
SLEMAN, PRANUSA.ID — Kompleks SMA Kolese De Britto Yogyakarta di Jalan Laksda Adisucipto, Depok, Sleman, bertransformasi menjadi ruang publik kota dalam penyelenggaraan Urban Social Forum (USF) 12 pada Sabtu (29/8/2026).
Mengusung tema utama “Another City is Possible!”, USF 12 menjadi wadah perjumpaan warga, komunitas, anak muda, akademisi, praktisi, hingga seniman untuk mendiskusikan gagasan alternatif mengenai pembangunan kota yang manusiawi, adil, berkelanjutan, dan demokratis.
Rangkaian acara yang berlangsung dari pukul 09.00 hingga 18.00 WIB ini diisi dengan diskusi pleno, lokakarya, pertunjukan seni, pameran komunitas, hingga simulasi interaktif yang mengajak peserta menyelami langsung dinamika kehidupan perkotaan.
Acara diawali dengan registrasi dan penampilan seni dari Gangsa Kukila, yang dilanjutkan dengan sambutan Sekretaris Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertaru) Pemda Sleman, Irene Riana Pramudiwati, yang hadir mewakili Bupati Sleman.
Irene menekankan pentingnya membaca persoalan kota melalui sudut pandang warga yang beragam agar kebijakan publik dapat dibangun secara adil dan inklusif.
“Kita tidak bisa memahami persoalan kota hanya dari satu sudut pandang. Kota yang sama dapat dirasakan secara berbeda oleh pejalan kaki, pengguna kursi roda, anak-anak, lansia, pekerja, pedagang kecil, perempuan, maupun kelompok masyarakat lainnya,” ujar Irene.
Rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan pleno pembuka bertajuk “Raumum: Menyulam Ruang Publik dan Praktik Kewargaan di Kota”. Diskusi ini menegaskan bahwa kota bukan sekadar deretan gedung dan fasilitas ekonomi, melainkan ruang hidup sosial bagi manusia.
Sejumlah diskusi panel, lokakarya, dan program edukasi yang diangkat dalam USF 12 antara lain “Mendidik Siswa, Membentuk Warga,” “Bijak Ber-AI,” “Membangun Pulang yang Teduh,” “Masa Depan Advokasi Anggaran Publik,” “Urun Suara untuk Kota,” “Beyond Sidewalk,” simulasi penggunaan kursi roda, hingga Workshop Zine Zan Zun.
Direktur Eksekutif Kota Kita, Ahmad Rifai, menegaskan bahwa penataan infrastruktur fisik harus berjalan seiring dengan pembangunan kapasitas warganya.
“Membangun kota tidak cukup hanya dengan membangun fisiknya, jalan, gedung, trotoar, taman, dan berbagai infrastrukturnya. Kota pada akhirnya adalah ruang hidup manusia. Karena itu, membangun kota juga berarti membangun manusianya,” jelas Ahmad Rifai.
Sementara itu, Kepala SMA Kolese De Britto, Robertus Arifin Nugroho, S.Si., M.Pd., menyampaikan rasa bangganya karena lingkungan sekolah dapat difungsikan sebagai wadah pembelajaran kewargaan bagi para siswa dan masyarakat umum.
“Kami memandang sekolah bukan hanya sebagai tempat berlangsungnya proses pembelajaran di dalam kelas, tetapi juga sebagai ruang untuk belajar menjadi warga,” tutur Robertus.
Guna memastikan aksesibilitas bagi seluruh kalangan, penyelenggara USF 12 turut menyediakan layanan juru bahasa isyarat di sepanjang acara. Rangkaian perhelatan ini ditutup dengan sesi pleno akhir serta pertunjukan seni musik dari Majelis Lidah Berduri dan 1948 Collective.
Laporan: Chr. Danang W.P | Editor: Michael