Pendiri Sirah Community Soroti Kesalahan Penerjemahan Kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum yang Distorsi Sejarah Nabi

pranusa.id July 29, 2026

CIPUTAT, PRANUSA.ID — Pendiri Sirah Community Indonesia, Ustaz Asep Sobari, mengungkapkan adanya sejumlah distorsi terjemahan dalam beberapa edisi cetak kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum di Indonesia. Kesalahan alih bahasa tersebut dinilai berpotensi mendistorsi konstruksi mental serta gambaran umat Islam terhadap sosok dan perjuangan Nabi Muhammad SAW.

Pernyataan tegas itu disampaikan dalam Simposium Sejarah Islam bertajuk “Menulis Ulang Sejarah Islam, Sumber, Jaringan dan Perubahan Sosial” yang digelar di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (28/7/2026).

Dalam artikel penelitiannya yang berjudul Kesalahpahaman Sirah Nabawiyah: Kesalahan Penerjemahan dalam Buku Sirah Ar-Rahiq al-Makhtum pada Beberapa Edisi Cetak Indonesia Suatu Analisis Kritis Terhadap Kualitas Alih Wahana Teks Historiografi Islam, Ust Asep memaparkan hasil komparasi terhadap lima buku terjemahan populer dari penerbit besar di Indonesia, yakni Al-Kautsar, Ummul Quro, Darul Haq, Qisthi Press, dan Gema Insani.

Ia menjelaskan bahwa kesalahan linguistik dalam literatur sejarah bukan sekadar masalah teknis kebahasaan, melainkan berisiko menghilangkan ruh sejarah itu sendiri. Sebagai contoh, ia menyoroti penerjemahan istilah Syi’b Abi Thalib (lembah atau celah bukit) yang diterjemahkan menjadi “perkampungan” pada beberapa penerbit besar.

“Jika penderitaan fisik para sahabat saat diboikot digambarkan terjadi di sebuah perkampungan yang terkesan nyaman, maka empati sejarah dan pemahaman pembaca terhadap beratnya perjuangan Rasulullah akan luntur,” ungkapnya.

Melalui pendekatan analisis kontrastif dan kritik teks, penelitian tersebut juga menemukan kesalahan leksikal-semantis yang fatal. Di antaranya frasa sala jazurin yang seharusnya berarti “jeroan unta” justru diterjemahkan menjadi “kotoran unta”, serta kesalahan penulisan identitas kabilah Bani Salimah yang secara seragam ditulis menjadi Bani Salamah dalam seluruh kitab terjemahan edisi Indonesia.

Ust Asep menegaskan bahwa tanpa akurasi filologis yang ketat, wibawa ilmiah kitab sirah sebagai referensi otoritatif dikhawatirkan merosot sekadar menjadi bacaan populer yang tidak presisi.

Laporan: Fajar | Editor: Arya

d5d9ce62-e163-481c-9d70-fed5c6a18bfb
f9874c50-6a04-4828-8466-e86c279d0462
466ab043-60be-4d82-9a97-1592154ed54f
Berita Lainnya
Buka Program Dasa Cita di TTU, Gubernur Melki Laka Lena Dorong Hilirisasi Tenun NTT
TIMOR TENGAH UTARA, PRANUSA.ID — Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT)…
Sempat Dipenjara karena Kasus Ijazah Jokowi, Gus Nur Ajukan Gugatan Rp4,2 Miliar ke Negara
SOLO, PRANUSA.ID — Mantan terpidana kasus penyebaran berita bohong dan…
Sebut Pendidikan Gratis Bukan Hal Mustahil, PDIP: Syaratnya Bubarkan MBG dan Kopdes
JAKARTA, PRANUSA.ID — PDI Perjuangan (PDIP) menyambut baik wacana Presiden…
Atasi Kekeringan di Gunungkidul, Pemuda Katolik Komda DIY Salurkan 17 Tangki Air Bersih
GUNUNGKIDUL, PRANUSA.ID — Pemuda Katolik Komda DIY melalui Satgas Pesona…
Gelar Pemutaran Film Dokumenter di Bantul, Aktivis dan Mahasiswa Mengingat Kembali Prahara Agustus 2025
BANTUL, PRANUSA.ID — Sejumlah organisasi kemahasiswaan dan jaringan masyarakat sipil…