PAN ke Partai Ummat: Isu SARA Tak Boleh Masuk dalam Permainan Politik

pranusa.id April 19, 2023

PRANUSA.ID — Juru Bicara Partai Ummat Mustofa Nahrawardaya atau Tofa mengatakan bahwa saat ini bukan zamannya lagi untuk menakuti orang dengan isu politik identitas.

Hal itu disampaikannya menanggapi PAN yang bicara politik identitas soal Partai Ummat yang buka peluang mendukung Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto jika Anies Baswedan gagal nyapres.

Menurut Tofa, banyak yang salah kaprah memandang politik identitas dan selalu mengaitkannya dengan isu radikalisme, terorisme bahkan intoleransi.

“Itu semua omong kosong, mau identitas wong cilik, identitas nasionalis, identitas religius, identitas agama. Bahkan mau ganti identitas pun boleh. Ada partai religius, nggak pede, lalu ganti identitas menjadi partai nasionalis. Padahal dulunya mereka hidup di partai religius, boleh. Tak ada yang melarang,” kata Tofa, Minggu (16/4).

Menanggapi pernyataan Jubir Partai Ummat tersebut, Wakil Ketua Umum PAN Viva Yoga Mauladi mengatakan harus ada kejelasan makna politik identitas yang dimaksud.

“Jika ada partai politik mengkampanyekan politik identitas, ya terserah saja. Itu rumah tangga partai lain. Saya tidak mengurusi. Cuma perlu kejelasan tentang terminologi, konsep, dan perspektif dari politik identitas itu karena istilah politik identitas saat ini telah ditafsirkan secara beragam oleh publik sehingga memicu pro dan kontra di masyarakat,” kata Viva dalam keterangannya, Selasa (18/4/2023).

Menurutnya, politik identitas adalah cara berpolitik yang menggunakan, memanfaatkan, dan mengeksplorasi identitas berdasarkan suku, agama, ras/etnis, antar golongan masyarakat (SARA) sebagai alat politik dan dimasukkan ke dalam turbulensi politik untuk meningkatkan elektoral figur atau lembaga politik.

“Kalau identitas kartu tanda penduduk, identitas agama, alamat, ya itu tidak dalam konteks politik identitas yang berbasis SARA,” ujar Viva.

Ia pun menegaskan bahwa isu SARA tidak boleh dimasukkan ke permainan politik.

“Lebih baik dan bermanfaat bagi demokrasi dan kemajuan bangsa jika persoalan SARA tidak boleh dimasukkan ke dalam permainan politik,” terangnya.

Ia menilai pencegahan gerakan politik identitas bukan untuk membatasi hak politik rakyat. Lebih baik, menurutnya, jika kompetisi pemilihan umum diisi dengan perang ide dan gagasan untuk membangun peradaban Indonesia.

“Dari sisi kedaulatan pangan dari darat dan laut, konsep kemandirian ekonomi dan pemberdayaan UMKM, membangun teknologi modern, mendidik manusia yang unggul, cerdas dan berintegritas, dan topik-topik penting lainnya bagi bangsa. Harus disetop memainkan politik identitas untuk target pemenangan pemilu,” tegasnya. (*)

Penulis: Jessica C. Ivanny

Editor: Bagas R.

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Gelontorkan Rp25 Miliar untuk Rumah Dinas, Gubernur Kaltim: Biar Enggak Nginap di Hotel
JAKARTA, PRANUSA.ID – Gubernur Provinsi Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, membenarkan…
Banjir Bandang Susulan Terjang Aceh Tengah, Dua Jembatan Darurat Ambruk dan Lima Desa Terisolasi
TAKENGON, PRANUSA.ID – Bencana banjir bandang susulan yang menerjang wilayah…
Marak Digunakan untuk Teror ke Masyarakat, Komisi III DPR RI Minta Pemerintah Batasi Penjualan Air Keras
JAKARTA, PRANUSA.ID – Anggota Komisi III DPR RI, Abdullah, mendesak…
Gelombang Serangan ke-98, IRGC Iran Klaim Hantam Kapal Israel dan Pukul Mundur USS Tripoli
TEHERAN, PRANUSA.ID – Korps Garda Revolusi Islam atau Islamic Revolution…
Eks Wamenaker Noel Peringatkan PDIP Sedang Diburu ‘Anjing Liar’
JAKARTA, PRANUSA.ID – Mantan Wakil Menteri Ketenagakerjaan (Wamenaker), Immanuel Ebenezer…
IMG-20260404-WA0015
IMG-20260402-WA0019
IMG-20260404-WA0019