
CIPUTAT, PRANUSA.ID — Simposium Sejarah Islam bertajuk “Penulisan Ulang Sejarah Islam, Sumber, Jaringan dan Perubahan Sosial” yang digelar di Fakultas Adab dan Humaniora (FAH) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Selasa (28/7/2026), menjadi forum penting untuk mengungkap krisis akurasi filologis pada terjemahan kitab Sirah Nabawiyah di Indonesia.
Acara ini dihadiri oleh sejumlah tokoh penting, di antaranya Dekan FAH UIN Jakarta Dr. Ade Abdul Hak, serta pejabat dari Kementerian Kebudayaan RI yakni Dr. Restu Gunawan, M.Hum. (Direktorat Jenderal Pelestarian Budaya dan Tradisi) dan Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum. (Direktur Kesejarahan dan Permuseuman). Kehadiran para pembuat kebijakan ini menegaskan urgensi temuan tersebut bagi masa depan historiografi Islam nasional.
Dalam simposium tersebut, tim peneliti dari Sirah Community Indonesia memaparkan temuan fatal berupa reproduksi kesalahan penerjemahan yang dilakukan secara kompak oleh sejumlah penerbit besar terhadap kitab Ar-Rahiq Al-Makhtum. Salah satu sorotan utama jatuh pada penerjemahan kalimat batalas-sihrul-yaum yang diucapkan oleh Jabalah atau Kaladah bin Al-Junaid saat Perang Hunain.
Alih-alih diterjemahkan secara akurat menjadi “telah batal sihir Muhammad hari ini”, kalimat tersebut justru dialihbahasakan menjadi “pahlawan waktu sahur adalah hari ini”. Ironisnya, kesalahan terjemahan serupa ditemukan secara identik pada tiga edisi terbitan berbeda.
Ketiga penerbit tersebut meliputi Pustaka Al-Kautsar pada cetakan ketiga puluh empat tahun 2011 halaman 490, penerbit Ummul Quro pada cetakan ketiga belas tahun 2018 halaman 738, serta edisi terbitan Qisthi Press tahun 2014 halaman 480. Fenomena ini menunjukkan adanya praktik reproduksi kesalahan lintas penerbit tanpa melalui proses kritik teks terhadap naskah asli bahasa Arab.
“Di satu sisi, sebagai pengkaji dan pecinta Sirah Nabawiyah kita berharap bahwa kesalahan penerjemahan dalam buku-buku penting seperti Ar-Rahiq Al-Makhtum terjadi seminimal mungkin. Namun di sisi lain, kesalahan penerjemahan di satu tempat atau frase tertentu, sayangnya, terjadi berulangkali, sehingga penulis bertanya, mengapa satu kesalahan yang sama direproduksi secara bersamaan oleh sejumlah penerbit yang berbeda?” ujar Ustaz Asep Sobari yang telah berkecimpung dalam pengajaran Sirah Nabawiyah selama 30 tahun terakhir.
Melalui simposium ini, para akademisi menyimpulkan bahwa penguatan aspek filologi bagi para penerjemah dan penerbit sangat krusial. Langkah tersebut diperlukan agar pesan otoritatif karya asli tidak terdistorsi, sekaligus menjadi fondasi penting dalam upaya menulis ulang sejarah Islam yang lebih akurat dan ilmiah di Indonesia.
Laporan: Fajar | Editor: Arya