kemudian mendatangi kelas sumber suara untuk menegur.
Agus tidak menampik adanya kontak fisik, namun ia menyebutnya sebagai tindakan refleks karena situasi yang memanas. “Itu refleks, satu kali tamparan. Itu awal kejadiannya,” jelas Agus.
Ia juga membantah tuduhan telah menghina siswa dengan sebutan “miskin”. Menurutnya, kalimat yang dilontarkan konteksnya adalah motivasi agar siswa menjaga perilaku.
Mediasi Gagal
Pihak sekolah sempat memfasilitasi mediasi antara guru dan siswa. Namun, upaya tersebut gagal mencapai kesepakatan damai karena siswa menuntut guru meminta maaf, sementara Agus menawarkan opsi petisi jika siswa tidak ingin diajar olehnya.
Situasi kembali memanas saat jam istirahat, di mana aksi solidaritas siswa berujung pada tindakan fisik dan pelemparan batu terhadap Agus.
Kendati menjadi korban pengeroyokan, Agus mengaku masih mempertimbangkan dampak psikologis dan masa depan para siswa sebelum memutuskan untuk menempuh jalur hukum secara resmi.
Laporan: Judirho | Editor: Kristoforus