Soal Isu Reshuffle Kabinet, Fadli Zon: Saya Tidak Mungkin Jadi Menteri

pranusa.id April 24, 2021

Foto Fadli Zon. (RakyatCirebon.id)

PRANUSA.ID– Waketum Gerindra Fadli Zon ikut bersuara soal isu reshuffle kabinet yang saat ini tengah bergulir. Dia mempertanyakan alasan Presiden Jokowi melakukan reshuffle kabinet dalam waktu yang berdekatan dengan reshuffle yang baru dilakukan pada bulan Desember 2020. 

Menurutnya reshuffle yang sangat berdekatan justru akan memunculkan pertanyaan dari berbagai pihak.

“Sebenarnya reshuffle baru dilakukan pada bulan Desember lalu ya hari Rabu. Nah itu kan baru beberapa bulan apakah ada sesuatu yang salah dalam jangka waktu yang sangat pendek dalam waktu hanya waktu april-mei ini masih kurang dari 6 bulan,” kata Fadli dalam diskusi ‘Jangan Pegel Nunggu Reshuffle’, Sabtu (24/5).

Saat ditanya terkait peluang dirinya menjadi menteri Jokowi, Fadli mengatakan hal itu tak mungkin terjadi. Sebab, dirinya sudah dianggap sebagai tukang kritik dan tidak mempunyai niatan untuk duduk di kursi menteri. 

“Enggaklah. Enggak mungkin. Saya ini kan dianggap tukang kritik, mungkin terlintas pun tidak. Saya enggak pernah ada niatan sama sekali,” ujarnya.

Fadli tidak ingin berandai-andai jika suatu saat Ketum Prabowo Subianto menugaskannya masuk ke dalam kabinet Jokowi.

“Enggaklah. Saya kira enggak usah berandai-andai,” ucapnya.

Fadli pun menuturkan lebih baik Jokowi memilih orang yang terbaik di bidang yang dibutuhkan. Menurutnya, semakin mumpuni calon menteri, maka pekerjaan Jokowi semakin mudah.

“Lebih baik cari orang-orang terbaik di bidangnya itu yang menurut saya penting. Menteri ini kan pembantu Presiden, makin banyak orang profesional di bidangnya maka kerja Presiden semakin mudah. Makin banyak yang coba-coba itu akan menjadi beban bagi Presiden,” jelasnya.

Oleh karena itu, menurut Fadli, Jokowi seharusnya melakukan reshuffle secara holistik dengan satu tim yang memiliki kredibilitas. Di tengah pandemi, ia berharap Jokowi juga mengambil keputusan dengan matang.

“Kalau mau melakukan reshuffle, lakukan dengan radikal dalam arti memang secara holistik dengan satu tim yang benar-benar punya kredibilitas dan mengerti apa yang mesti dilakukan, membaca, dan mediagnosanya itu benar ibaratnya benar, dari jauh saja kelihatan, misalnya ini obatnya ini,” pungkasnya. 

 

Laporan: Bagas R

Editor: Jessica C. Ivanny

Rekomendasi untuk Anda
Berita Lainnya
Menteri HAM Natalius Pigai Bantah Keterlibatan Pemerintah dalam Teror Ketua BEM UGM
JAKARTA – Menteri Hak Asasi Manusia (HAM), Natalius Pigai, secara…
Negosiasi Sukses: Ekspor Sawit, Tekstil, hingga Semikonduktor RI ke AS Kini Kena Tarif Nol Persen
WASHINGTON D.C. – Pemerintah Republik Indonesia dan Amerika Serikat (AS)…
Laku Rp6,5 Miliar, Lukisan “Kuda Api” SBY Dibeli Orang Terkaya Kedua di Indonesia
JAKARTA – Sebuah lukisan karya Presiden ke-6 RI, Susilo Bambang…
Membentuk Karakter Kuat, Melahirkan Generasi Hebat
KOLOM— Di tengah derasnya arus globalisasi dan transformasi digital, Generasi…
Menlu Sugiono Tegaskan DK PBB dan Board of Peace Harus Bersinergi Wujudkan Perdamaian Gaza
NEW YORK – Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Sugiono, secara…
WhatsApp Image 2026-02-09 at 10.45.26