
YOGYAKARTA, PRANUSA.ID — Kawasan wisata Malioboro hingga Titik Nol Kilometer Yogyakarta dipadati gelombang massa aksi dari aliansi mahasiswa yang tergabung dalam Forum BEM se-DIY pada Kamis (27/8/2026).
Ratusan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Daerah Istimewa Yogyakarta menggelar demonstrasi simpatik dan konstruktif yang dimulai dari depan Gedung DPRD DIY hingga bergerak menuju Titik Nol Kilometer sejak pukul 12.00 WIB.
Aksi yang mengusung tajuk utama “Dijajah Sentralistik, Bangun Persatuan Rebut Daulat Rakyat” tersebut bertujuan menyampaikan keresahan publik terkait arah kebijakan nasional yang dinilai semakin terpusat serta kerap mengabaikan kedaulatan masyarakat daerah.
Berdasarkan siaran pers serta unggahan resmi pernyataan sikap di akun Instagram Forum BEM se-DIY (@forumbemsediy), massa menggarisbawahi sejumlah persoalan struktural dan mengajukan lima tuntutan utama kepada pemerintah pusat dan legislatif.
Tuntutan tersebut mencakup desakan pengesahan RUU Perampasan Aset Tindak Pidana agar tidak sekadar menjadi dokumen terparkir di DPR, penguatan otonomi daerah dan desentralisasi fiskal, penolakan penetrasi militerisme di ruang sipil, hingga jaminan pendidikan gratis serta percepatan pengesahan RUU Masyarakat Adat.
Selain itu, Forum BEM se-DIY mendesak dilakukannya reformasi kelembagaan secara total, khususnya pada tubuh penegak hukum, penataan birokrasi, serta dorongan transparansi internal partai politik.
Dalam orasinya di depan Gedung DPRD DIY, Koordinator Aksi Forum BEM DIY yang juga menjabat sebagai Presiden Mahasiswa Unaya, Faturrahman Djaguna, menekankan krusialnya pengesahan regulasi antikorupsi dan pengembalian hak-hak sipil masyarakat.
“Maka inilah yang menjadi dorongan kami untuk mempercepat pembahasan dan pengesahan Undang-Undang Perampasan Aset agar tidak jadi dokumen yang terparkir di DPR. Kepolisian harus kembali pada hakikatnya sebagai institusi sipil yang bekerja untuk hukum dan rakyat,” tegas Faturrahman Djaguna.
Faturrahman juga menyoroti urgensi pemulihan otonomi daerah yang dinilai mengalami pelemahan akibat sentralisasi kebijakan, serta perlunya pembenahan di tubuh kepolisian.
“Kita menuntut reformasi total Polri karena pengamatan kami di Forum BEM DIY melihat situasi kondisi hari ini bahwa Polri lagi-lagi punya kelemahan dan reformasi Polri yang kemarin itu belum sepenuhnya mengakar. Nah, ini yang perlu kita dorong untuk memperkuat desentralisasi otonomi daerah itu sendiri,” tambahnya.
Sepanjang perhelatan aksi, massa menyuarakan aspirasi melalui orasi politik, pembacaan puisi kebudayaan, hingga penyerahan lembar tuntutan resmi kepada perwakilan DPRD DIY untuk diteruskan ke DPR RI.
Aksi unjuk rasa tersebut berlangsung aman, tertib, dan kondusif di bawah pengawalan jajaran Kepolisian Daerah (Polda) DIY, sehingga arus lalu lintas dan aktivitas masyarakat di kawasan wisata Malioboro tetap berjalan lancar.
Laporan: Rawlins Kenheta | Editor: Arya