Kisah Pilu Penyintas Gempa Flores di Wolowaru: Mengungsi di Tenda Seadanya Bersama Bayi Berusia Satu Bulan

pranusa.id August 29, 2026

ENDE, PRANUSA.ID — Bencana alam gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Pulau Flores pada Sabtu (15/8/2026) menyisakan penderitaan mendalam bagi para penyintas di Kabupaten Ende, Nusa Tenggara Timur.

Di antara banyaknya warga yang terpaksa mengungsi di tenda mandiri halaman rumah, seorang bayi laki-laki yang masih berusia satu bulan harus bertahan di dalam tenda darurat di Dusun Tiros, Desa Rindiwawo, Kecamatan Wolowaru, Kabupaten Ende.

Saat ditemui tim media di lokasi pengungsian pada Jumat (28/8/2026), bayi dari ibu bernama Anisa Muhammad tersebut tampak tertidur dalam gendongan sang nenek dengan balutan kain seadanya di bawah tenda berbahan terpal yang sudah tidak layak pakai.

Anisa mengungkapkan bahwa keluarganya terpaksa tinggal di tenda darurat sejak hari pertama gempa lantaran kondisi rumah mereka mengalami retak-retak dan dibayangi rasa trauma akan gempa susulan.

“Dari awal kejadian gempa kami tidur di tenda ini, karena rumah retak-retak dan rasa takut,” ujar Anisa.

Ia menjelaskan bahwa kondisi cuaca dingin pada malam hari menjadi ancaman tersendiri bagi kesehatan bayinya, mengingat dinding tenda hanya terbuat dari lembaran terpal tipis.

“Kalau sudah malam cuaca dingin di sini, kami paling berusaha untuk jaga ade bayi takut kedinginan, apalagi tenda hanya dengan terpal,” tambah Anisa.

Meski secara umum bayi tersebut terlihat sehat, hasil pemantauan di lokasi menunjukkan munculnya bintik-bintik kemerahan di sekitar pipi bayi yang belum diketahui pasti penyebab medisnya.

Sambil menahan haru, Anisa berharap adanya perhatian dan uluran tangan dari berbagai pihak untuk membantu memberikan bantuan yang mendesak bagi keluarganya.

“Kami minta tolong bantu tenda yang layak, sembako, dengan perlengkapan bayi untuk kami. Sudah mau dua minggu kami hanya begini saja bertahan di tenda,” tuturnya.

Hingga Jumat (28/8/2026), bantuan yang baru pertama kali menyentuh lokasi pengungsian tersebut datang dari Direktur Eksekutif Intelligence and National Security Studies (INSS), Dr. Stepi Anriani, M.Si., berupa paket sembako, alat edukasi, dan selimut.

Masyarakat berharap pemerintah daerah maupun berbagai lembaga kemanusiaan dapat segera menyalurkan bantuan tambahan guna meringankan beban para korban terdampak bencana di wilayah tersebut.

Laporan: Marsianus | Editor: Michael

a34a305b-0230-41ea-a533-3e9cf5b7fbca
Berita Lainnya
2 Tahun Pemerintahan Prabowo Gibran, Mahasiswa Adakan Aksi Demonstrasi di DPRD Kota Yogyakarta
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Ribuan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di…
Memasuki Masa Pemulihan Gempa Flores, Julie Sutrisno Laiskodat Salurkan 100 Paket Sembako di Ende
ENDE, PRANUSA.ID — Anggota DPR RI dari Fraksi Partai NasDem…
BPA Brokers Dorong Perusahaan Jadikan Dana Pensiun sebagai Strategi Jangka Panjang Sejahterakan Karyawan
JAKARTA, PRANUSA.ID — Di tengah ketatnya persaingan merebut talenta terbaik,…
Aksi di Patung Selamat Datang, Greenpeace Indonesia Soroti Dampak Krisis Iklim Dua Tahun Prabowo-Gibran
JAKARTA, PRANUSA.ID — Sejumlah aktivis Greenpeace Indonesia menggelar aksi damai…
PT BCTC Buka Suara Soal Tuntutan Ganti Rugi, Sebut Tidak Mengabaikan Hak Pemilik Lahan
ENDE, PRANUSA.ID — Pihak kontraktor pelaksana PT Bina Citra Teknik…